Mencermati Tingkat Produktivitas Energi Indonesia
Jul 15, 2013
Analisis Industri Coal Bed Methane (CBM) sebagai Energi Alternatif di Indonesia
Jul 17, 2013

Mengubah lahan kritis menjadi kilang minyak dengan Jarak

Manfaat-Buah-Jarak1Pemanfaatan lahan kritis sebagai lahan untuk tanaman penghasil minyak nabati penghasil energi biofuel (energi terbarukan), dapat menciptakan kondisi seimbang tanpa menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Dengan keseimbangan tersebut ke depan lahan kritis dapat termanfaatkan, energi biofuel dapat dikembangkan, serta energi fosil yang selama ini dipergunakan dapat dihemat.

Luas lahan kritis di Indonesia lebih dari 20 juta ha, sebagian besar berada di luar kawasan hutan, dengan pemanfaatan yang belum optimal atau bahkan cenderung ditelantarkan. Lahan kritis memiliki kondisi lingkungan yang sangat beragam tergantung pada penyebab kerusakan lahan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi lahan kritis menyebabkan tanaman tidak cukup mendapatkan air dan unsur hara, kondisi fisik tanah yang tidak memungkinkan akar berkembang dan proses infiltrasi air hujan, kandungan garam yang tinggi akibat akumulasi garam sekunder atau intrusi air laut yang menyebabkan plasmolisis, atau tanaman keracunan oleh unsur toksik yang tinggi.

Apabila tidak ada upaya rehabilitasi dan konservasi, maka tanah tersebut tidak dapat lagi berfungsi sebagai unsur produksi media pengatur tata air, dan perlindungan lingkungan. Dalam rangka rehabilitasi lahan-lahan kritis yang luasnya semakin besar di Indonesia serta meningkatkan produktivitasnya untuk keperluan pertanian, perkebunan, kehutanan, dan pelestarian alam, perlu dilakukan upaya-upaya yang dapat memodifikasi lingkungan tumbuh tanaman.

Secara agronomis, tanaman jarak pagar dapat beradaptasi dengan lahan maupun agroklimat di Indonesia bahkan tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada kondisi kering (curah hujan < 500 mm per tahun) maupun pada lahan dengan kesuburan rendah (lahan kritis). Dengan memperhatikan potensi tanaman jarak yang mudah tumbuh, dapat dikembangkan sebagai sumber bahan penghasil minyak bakar alternatif pada lahan kritis dapat memberikan harapan baru pengembangan agribisnis. Keuntungan yang diperoleh pada budidaya tanaman jarak di lahan kritis antara lain (1) menunjang usaha konservasi lahan, (2) memberikan kesempatan kerja sehingga berimplikasi meingkatkan penghasilan kepada petani dan (3) memberikan solusi pengadaan minyak bakar (biofuel).

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tanaman jarak antara lain jarak kepyar (Ricinus communis), jarak bali (Jatropha podagrica), jarak ulung (Jatropha gossypifolia L.) dan jarak pagar (Jatropha curcas). Diantara jenis tanaman jarak tersebut yang memiliki potensi sebagai penghasil minyak bakar (biofuel) adalah jarak pagar (Jatropha curcas).

Jarak pagar telah lama dikenal masyarakat di berbagai daerah Indonesia, yaitu sejak diperkenalkan oleh bangsa Jepang pada tahun 1942-an, yang mana masyarakat diperintahkan untuk melakukan penanaman jarak sebagai pagar pekarangan. Beberapa nama daerah (nama lokal) yang diberikan lepada tanaman jarak pagar ini antara lain Sunda (jarak kosta, jarak budeg), Jawa (jarak gundul, jarak pager), Madura (kalekhe paghar), Bali (jarak pager), Nusa tenggara (lulu mau, paku kase, jarak pageh), Alor (kuman nema), Sulawesi (jarak kosta, jarak wolanda, bindalo, bintalo, tondo utomene), Maluku (ai huwa kamala, balacai, kadoto). (Riska-MITI)

Referensi:

Respon pertumbuhan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L) di lahan kritis Padang Bolak melalui penggunaan beberapa jenis bahan organik dan beberapa taraf Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA). Publikasi Ilmiah. 2006.

Redaksi Biofuel Indonesia. 2009. http://biofuelindonesia.blogspot.com/2009/03/potensi-jarak-pagar-sebagai-tanaman.html

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply