Mengoptimalkan Pemanfaatan Pompa Hidram yang Hemat Energi untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Masyarakat
Sep 19, 2013
Tenaga Mikrohidro untuk Desa Mandiri Energi
Sep 23, 2013

Mikroalga Sebagai Alternatif Bahan Baku Biodisel Sumber Energi Terbarukan yang Ramah Lingkungan

83e6a1f447

Sumber ilustrasi: http://www.e-energymarket.com/typo3temp/pics/83e6a1f447.jpg

Mikroalga dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak menarik perhatian sebagai sumber produksi biofuel, seperti metana, biodiesel, dan biohidrogen  karena harga minyak mentah yang tinggi. Mikroalga adalah organisme yang paling menjanjikan sebagai sumber biodisel untuk generasi  ketiga dengan kandungan lipid yang tinggi dapat  melebihi 80% (bk) seperti yang dilaporkan pada beberapa spesies, sedangkan kandungan lipid yang umum yaitu 20%-50%. Biodiesel dari mikroalga memiliki potensi terbesar  untuk menggantikan minyak bumi  diantara sumber energi terbarukan. Biodiesel dalam penggunaannya dapat dicampur dengan  dengan minyak diesel dengan berbagai perbandingan dan digunakan untuk mesin diesel. Akan tetapi, pengembangan biodisel umumnya membutuhkan biaya produksi  yang sangat mahal. Biaya produksi yang utama adalah untuk biaya bahan baku (minyak dan lemak) dan biaya proses produksi. Biaya bahan baku mencapai 60-70% dari total biaya produksi.

[ads1]

Saat ini, proses produksi biodiesel yang sudah kembangkan yaitu proses transesterifikasi minyak dengan komponen utama trigliserida. Transesterifikasi adalah reaksi multiple step, terdiri dari tiga langkah reversibel, dimana trigliserida diubah menjadi digliserida, digliserida kemudian dikonversi menjadi monogliserida, dan monogliserida kemudian dikonversi menjadi senyawa ester (biodiesel) dan gliserol (produk samping).

transester

Gambar 1. Proses transesterifikasi

Minyak yang dijadikan bahan baku untuk proses pembuatan biodiesel merupakan hasil  proses ekstraksi dan pemurnian. Proses ektraksi yang biasa dilakukan berupa ekstraksi secara kimia atau secara mekanik. Hasil proses ektraksi selanjutnya dilakukan pemurnian. Proses pemurnian dapat dilakukan dengan cara kimia atau dengan mekanik. Proses ektraksi maupun proses pemurnian minyak memerlukan biaya yang mahal, selain itu pada saat proses pemurnian banyak minyak yang hilang selama proses. Hasil beberapa penelitian dilaporkan minyak yang terekstrak dari mikroalga terbilang masih sangat rendah, dan apabila dilakukan proses pemurnian terlebih dahulu sebelum dikonversi ke biodiesel akan menghasilkan yield minyak yang lebih sedikit. Oleh sebab itu, maka perlu dicari alternatif proses produksi biodiesel dari mikroalga yang lebih efisien baik untuk mengurangi kehilangan minyak saat proses pemurnian maupun untuk menekan biaya produksi. Alternatif proses produksi yang dapat dilakukan salah satunya yaitu proses in situ transesterifikasi dari biomassa mikroalga. Proses transesterfikasi in situ  dilakukan untuk mengkonversi secara langsung trigliserida yang terkandung dalam mikroalga menjadi biodiesel.

[ads2]

Patmawati, S.Pi, M.Si

Wirausahawan

 

Referensi:

Chisti Y. 2007. Biodiesel from microalgae. Biotechnology Advances 25(3): 294-306.

Huang G, Chen F, Wei D, Zhang XW, Chen G. 2010. Biodiesel production by microalgal biotechnology. Appl. Energy 87: 38-46.

Orta SBV,  Lee JGM, Harvey A. 2012. Alkaline in situ transesterification of Chlorella vulgaris. Fuel 94: 44-550.

Patmawati.  2013.  Produksi Biodisel Secara Transesterifikasi In Situ dari  Mikroalga Chlamydomonas sp. dan Synechococcus sp. yang Dikultivasi dengan Media Teknis [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply