Mahasiswa Surabaya Kembangkan Obat Anti Kolesterol dari Ekstrak Apel Hijau
Apr 20, 2016
Mahasiswa UI Harumkan Indonesia dalam Ajang Shell Eco-Marathon Asia
Apr 25, 2016

Meneruskan Perjuangan (Panjang) R.A. Kartini

R.A Kartini via trentekno.com

R.A Kartini via trentekno.com

Bagi masyarakat Indonesia, tanggal 21 April bukan hari yang biasa. Banyak perempuan dari berbagai usia dan berbagai kalangan memakai kebaya sebagai bentuk perayaan dan peringatan pada tanggal 21 April ini. Ya, tanggal 21 April memang diperingati oleh masyarakat Indonesia sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan R.A. Kartini. Sosok yang disebut sebagai tokoh emansipasi dan pendorong kemajuan bagi kaum perempuan di Indonesia, terutama untuk perjuangan dalam bidang pendidikan.

Siapakah sebenarnya Kartini? Raden Ajeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priayi atas kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat Bupati Jepara. Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya R.M.A.A. Sosroningrat pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono seoran guru agama di Teluwakur, Jepara.

Dilahirkan dari keluarga bangsawan sehingga Kartini dapat menempuh pendidikan di sekolah formal, padahal saat itu pendidikan bagi anak-anak perempuan Jawa sangat tabu, tidak dibenarkan adat, dan dicerca masyarakat. Pada awalnya, Kartini pun tidak disekolahkan ayahnya, namun ia memberontak sehingga ayahnya mengizinkannya untuk bersekolah.

Kesempatan yang diberikan ayahnya untuk menuntut ilmu itu tidak disia-siakannya. Kartini benar-benar haus ilmu pengetahuan. Kemudian, ia juga menulis surat-surat kepada teman-temannya di luar negeri. Surat-suratnya kepada teman-temannya tentang kondisi perempuan di Indonesia ini sangat inspiratif. Tidak hanya itu, Kartini juga mendirikan sekolah bagi perempuan.

Perhatiannya bukan hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Perjuangan yang dilakukan melalui tulisan dan surat-menyurat antar Kartini dengan beberapa rekan penanya, telah menghasilkan sebuah perjuangan yang sering dikenal dengan “emansipasi”.

Hingga akhirnya sekarang, Kartini dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan Indonesia yang berjuang demi membela kaumnya dari marginalisasi pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya. Perjuangan Kartini akhirnya membuahkan hasil karena banyak perubahan yang terjadi setelah tulisan-tulisannya dan pergerakannya menginspirasi banyak pihak.

Namun jika dilihat dari kondisi perempuan di Indonesia saat ini, justru banyak ketertinggalan yang dialami oleh perempuan Indonesia. Dari keseluruhan jumlah penduduk miskin di Indonesia, jumlah masyarakat miskin yang berjenis kelamin perempuan cukup banyak. Ironisnya, kemiskinan pada perempuan tercermin pada rendahnya partisipasi dalam pendidikan dan dalam ekonomi karena indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dari tiga aspek yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Jika dilihat dari partisipasi perempuan dalam pendidikan untuk semua batasan umur sejak tahun 1971 hingga 2004 lebih rendah dibandingkan laki-laki. Secara umum, tingkat pendidikan perempuan masih lebih rendah dibandingkan laki-laki pada tingkat pendidikan yang ditamatkan, ijazah tertinggi, bahkan akses terhadap bahan bacaan (media). Keadaan ini memperlihatkan bahwa pendidikan bagi perempuan masih belum dipandang sebagai sesuatu yang penting.

Hal ini tentunya tidak terlepas dari masih melekatnya budaya patriarki dimana laki-laki lebih diutamakan untuk diberi kesempatan dalam meraih pendidikan dibandingkan perempuan. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan pada saat Kartini berjuang dahulu, ketika adat istiadat yang begitu kuat mengekang perempuan untuk memperoleh akses kepada kehidupan yang lebih baik.

Meskipun tentunya, kondisi saat ini sudah lebih baik karena perhatian terhadap perempuan sudah semakin meningkat. Tetapi dengan berbagai fakta yang ada menunjukkan bahwa upaya untuk membangun perempuan tidak hanya perlu didorong oleh pemerintah, tetapi harus didorong oleh masyarakat dan tentunya kaum perempuan itu sendiri.

Ironisnya, selain masalah marjinalisasi bagi perempuan, perempuan juga rentan terhadap masalah kekerasan. masih banyak juga kaum perempuan yang menjadi tindak kekerasan atau pelecehan seksual baik di rumah tangga ataupun yang bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita di Luar Negeri. Masih banyak juga kaum perempuan yang sudah tua renta menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai kuli panggul, ataupun pemulung, dan tidak sedikit juga perempuan yang menjadi pengemis jalanan, penjual seks komersial karena tidak punya keahlian atau terbatas kemampuan baik dari pendidikan dan latar belakang.

Masalah yang dialami perempuan memang sangat kompleks baik secara struktural maupun budaya. Meskipun memang sudah banyak perempuan-perempuan inspiratif lainnya yang lahir setelah Kartini, namun tidak dapat dipungkiri bahwa marjinalisasi terhadap kaum perempuan masih terus terjadi.

Pemaknaan terhadap Hari Kartini ini sejatinya bukan hanya mengenang jasa beliau terhadap para perempuan Indonesia, namun juga mengingat bahwa perjuangan untuk kaum perempuan sejatinya masih panjang dan harus terus berjalan.

Namun perlu ditekankan bahwa perjuangan yang disuarakan oleh Kartini adalah sebuah wujud kebebasan perempuan dalam menentukan secara subjektif keinginannya untuk dapat mengeksplorasi diri. Mengeksplorasi disini berarti perempuan dapat memperoleh kesempatan dan akses untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik menurut bakat dan minatnya masing-masing, tanpa adanya paksaan dan tekanan.

Perempuan Indonesia yang unik dengan berbagai keragamannya tentu memiliki keinginan untuk mengeksplorasi dirinya dan meningkatkan dirinya lebih baik. Jika seorang perempuan ingin bereksistensi di ruang publik, tanpa paksaan dengan tetap memperhatikan peran dan nilainya sebagai seorang ibu dan perempuan, maka hal tersebut sudah perwujudan dari emansipasi. Dan sebaliknya, jika perempuan ingin menjadi ibu rumah tangga tanpa adanya paksaan, tetapi karena memang dirinya sendiri yang menginginkan hal itu, maka itupun termasuk bagian dari emansipasi.

Oleh karena itu, perjuangan Kartini untuk kaum perempuan masih belum selesai, dan bahkan akan terus berlangsung seterusnya. Memperingati perjuangan Kartini bukan hanya sekedar dengan berkebaya saja seperti yang biasanya. Ini bukan sekedar perayaan, lebih dari itu setiap perempuan Indonesia harus sadar bahwa dirinya memiliki potensi dan harus mengembangkan dirinya.

Peringatan Hari Kartini yang telah memperjuangkan hak-hak kaum perempuan akan lebih berarti jika diperingati dengan cara melanjutkan perjuangannya untuk memajukan kaum perempuan Indonesia. Kaum perempuan harus menghormati dan menghargai dirinya sendiri dengan mengeksplorasi bakat dan potensinya. Itulah pesan inti yang ingin disampaikan dan diteruskan dari perjuangan R.A. Kartini. Oleh karena itu, mari kita menghargai Kartini dengan melanjutkan perjuangannya untuk kaum perempuan Indonesia!

 

Daftar Referensi :

Candraningrum, Dewi. 2014. Ekofeminisme II : Narasi Iman, Mitos, Air dan Tanah. Yogyakarta : Jalasutra.

Midgley, James. 2014. Social Development : Theory and Practice. London : Sage Publications.

Wirutomo, Paulus. 2012. Sistem Sosial Indonesia. Depok : FISIP UI Press.

http://digilib.uinsby.ac.id/7321/2/bab.%20ii.pdf

http://www.garutkab.go.id/download_files/article/Makna%20Hari%20Kartini.pdf

http://psg.uii.ac.id/index.php/RADIO/MEMAKNAI-KEMBALI-HARI-KARTINI.html

http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/21/jtptiain-gdl-s1-2006-elinnurasl-1011-BAB3_310-7.pdf

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

1 Comment

Leave a Reply