Belajar dari Dinamika Pemilu Filipina dengan Penggunaan Mesin PCOS
Jul 9, 2016
Ini Cara Cerdas Korea Selatan yang Membuat Ibu Hamil dapat Leluasa Duduk di Kereta
Jul 12, 2016

Menjelajah Rupa Bumi dengan Teknologi Satelit

Satelit Landsat yang Sedang Mengorbit Bumi via nasa.gov

Satelit Landsat yang Sedang Mengorbit Bumi via nasa.gov

Satelit Landsat yang Sedang Mengorbit Bumi via nasa.gov

Jika kita perhatikan, kini perkembangan teknologi penginderaan jauh telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang termasuk diantaranya bidang pertanian dan pangan. Hal ini ditunjukan dengan kerjasama LAPAN dan IPB yang berhasil meluncurkan satelit mikro A3/IPB ke luar angkasa dengan ketinggian 500 kilometer dari orbit bumi pada Rabu, 22 Juni 2016 lalu.

Penginderaan jauh merupakan suatu teknologi untuk memperoleh fenomena alam dan informasi melalui analisis data yang diperoleh dari hasil rekaman obyek, daerah atau fenomena. Perekaman atau pengumpulan data penginderaan jauh (inderaja) dilakukan dengan menggunakan sensor yang dipasang pada satelit atau pesawat terbang.

Satelit Lapan-IPB via uri.co.id

Satelit Lapan-IPB via uri.co.id

Teknologi Inderaja (Remote Sensing) memungkinkan untuk digunakan untuk mendeteksi penyebaran lahan pertanian. Hasilnya nanti merupakan sumber informasi utama dalam pembaharuan data sumberdaya pertanian. Seperti halnya satelit yang diluncurkan oleh LAPAN dan IPB, muatan pengindera satelit tersebut terdiri dari 4 bands multispectral imager yang memiliki resolusi 18 meter merupakan gagasan dari IPB sendiri. Muatan ini lah yang nantinya akan dimanfaatkan untuk memantau tanaman.

Dalam kerjasama ini, LAPAN bertanggung jawab dalam desain, pengembangan, peluncuran, sampai penerimaan data satelit. Adapun IPB bertanggung jawab dalam pengembangan algoritma, pemanfaatan, serta aplikasi data satelit untuk ketahanan pangan nasional dan pengawasan lingkungan.

Semakin maraknya perkembangan satelit diharapkan mampu meningkatkan upaya mewujudkan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian. Pemanfaatan teknologi satelit ini diharapkan akan mendukung akurasi data dalam perencanaan masa tanam lahan persawahan yang harapannya juga akan berimplikasi langsung pada peningkatan ketahanan pangan nasional. Hal itu tentunya akan membantu pemerintah dalam menentukan berbagai kebijakan mengenai pangan, misalnya terkait impor beras.

Selain itu, pada perkembangan citra satelit yang telah dimanfaatkan dunia saat ini, sudah banyak sekali satelit yang sudah berhasil merekam dan memantau kondisi rupa bumi yang sangat bermanfaat untuk bidang pertanian, kehutanan, maritim, ramalan cuaca dan banyak lagi.

Satelit tersebut diluncurkan oleh badan antariksa seperti NASA (National Aeronautics and Space Administration) milik Amerika Serikat, JAXA (The Japan Aerospace Exploration Agency) milik Jepang, dan ESA (The European Space Agency) milik Uni Eropa. Beberapa sensor satelit yang banyak berkontribusi dalam pengamatan bumi antara lain, antara lain, ASTER (advanced spaceborne emission and reflecton radiometer), Landsat (Land Satellite), Quickbird, IKONOS, ALOS (Advanced Land Observing Satellite), dan GeoEye.

Seperti halnya teknologi GPS yang saat ini sudah berada dalam genggaman smart phone kita, bukan tidak mungkin di masa depan, teknologi Remote Sensing atau penginderaan jauh yang memanfaatkan sensor pada satelit juga akan kita manfaatkan dengan mudahnya. (RAP)

Riska Ayu Purnamasari
Riska Ayu Purnamasari

Graduate Student at University of Tsukuba, Japan.

1 Comment

  1. Ra Deed says:

    sekarang kan lagi rame flat earth tuh. menurut penulis bagaimana?

Leave a Reply