Revitalisasi Pedestrian sebagai Salah Satu Non Motorized Transport (NMT)
Nov 18, 2013
Lampu LED – Teknologi Lampu Hemat Energi untuk Masa Depan
Nov 20, 2013

Mendukung Kebijakan Energi Pemerintah

Support

Sumber ilustrasi: gettyimages

Penyediaan energi (Energy Supply) pada masa depan merupakan permasalahan yang senantiasa menjadi perhatian semua bangsa karena kesejahteraan manusia dalam kehidupan  modern sangat terkait dengan jumblah dan mutu energi yang di manfaatkan. Seiring dengan meningkatnya pembangunan di berbagai sektor, pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan pendudduk dan kebutuhan energi akan tetrus meningkat.

Dari aspek konsumsi menunjukakan bahwa konsumsi energi Indonesia mengalami penigkatan dari tahun ke tahun. Pada periode 2000-2008, konsumsi energi akhir mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebesar 2.73 persen dari 764.40 juta SBM menjadi 945.52 juta SBM. Menurut jenis energi, konsumsi energi BBM merupakan konsumsi energi tertinggi yang diikuti oleh biomas, gas, listrik dan kemudian batu-bara (Energi dan Sumber Daya Mineral, 2009).

Menurut kementrian energi dan sumber daya mineral (2009) cadangan energi minyak mentah Indonesia hanya dapat diproduksi atau akan habis dalam kurun waktu 22.99 tahun, gas selama 58.95 tahun dan batu-bara selama 82.1 tahun. Hasil perhitungan ini menggunakan asumsi bahwa tidak ada ditemukan lagi ladang-ladang baru sebagai sumber energi fosil. Cadangan energi dapat meningkatkan (bertahan lama) apabila ditemukan ladang-ladang baru.

Perumusan kebijakan ekonomi yang tepat dapat mengatasi konsumsi dan penyediaan energi yang dapat memenuhi kebutuhan energi domestik. Hal yang perlu adalah melakukan kebijakan-kebijakan dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, perlu upaya untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas pemanfaatan energi antara lain dengan konservasi energi dari energi konvensional ke energi ramah lingkungan seperti biogas dan penghapusan subsidi BBM untuk menagkal dampak negatif dari kenaikan harga minyak dunia yang dapat menyebabkan konsumsi dan penyediaan energi menurun.

Untuk jangka menengah perlu upaya untuk meningkatkan investasi dari aspek produksi, pengolahan dan distribusi energi fosil dan upaya konversi energi berbasis bahan bakar minyak oleh sektor industri kejenis energi lainnya. Dalam jangka panjang, upaya untuk menggeser penggunaan energi yang bersumber dari unrenewable resources kepada penggunaan energi yang bersifat renewable resources seperti pemanfaatan energi angin, air, gelombang laut, biomass, biodiesel, dan sumber-sumber energi bekelanjutan lainnya.

Kebijakan energi sebenarnya dapat dirinci menjadi kebijakan lebih khusus yang bertujuan antara lain: Pertama, menjamin pasokan yang berkesinambungan dengan mengoptimalkan pemanfaatan dan alokasi sumber daya energi. kedua, mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi fosil sebagai bahan bakar maupun sebagai bahan baku agar diperoleh nilai tambah maksimal. Ketiga, mendorong upaya penyediaan energi secara lebih merata. Keempat, mendorong dan meningkatkan ekspor jasa dan teknologi energi. Kelima, meningkatkan upaya komersialisasi pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta peningkatan pemanfaatan energi setemat (in-situ energy). Keenam, mengarahkan penggunaan energi di sektor transportasi agar lebih efisien, beragam, dan bersih. Ketujuh, menyertakan dan mempertimbangkan aspek lingkungan hidup mulai dari kegiatan eksploitasi sampai pemanfaatan akhir.

Konservasi Energi

Konservasi atau penghematan energi mendatangkan banyak manfaat. Dengan melakukan konservasi energi seolah-olah kita menemukan sumber energi baru. Nugroho (2005)  mengatakan bila Indonesia dapat menghemat konsumsi BBM sekitar 10%, itu berarti menemukan lapangan minyak baru yang dapat memproduksi sekitar 150.000 barrel per hari, yang dalam kenyataannya membutuhkan biaya yang cukup besar untuk eksplorasi dan memproduksinya. Biaya yang dapat dihemat dengan melakukan konservasi sangat besar.

Konservasi energi dituangkan dalam intruksi presiden yang diterbitkan tahun 1982 (INPRES No. 9/1982) yang kemudian disempurnakan dengan keputusan presiden No. 43 tahun 1991. Dikalangan masyarakat muncul lembaga swadaya masyarakat (masyrakat hemat energi) yang menaruh perhatian terhadap konservasi energi. sebuah ESCO didirikan oleh pemerintah yang kemudian menjadikan BUMN di bidang energi (PT. KONEBA). PLN melakukan beberapa proyek manajemen sisi permintaan (demand side management) untuk menekan konsumsi listrik disisi pemakaian. Departemen energi melakukan sejumblah proyek percontohan konservasi energi, misalnya di gedung kantor pemerintahan  dan gedung kampus perguruan tinggi. 

Dalam rangka untuk mengatasi masalah energi di indonesisa diperlukan adanya bentuk nyata dari upaya konservasi energi yang menekankan kepada penggunaan sumber energi dari unrenewable resources kepada penggunaan energi yang bersifat renewable resources.

Muhammad Yusro Hidayat,

Mahasiswa Jurusan Kimia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis merupakan Aktivis Hima J KIMIA dan Aktivis Lembaga EXACT (Exellent Academic Community).

Referensi :

Kementrian  Energi dan Sumberdaya Mineral. 2009, Handbook of energy Economic        statistic            of Indonesia. Center for Data Information on  Energy  and Mineral  Resources. Ministry Energy and Mineral Resources. Jakarta.

Yusgiantoro. Purnomo, 2009, Ekonomi energi : Teori dan Praktik, Jakarta :  Pustaka LP3ES.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply