Padi Tahan Kekeringan : Sebuah Langkah Berani Menuju Swasembada Beras
Jan 7, 2015
8 Alasan Tiket Pesawat Bisa Dijual Murah
Jan 9, 2015

Menjadi Entrepreneur

The-Perks-of-Being-An-Entrepreneur

Ada yang melihat namun tidak berpikir.
Ada yang berpikir namun tidak mengerti.
Ada yang mengerti namun tidak berkesan.
Ada yang berkesan namun tidak beraksi.
Ada yang beraksi namun tidak ber entrepreneur.
Ada yang ber entrepreneur namun tidak berhasil.
…Entrepreneur sejati gagal sepuluh kali, namun bangkit sebelas kali

(Ciputra)

Saat seminar di Manado pekan lalu, ada pertanyaan dari salah seorang peserta, bagaimana memulai sebuah usaha? Saya jawab singkat saja. Memulai sebuah usaha adalah dengan memulai.

Memang pertanyaan ini sering dilontarkan saat berbicara tentang entrepreneur atau wirausaha. Sebetulnya banyak konsep macam-macam tentang bagaimana memulai usaha dan banyak juga training tentang entrepreneur. Tapi buat saya, apapun konsepnya dan bagaimanapun bagusnya training entrepreneur tidak akan berarti apa-apa jika tidak segera dimulai. Apakah dengan begitu akan berhasil? Tidak juga. Yang jelas untuk berentrepreneur perlu keuletan. Itu pesan utama dalam puisi Ciputra di atas. Dan yang terpenting juga adalah kemauan dan kemampuan untuk belajar cepat.

Saya teringat dengan sejarah berdirinya Marks & Spencer, butik yang menjual pakaian berkualitas dari Inggris. Saat ini Marks & Spencer sudah memiliki lebih dari 700 cabang di 30 negara. Biasanya dijumpai Mall-Mall kelas atas.

Butik ini berawal dari seorang imigran di Irlandia yang bernama Michael Marks di Inggris yang mencoba bertahan hidup dengan keliling kampung berjualan baju. Modal yang digunakan pun seadanya. Saat itu tidak ada yang usaha lain yang bisa dilakukan Marks muda selain berdagang baju dengan cara itu. Apalagi dia tidak bisa membaca (sampai meninggal). Beberapa lama dia berjualan dengan berkeliling, sampai satu saat dia berfikir, kenapa dia harus selalu berkeliling seperti ini? Kenapa tidak menetap saja di satu tempat keramaian? Dia pun kemudian menggelar daganganya di tempat keramaian. Dari situ dia sedikit demi sedikit mengumpulkan modal sampai akhirnya memiliki kios sendiri. Keunikan Marks dalam menjual barang dagangannya adalah dengan mengumpulkan barang-barang yang sama harganya dalam satu area.

Dia dapat dikatakan memulai usahanya dengan modal yang minim. Saat dia mengembangkan usahanya dengan membuka toko, dia kesulitan untuk mengisi tokonya. Namun karena keterbatasan yang dia miliki, dia tidak dapat meminjam dana dari bank dan lain sebagainya. Akhirnya dia bertemu dengan Isaac Dewhirst, pemilik Leeds Warehouse, yang menjual barang-barang secara grosir. Di toko ini Marks tidak meminjam uang secara langsung, namun mengambil barang yang dia inginkan kemudian dijual. Pembayaran barang dilakukan setelah barang terjual. Awalnya memang sedikit, namun karena kejujurannya Isaac Dewhirts memberikan kepercayaan lebih besar dengan memberikan banyak barang lagi untuk dijual. Terjadilah simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan diantara mereka, dimana makin banyak barang yang terjual oleh Marks maka Dewhirts juga mendapatkan keuntungan. Di satu sisi Marks juga mendapatkan keuntungan langsung walaupun tanpa mengeluarkan modal yang terlalu banyak.

Satu saat setelah usaha Marks makin besar, dia mengajak Dewhirts untuk menggabungkan perusahaannya. Namun Dewhirts menolak permintaan itu. Dewhirts justru memberikan akuntan kepercayaannya, Thomas Spencer, kepada Marks untuk dijadikan partnernya. Hal itu dilakukan Dewhirts karena dia tahu potensi Marks dalam marketing dan kemampuan Thomas Spencer dalam mengelola keuangan. Dalam pandangannya, jika dua kekuatan ini digabungkan tentu akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Pandangan Dewhirts tidak keliru karena hal itu terbukti beberapa tahun kemudian, dimana perusahaan yang didirikan oleh keduanya berkembang sangat pesat dengan brand Marks & Spencer. Saat Marks meninggal, Marks & Spencer sudah berkembang menjadi 76 outlet yang tersebar di seluruh Inggris. Sebagai ucapan terima kasih kepada Isaac Dewhirts yang telah mengarahkan bisnis mereka Marks & Spencer tetap memasok barang dari Dewhirts sampai saat ini.

Kisah inspiratif Marks & Spencer ini banyak kita temui dalam kisah-kisah perusahaan lain. Mulai dari Toyota, Honda, Ford, Ferrari, Hyundai, Apple dan ratusan perusahaan lainnya. Termasuk di dalamnya adalah perusahaan yang dibangun oleh Jahn Davison Rockefeller yang sangat fenomenal, yang sampai saat ini dapat dikatakan menguasai resource 70% di dunia. Kesamaan mereka semua adalah mimpi untuk merubah keadaan (baik diri maupuan keluarganya), kemampuan belajar cepat, ulet dan pantang menyerah. Apakah mereka tidak menemukan hambatan? Siapa bilang?

Chun Ju Hyung (pendiri Hyundai), pernah mengalami kebangkrutan yang sangat menyakitkan. Bengkel yang baru dibangun dengan meminjam uang dari bank habis terbakar pada malam hari sebelum bengkel itu diresmikan (dibuka). William Edward Boeing, anak seorang tukang kayu pendiri perusahaan pesawat Boeing, kembali lagi menjadi tukang kayu setelah kontrak pesawatnya dibatalkan secara sepihak oleh Angkatan Laut Amerika karena PD I telah berakhir, padahal dia telah menggadaikan harta miliknya ke bank untuk mendapatkan pinjaman untuk membuat 50 pesawat yang sudah dipesan. Bahkan Steve Jobs pun pernah dikeluarkan dari perusahaan yang pernah didirikannya sendiri. Mereka semua menemukan masalah, namun mereka tidak pernah lari dari masalah.

Entrepreneur adalah orang yang berani mengambil keputusan saat diperlukan.

Jakarta,14-12-14
Edi Sukur

—————————————————————-
Rubrik SerSan, -Serius tapi Santai-, merupakan rubrik terbaru di berandainovasi.com yang berisikan catatan ringan nan menginspirasi pembaca.

Untuk periode 08-14 Januari 2014, pembaca dengan komentar yang paling menarik untuk tulisan ‘Menjadi Entrepreneur’ akan mendapatkan buku “Bunga Rampai 5 Negeri: Catatan Kecil Pemuda Merah Putih” terbitan MITI PRESS.

Ayo tuliskan komentar Anda, dan kami tunggu kontribusi tulisannya.

Dr. Edi Sukur
Dr. Edi Sukur

Teknopreneur, Direktur PT. Edwar Healthcare.

19 Comments

  1. aa sule says:

    Menjadi Enterpreneur itu nggak enak Pak, gajinya gak tetap! Nggak kaya karyawan yang udah pasti gajian minimal UMR setiap bulan. Kadang gaji enterpreneur 5 juta sebulan, kadang 10 juta, kadang 20 juta, kadang 30 juta bahkan lebih…nggak tetap kan?

  2. Assalamualaikum.., setahun lalu sy nekat memulai bisnis kue 🙂 modal minim, tp semangat besar, bulan kedua sdh lgs cetak logo utk ditempeli di kemasan..alhamdulillah semuanya lancar dan sy lbh suka menyebut diri sy "entreprayneur" krn sy yakin semua jalan terbuka dgn doa..:)

  3. Menjadi Enterpreneur itu nggak enak Pak, gajinya gak tetap! Nggak kaya karyawan yang udah pasti gajian minimal UMR setiap bulan. Kadang gaji enterpreneur 5 juta sebulan, kadang 10 juta, kadang 20 juta, kadang 30 juta bahkan lebih…nggak tetap kan?

    • Iya betul. Kadang-kadang 0 😀 Buat enterpreneur materi bukan tujuan utama, tetapi lebih kepada aktualisasi diri (posisi tertinggi dalam hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow) 🙂

  4. Mau komen gimana … saya juga belum jadi entrepeneur … :-/

  5. Sekali lagi terbukti bahwa ketidaksempatan mengenyam pendidikan di bangku sekolah-kuliah tidak serta merta menggaransi masa depan yang sudah pasti kelam. Tuh di atas contohnya.

    • Iya.. trims komennya. Saya jadi punya ide sersan selanjutnya tentang perlunya sekolah tinggi-tinggi (belajar via lembaga formal) atau pilihan mengaplikasikan ilmu secara langsung dalam kehidupan nyata (learning by doing…)

  6. Haruskan babak belur dulu ?

    • Tidak juga, tetapi secara natural pasti akan mengalami masa2 seperti itu. Kadang ada di atas, kadang di bawah. Bedanya enterprener sejati itu tidak lari dari masalah pada saat dia berada di bawah seperti dalam puisi Ciputra di atas.. “…Entrepreneur sejati gagal sepuluh kali, namun bangkit sebelas kali”

  7. ekonov says:

    setuju dengan tulisan diatas..

    terutama statement ” bagaimana memulai sebuah usaha? Saya jawab singkat saja. Memulai sebuah usaha adalah dengan memulai”

    sebanyak apapun pengetahuan tentang bisnis, silahkan Anda berkali-kali mengikuti seminar kewirausahaan, motivasi bisnis, atau apapun bentuknya.. tidak akan berguna jika Anda tidak memulai bisnis…
    karena entrepreneur itu harus dimulai, bukan sekedar dipikirkan..

    “you can study business, following a thousand seminars.. read a million books.. but knowledge without Action & Implementation is useless.. ”

    http://www.ekonovianto.com

  8. Zainal Abidin says:

    Diskusi dengan teman-teman, ibu-bu, dari tulisan ini di salah satu grup WA kami, disimpulkan kutipan “Entrepreneur sejati tak pernah merasa gagal, karena sejatinya semua itu adalah pembelajaran untuk menjadi lebih baik”.

  9. sebenarnya betul yang disampaikan bapak, dan biasanya banyak orang yang telah selesai dalam tataran teori pak, kita tahu luar biasanya menjadi entrepreuner, tahu bahwa 9 per 10 rejeki itu berniaga, tetapi yang sulit adalah memulai dan mengalami kegagalan, karena sebagian orang (termasuk saya) masih takut dengan kegagalan dan cenderung mencari yang pasti-pasti saja.. adakah solusi bagaimana mengatasi tersebut pak ? karena jujur niat berwirausaha ada, dan dulu sempat memulai dari yang kecil, tetapi kembali lagi pada masalah d awal tadi pak… Tlong beri pencerahan ..

  10. Pak, pertanyaan terakhir, apakah pada setiap orang itu memiliki jiwa entrepreuner atau ada yang mmang tidak memiliki sedikit pun di dalam dirinya ? 🙂

    • Sambil menunggu balasan dari Dr. Edi Sukur…SELAMAT, Indra Lasmana! Anda menjadi pembaca Beranda yang komentarnya terpilih sehingga bisa mendapatkan buku “Bunga Rampai Lima Negeri: Catatan Kecil Pemuda Merah-Putih” terbitan MITI Press.

      Redaksi Beranda Inovasi akan segera menghubungi Anda.

      Selamat memulai usaha,
      Kami tunggu kontribusi selanjutnya di Beranda Inovasi!

Leave a Reply