Perilaku Konsumsi dan Penghematan Energi
Aug 23, 2013
Beranda Inovasi Official Call for Contributor Penulis Artikel dan Opini
Sep 6, 2013

Mengubah Sekam Menjadi Energi

sekam-padiEnergi dalam kehidupan manusia menjadi salah satu kebutuhan pokok disamping kebutuhan pangan. Berdasarkan sumbernya energi terbagi menjadi energi yang dapat diperbarui (renewable energy) dan energi yang tidak dapat diperbarui (unrenewable energy). Umumnya kebutuhan energi dipenuhi dari bahan bakar fosil (unrenewable energy), sehingga akan habis bila dipakai secara terus menerus. Oleh karena itu, kini banyak penelitian mengarah pada energi alternatif terbarukan. Alternatif energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan antara lain adalah energi angin, energi air, energi biomassa, energi panas bumi, sel surya, energi gelombang lautan dan energi hidrogen.

Indonesia sebagai negara agraris belum dapat mengintergrasikan hasil dari sektor pertaniannya, utamanya hasil pertanian padi. Umumnya, produksi padi secara rata-rata menghasilkan 55% beras utuh, 5% beras patah, 20% kulit sekam padi, dan 10% dedak halus dan bekatul (Hariyadi 2011). Artinya, potensi terbesar dari hasil panen padi adalah energi biomassa sekam padi. Bila produksi padi Indonesia tahun 2012 adalah sebesar 69,06 juta ton gabah kering giling (GKG), maka potensi sekam yang dapat dikonversi menjadi energi adalah sebesar 13,8 juta ton (BPS 2013).

Sekam mengandung bahan kimia selulosa yang mampu menunjang pembakaran yang merata dan stabil. Menurut Dr Irzaman penemu tungku sekam, nilai energi sekam memang lebih rendah dibanding briket batu bara muda yang mengandung energi 5.500 kkal/kg, minyak tanah 8.900 kkal/liter, dan elpiji 11.900 kkal/kg, sedangkan panas pembakaran sekam hanya 3.300 kkal/kg. Meskipun begitu bila dibandingkan dengan minyak tanah dan gas untuk mendidihkan 6 liter air dengan menggunakan sekam padi diperlukan waktu 12-18 menit dengan biaya hanya Rp300, sedangkan dengan menggunakan gas diperlukan waktu 11 menit dengan biaya Rp500, dan dengan menggunakan minyak tanah selama 25 menit dengan biaya Rp350 (LPPM-IPB 2008).

Dalam perkembangannya sekam juga dikembangkan dalam bentuk briket. Bila dibandingkan dengan briket biomassa lainnya seperti briket tempurung kelapa dan briket gergaji kayu jati, briket sekam memiliki waktu pendidihan air lebih cepat dan asap yang relatif lebih sedikit (Jamilatun 2011). Selain itu, dalam pemanfaatannya oleh rumah tangga petani briket sekam lebih murah dan mudah. (SL)

 Referensi:

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Produksi padi, jagung, kedelai angka ramalan I tahun 2013. Jakarta (ID): BPS

[LPPM IPB] Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor. 2008. Mengenal lebih dekat tungku sekam IPB [internet]. [Diunduh 2013 Sep 3] tersedia pada http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?view=warta/isinews&id=260

Hariyadi P. 2011. Menuju kemandirian pangan:ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. J Agroindustrial Tech [internet].[Diunduh 2012 Apr 2] hlm4-18. Tersedia pada http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/52720

Jamilatun S. 2011. Kualitas sifat-sifat penyalaan dari pembakaran briket tempurung kelapa, briket serbuk gergaji kayu jati, briket sekam padi dan briket batubara. Prosiding seminar nasional teknik kimia kejuangan, Yogyakarta, 22 Februari 2011.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply