Inilah 5 Jejaring Sosial Terpopuler di Dunia!
Sep 9, 2014
Pilih Mana: Short Message Service atau Mobile Instant Messaging?
Sep 12, 2014

Menyelami Dunia Generasi Y

APA ITU GENERASI Y?

GEN X Y ZGenerasi Y, Generasi Milenial, atau yang juga disebut dengan Generasi Internet (Net-Gen/Net Generation), merupakan sebutan yang secara khusus ditujukan kepada penduduk Amerika kelahiran 1977 hingga 1997. Secara umum, sebutan ini menjadi berlaku bagi seluruh penduduk dunia dalam rentang kelahiran yang sama.

Para pendahulu Generasi Y ialah Generasi Baby Boom yang juga disebut Generasi Perang Dingin, serta Generasi Baby Bust yang lebih sering disebut Generasi X.

Generasi Baby Boom lahir pada rentang tahun 1946-1964. Saat itu, ekonomi dunia mengalami keterpurukan akibat perang. Pasca Perang Dunia II, Amerika Serikat sebagai pihak yang memenangkan peperangan menjadi jauh lebih kaya daripada bangsa lainnya. Setelah banyak kehilangan penduduk yang menjadi korban perang, banyak wanita Amerika yang hamil dan melahirkan anaknya. Muncullah istilah Baby Boom, yang kemudian menjadi sebutan bagi generasi penikmat televisi ini. Pada masa itu, televisi menjadi penemuan penting di bidang teknologi informasi yang dengan cepat menggeser peran radio.

Setelah mengalami fenomena Baby Boom, angka kelahiran di Amerika menurun drastis sehingga muncul istilah Baby Bust. Generasi ini dikenal sebagai Generasi X, istilah yang diambil dari sebuah novel karya Douglas Coupland. Generasi X merupakan orang-orang yang gigih dalam pendidikan dan pekerjaan. Mereka lahir di tengah keadaan yang cukup sulit, dimana perekonomian nasional terpuruk, dan negara-negara Timur Tengah melakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat. Generasi X ini lahir pada rentang tahun 1965-1976.

Setelah Generasi X, muncullah Generasi Y yang lahir pada rentang tahun 1977-1997. Generasi Y mengalami pesatnya perkembangan teknologi informasi, mulai dari maraknya penggunaan komputer hingga ketergantungan terhadap akses internet. Pesatnya perkembangan teknologi informasi yang dialami oleh generasi X membentuk ciri khas yang digambarkan dari kumpulan sikap dan perilaku mereka. Don Tapscott dalam buku Growing Up Digital merumuskan delapan norma generasi internet yang dapat digunakan untuk memahami bagaimana generasi ini mengubah dunia kerja, dunia niaga, pembelajaran, keluarga dan masyarakat.

8 NORMA GENERASI INTERNET

1. Kebebasan

Generasi Y menginginkan kebebasan dalam segala hal yang mereka perbuat, dari kebebasan memilih hingga kebebasan berekspresi.

Semua manusia tentu mencintai kebebasan. Namun, bagi Generasi Y, kebebasan adalah napas hidup mereka. Mereka adalah generasi yang sejak mereka lahir telah hidup di alam demokrasi. Mereka juga hidup di pasar bebas. Jangankan untuk pilihan-pilhan besar dalam hidup, untuk hal-hal sederhana seperti membeli barang, Generasi Y telah terbiasa dengan banyaknya pilihan yang ada. Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya yang kewalahan dengan banyaknya pilihan, Generasi Y tampak menikmati kebebasan yang mereka miliki dalam memilih merk produk, menentukan cara mereka berbelanja (online ataukah offline) hingga cara pembayaran (COD/pembayaran langsung/tunai, ataukah transfer via debit, kredit, dsbg). Tak lupa, Generasi Y merupakan generasi yang lekat dengan kemerdekaan berekspresi melalui beragam media. Kemunculan beragam jejaring sosial, buku harian digital (blog), dan media-media lain di era cyber memungkinkan Generasi Y menyalurkan ekspresinya secara leluasa.

2. Sentuhan Personal

Mereka senang membuat sesuatu sesuai selera (kustomisasi atau personalisasi).

Generasi Y bebas mengidentifikasi diri dan tak ragu berbicara lantang bahwa “Ini gue!”, atau melakukan sesuatu dengan “Cara gue!” serta menghindari hal-hal yang, “Nggak gue banget!”. Mereka bebas menyesuaikan dunia mereka sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Screen saver di layar laptop dapat diubah sesuai dengan foto-foto tokoh kartun kesukaan mereka. Nada dering mereka diset dengan lagu yang mencerminkan selera musik pribadi. Desain blog dapat dirancang sehingga mencerminkan karakteristik yang ingin mereka tonjolkan. Tak heran, bahwa mereka cenderung menghendaki kerja-kerja kreatif tanpa job description yang baku dan banyak terobsesi untuk dapat memperoleh penghasilan dari hobi dan keunggulan personal mereka –bukan sekadar dari kualifikasi yang ditentukan perusahaan untuk karyawannya-.

3. Penyelidikan

Mereka adalah scrutinizer yang baru | Generasi Y adalah kepo-ers sejati!

CURIOUS KIDSKetika kesulitan menemukan makna kata ‘scrutinizer’, Generasi Y tentu saja akan dengan sigap mencarinya melalui kamus digital yang mereka install di telepon genggam. Saat menemukan rumor yang terkesan janggal, Generasi Y akan dengan cepat berusaha menemukan konfirmasinya melalui internet. Kemunculan mesin pencari memuaskan hasrat ingin tahu mereka, mempermudah mereka mendapatkan informasi, sekaligus membantu mereka menjadi pengkepo sejati! Para siswa tidak akan lagi kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan trivia dari sang guru karena internet telah menyediakan beragam sumber pengetahuan. Hingga akhirnya, bisa jadi, pertanyaan tersulit saat ini ialah menemukan “apa yang tidak ada di internet?”.

4. Integritas

Mereka mencari integritas korporasi dan keterbukaan sewaktu mereka memutuskan yang akan mereka beli atau dimana mereka akan bekerja.

integrity-300x199Menurut Don Tapscott, Generasi Y peduli tentang integritas –jujur, memiliki perhatian, transparan, dan setia pada komitmen mereka. Di sisi lain, mereka juga generasi dengan toleransi yang besar sekali. Karena mudahnya akses terhadap informasi, Generasi Y tak akan begitu saja percaya terhadap iklan atau klaim sepihak. Mereka dapat membandingkan review dua produk sebelum membeli sesuatu. Mereka tak ragu membagikan informasi mengenai kelemahan dan kekurangan suatu produk untuk dijadikan acuan bagi orang-orang di sekitarnya, tetapi mereka mampu bersikap fair terhadap pandangan/pendapat yang berbeda. Mereka juga bisa mencari tahu lebih lanjut mengenai besaran gaji, bidang pekerjaan, serta kondisi perusahaan sebelum memutuskan untuk melamar kerja. Generasi Y dapat memastikan terlebih dahulu apakah nilai-nilai perusahaan sejalan dengan nilai-nilai mereka. Mereka dapat dengan mudah menggalakkan pemboikotan terhadap perusahaan yang tidak menjunjung hak-hak pekerja, perusahaan rokok yang mencurangi pembayaran pajak, maupun instansi pemerintah yang tidak mengelola keuangan dengan baik. Upaya boikot tentu saja mereka serukan melalui dunia maya, lewat kampanye-kampanye online maupun gerakan-gerakan di media sosial.

5. Kolaborasi

Mereka generasi yang mengandalkan kolaborasi dan relasi.


collaborationGenerasi Y berkolaborasi secara online, mulai dalam bentuk diskusi pada kelompok-kelompok chat hingga dalam bermain game. Mahasiswa bersama-sama membahas tugas dari dosen dengan saling mengirimkan email melalui sebuah milist. Bahkan anak-anak sekolah mengerjakan tugas fisika bersama dari rumah masing-masing melalui sebuah grup whatsapp. Para pekerja berkoordinasi satu sama lain lewat webex. Masyarakat mampu berkolaborasi menggalang sebuah gerakan sosial melalui twitter. Generasi Y berkolaborasi dan membangun relasi dengan memanfaatkan teknologi untuk kegiatan sekolah, pekerjaan atau sekedar hiburan. Mereka adalah kolaborator-kolaborator dalam setiap bagian hidup mereka.

6. Hiburan

Generasi internet ingin hiburan dan kegiatan bermain tetap ada dalam pekerjaan, pendidikan dan kehidupan sosial mereka.

RMITs-in-car-entertainmen-007Aneka permainan yang ada dalam gadget kini tidak lagi identik ditujukan untuk anak-anak. Generasi Y terbiasa asyik menunduk memainkan sebuah game untuk mengisi waktu saat mengalami kemacetan. Lebih dari itu, banyak permainan yang justru dianggap sebagai sarana melatih skill. Mulai dari game-game peperangan yang menuntut penyusunan strategi hingga permainan sederhana yang bersifat menghibur seperti aplikasi untuk berkaraoke. Generasi Y dapat dengan mudah menghibur diri dengan memutar musik lewat gadget mereka maupun menghapus kebosanan dengan mengunggah foto-foto selfie ke media sosial. Bagi Generasi Y, kerja haruslah sesuatu yang menyenangkan. Tidak ada garis pemisah antara pekerjaan dengan hobi dan hiburan. Mereka yang senang travelling bisa memperoleh penghasilan dari video-video perjalanan yang diunduh lewat youtube maupun catatan-catatan perjalanan dalam blog. Mereka yang hobi mendesain dapat menjadikan desainer grafis sebagai pekerjaan mereka.

7. Kecepatan

Generasi internet membutuhkan kecepatan –tidak hanya dalam video game

Kids-RunningDulu, sebuah modem dial-up memiliki kecepatan 360 bit per detik. Namun, banyak kaum muda masa kini mengakses internet dengan kecepatan antara 5 juta hingga 65 juta bit per detik! Berkat internet, berita duka maupun berita bahagia dapat tersebar begitu cepatnya. Seorang sekretaris tidak lagi perlu menulis memo untuk menyampaikan pesan kepada atasannya, cukup melalui gadget. Pertukaran kabar jarak jauh tidak lagi membutuhkan waktu yang lama karena komunikasi melalui surat telah tergantikan dengan email. Generasi Y tidak hanya cekatan dalam bermain video game. Mereka juga cekatan dalam melakukan banyak hal dalam waktu singkat: berbelanja, berkirim kabar, mengirim uang, membayar tagihan, hingga menemukan alamat atau lokasi suatu tempat.

8. Inovasi

Mereka para inovator.

imagesLima tahun yang lalu, telepon selular layar sentuh masih langka. Kini, hampir semua gadget dioperasikan melalui sentuhan. Generasi Y akan dengan mudahnya berganti gadget bukan karena gadget lama mereka sudah usang, akan tetapi mereka antusias untuk merasakan teknologi terbaru dan apa yang bisa mereka kembangkan melalui teknologi tersebut. Generasi Y ingin agar produk-produk yang tersedia merupakan produk terbaru dan terdahsyat, entah itu telepon genggam, iPod, atau konsol game mereka. Model-model baru dari tiap produk akan selalu bermunculan, dan tiap serinya menawarkan fungsi, kecepatan atau kapasitas yang senantiasa mengalami peningkatan.

GENERASI SELANJUTNYA?

ipad_baby_634x306x24_expand_h907b4536Kini, Generasi Y menempati porsi penduduk usia muda dalam piramida penduduk dunia. Selanjutnya, anak-anak kelahiran tahun 1998 hingga 10 tahun setelahnya disebut sebagai Generasi Z. Norma-norma yang dibentuk oleh Generasi Y sudah dirasa sangat menarik dan menggelitik untuk dibahas, mengingat perubahan norma yang terjadi di tiap generasi. Dapatkah terbayangkan bagaimana nantinya norma-norma yang dibentuk oleh Generasi Z mendatang?

Generasi Z telah dihadapkan pada teknologi semenjak mereka dilahirkan. Saat masih bayi, mereka seakan sudah ‘sadar kamera’ dan mampu berpose menggemaskan ketika orangtuanya mengambil foto mereka, untuk kemudian diunggah di media sosial. Balita-balita Generasi Z terbiasa berlenggak-lenggok mengikuti irama musik dari telepon selular yang dimiliki sang Ibu. Mereka tertawa terbahak saat sang Kakak menunjukkan gambar kambing yang ketika disentuh mampu mengembik keras dari sebuah ipad. Saat SD, Ayahnya telah menghadiahkan sebuah blackberry. Beberapa tahun ke depan, dunia akan hapal dengan ciri khas yang digambarkan dari kumpulan sikap dan perilaku mereka saat mendewasa….

Disarikan dari: Don Tapscott, Grown Up Digital, Gramedia Pustaka Utama, 2009.

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya

After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO’s officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

3 Comments

  1. […] dunia kerja masa kini, kita tengah menyaksikan tanda-tanda awal sebuah benturan besar antara Generasi Y dengan segala norma-norma yang dibentuk oleh lingkungannya dan Generasi X serta Generasi Baby Boom tradisional yang berkedudukan sebagai pemberi kerja. […]

  2. […] tanpa disadari, perkembangan internet dan norma-norma Generasi Y turut andil dalam memasarkan batik ke dunia internasional. Walau tidak melakukan penawaran produk […]

Leave a Reply