Petani Indonesia Sejahtera, Mungkinkah?
Nov 5, 2015
BerandaMITI Artikel Energi 5 kekayaan Bahan Tambang Indonesia yang Mengglobal
5 Kekayaan Bahan Tambang Indonesia yang Mengglobal
Nov 18, 2015

Menuju Industri BBN Bergairah

Artikel Energi MITI Menuju Industri BBN " Menggairahkan"

Artikel Energi MITI Menuju Industri BBN " Menggairahkan"

Pada tahun 2015, pemerintah menargetkan produksi siap jual (lifting) minyak Indonesia sekitar 825 ribu barrel per hari (bph). Sementara kebutuhan dalam negeri diprediksi mencapai 1,6 juta barrel per hari sehingga sampai sekarang impor energi fosil masih menjadi primadona utama dalam menutupi kekurangan.

Masalah utamanya apakah pemerintah akan mengambil opsi ini secara terus menerus ? Tentunya akan terpikir iya atau tidak. Dua kata ini akan terselip makna dan alasan yang harus dipikirkan oleh pemerintah saat ini.  “Iya” ketika pemerintah sudah menyerah dan akan terus bergantung pada energi fosil dan “tidak” ketika siap untuk merubah mindset menjadi sebuah tantangan dan peluang. Silahkan bisa dinilai arah kebijakan pemerintah sekarang ke arah mana.

Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) seperti bioetanol dan biodiesel bertujuan untuk mengurangi impor fosil bila dilakukan secara sepenuh hati. Hal ini didukung dengan kebijakan untuk mendorong BBN telah dirilis sejak 2006 melalui Perpres No.5. Perpres ini menyatakan bahwa pemerintah menargetkan pemakaian BBN mencapai 2 persen dalam bauran energi nasioanl (energy mix) pada tahun 2025. Upaya pemerintah mulai serius dengan adanya kebijakan mandatori BBN yang tertuang dalam peraturan menteri ESDM No.32 tahun 2008 tentang penyediaan, pemanfaatan, dan tata niaga bahan bakar nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Diharapkan usaha itu mampu menekan besaran impor bahan bakar minyak. Pemerintah menetapkan angka minimal pemanfaatan BBN untuk dicampurkan dalam BBM sebagai Biofuel.

Artikel Energi MITI

Bauran Energi Pemerintah Indonesia 2005-2025

Perubahan kebijakan tersebut bertujuan untuk mengakomodir kondisi yang ada. Perubahan pertama melahirkan peraturan menteri ESDM No.25 tahun 2013. Sedangkan perubahan kedua yang merupakan perubahan terakhir tertuang dalam peraturan menteri ESDM No.20 tahun 2014 yang kemudian ditetapkan pada 3 juli 2014. Perubahan yang dimaksud tersebut bertujuan berupa peningkatan pemanfaatan biodiesel pada tahun 2020 dari 20% menjadi 30% dan pada tahun 2025 dari 25% menjadi 30%.

Kenaikan itu berlaku untuk sektor usaha mikro, usaha perikanan, usaha pertanian, transportasi pelayanan umum PSO, serta industri dan komersial. Tujuan pemerintah dalam kenaikan ini tidak hanya mempercepat target menuju angka hingga 100% tetapi juga ikut menggairahkan dunia tata niaga BBN. Peran sosialisasi kepada masyarakat Indonesia perlu dilakukan oleh pemerintah tentang kondisi energi yang semakin menipis sehingga akan ada efek penghematan secara bertahap.

Leave a Reply