Sustainable Development, Sebuah Pengantar
Sep 10, 2013
Mikroalga Sebagai Bahan Baku Energi Baru Terbarukan (Bagian I)
Sep 12, 2013

Mengenal Biodiesel

biodiesel_titlephotofoto:  http://www.cbc.ca/marketplace/pre-2007/files/cars/biodiesel/gfx/biodiesel_titlephoto.jpg

Biodiesel merupakan nama dagang dari ester monoalkil asam lemak. Ester monoakil asam lemak ini berasal dari rantai panjang asam lemak yang bersumber dari stok bahan baku terbarukan, seperti minyak nabati atau lemak hewan, untuk digunakan dalam kompresi pengapian mesin. Sementara, menurut SNI (2006) biodiesel adalah bahan bakar cair berupa ester alkil dari asam lemak yang dihasilkan melalui proses transesterifikasi.

Biodiesel yang digunakan untuk pengganti bahan bakar diesel konvensional biasanya berupa metil ester asam lemak yang dapat dibuat dari trigliserida minyak nabati melalui proses transesterifikasi menggunakan metanol. Biodiesel yang dihasilkan sangat mirip dengan petroleum diesel terutama dalam karakteristiknya, sehingga biodiesel dapat digunakan pada kendaraan tanpa memerlukan modifikasi mesin kendaraan secara khusus.

Bagaimana menghasilkan biodiesel? Bahan utama yang diperlukan untuk menghasilkan biodiesel adalah lipid. Lipid terdiri dari minyak dan lemak yang memerlukan proses pemurnian hingga menjadi biodiesel. Pada prinsipnya biodiesel dapat dihasilkan dari sumber lipid nabati dan hewani, namun pengembangannya kini lebih mengarah pada sumber nabati.

Mengapa biodiesel dapat dihasilkan dari minyak nabati? Minyak tumbuhan biasanya mengandung asam lemak bebas, fosfolipid, sterol, air, bau dan kotoran lainnya. Karena itu, minyak tidak dapat digunakan sebagai bahan bakar secara langsung. Untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan sedikit modifikasi kimia melalui proses transesterifikasi, pirolisis dan emulsifikasi. Transesterifikasi merupakan kunci dan langkah penting untuk menghasilkan bahan bakar yang bersih dan ramah lingkungan dari minyak nabati.

Proses pembuatan biodiesel hingga dapat menjadi bahan bakar siap pakai cukup panjang. Proses ini secara umum dimulai dari pengeringan biomassa yang akan dijadikan bahan baku biodiesel. Proses selanjutnya adalah pengujian kadar air, kadar lemak, kadar abu, perhitungan rendemen, analisis asam lemak bebas (FFA) dan karakterisasi asam lemak.

Setelah melalui proses pemurnian yang panjang, minyak yang diinginkan adalah yang mengandung asam lemak C 16:0 (palmitat) sebab memiliki karakteristik yang mirip dengan petroleum diesel ( C 15:0). Selain itu, biodiesel yang dihasilkan diharapkan memiliki nilai bilangan asam kecil agar tidak mudah merusak mesin kendaraan.

Kendala dalam memproduksi biodiesel saat ini adalah proses pemurnian yang panjang dan biaya produksi yang cukup tinggi, sehingga produksi biodiesel baru dapat diterapkan dalam industri skala besar. Selain itu, dalam produksi biodiesel diharapkan tidak menggunakan bahan pangan agar tidak terjadi persaingan dengan pemenuhan konsumsi manusia. Kini, sudah mulai banyak ditemukan sumber nabati penghasil biodiesel seperti jarak pagar, biji kelapa sawit dan mikroalga. Pengembangan selanjutnya adalah bagaimana memproduksi biodiesel yang memenuhi kriteria SNI dengan biaya yang terjangkau serta produksi sumber nabati penghasil biodiesel yang efisien. (SL)

Referensi:

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2006. SNI 04-7182-2006. Biodiesel.  Jakarta : Badan Standardisasi Nasional.

Patmawati.  2013.  Produksi Biodisel Secara Transesterifikasi In Situ dari  Mikroalga Chlamydomonas sp. dan Synechococcus sp. yang Dikultivasi dengan Media Teknis [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply