Aplikasi Wisata Berbasis Telepon Pintar Siap Membantu Anda Jelajahi Kota-Kota Menarik di Indonesia
Sep 5, 2014
Inilah 5 Jejaring Sosial Terpopuler di Dunia!
Sep 9, 2014

Menakar Kesosialan “Media Sosial”

http://www.mediabistro.com/alltwitter/social-media-worldwide-growth_b45043

image source: http://www.mediabistro.com/

http://www.mediabistro.com/alltwitter/social-media-worldwide-growth_b45043

image source: http://www.mediabistro.com/

Dinda mungkin tidak pernah membayangkan kalau namanya akan muncul dalam salah satu tajuk Kompas.com. Terutama apabila dalam tajuk yang bersangkutan Dinda justru mendapati dirinya dicaci, dimaki, dan dihina oleh ribuan orang yang barangkali tak pernah dikenalnya seumur hidup.

Sebabnya lantaran keluhan Dinda di salah satu media sosial tersebar luas di penjuru internet. Di Path, media sosial yang dimaksud itu, separuh mencela Dinda menulis kegusarannya akan seorang ibu hamil yang meminta tempat duduk di kereta. Menurut Dinda, ibu hamil tersebut “pemalas” karena tidak mau berusaha untuk datang lebih pagi–barangkali seperti pengguna kereta lainnya–agar mendapat tempat yang nyaman selama perjalanan. Seseorang mengambil gambar (screenshot) keluhan Dinda ini, menyebarkannya di media sosial lain, dan jadilah Dinda balik dicela tajam oleh pengguna internet. Komentar negatif terhadap Dinda disebut bermacam-macam, dari “tidak simpatik” dan “tega”, sampai “sampah” dan “bodoh”.

Cerita Dinda bukan yang satu-satunya. Sebelumnya ada pula yang tersebar murid salah satu sekolah di Jakarta yang mengolok sekolah tetangganya. Lain lagi ada yang tersebar karena makiannya di Twitter ditanggapi langsung oleh selebritas yang dimaki. Dalam ruang-ruang internet yang anonim, nama-nama mereka datang dengan penuh hiruk-pikuk, kemudian perlahan pergi dengan senyap. Sekali menggelegar kemudian esok kembali terlupa. Yang terekam bukanlah nama, atau siapa, tapi apa yang diperbuatnya dalam sekali itu saja.

Yang Publik dan Yang Privat

Apa yang ada ditulis oleh seorang Dinda – dan juga “Dinda-Dinda” lainnya – barangkali tidak pernah sebersit pun diniatkan untuk masyarakat luas. Keluhan di Twitter, sentilan di Facebook, atau makian di Path kerap bukan hadir sebagai maklumat – sering justru ia tak lebih dari sekedar luapan emosi sesaat. Dan sebagaimana kita, biasanya, tak akan mengumpat dengan lantang di tengah kereta yang ramai pengguna, begitu pun di internet kita biasanya tak memaki di ruang yang kita anggap sebagai “tempat umum yang terbuka”. Path, misalnya, tempat Dinda melampiaskan kekesalannya, merupakan media sosial yang dibatasi hanya pada teman-teman terdekat saja. Begitu pun Facebook dan Google+ memiliki pengaturan privasi hingga apa yang kita tulis tak bisa dilihat oleh khalayak ramai.

Internet dalam hakekatnya memang merupakan ruang publik. Dia adalah tempat selayangan komentar dan sejumput makian dapat beradu. Dia tempat gambar parodi dan materi dewasa dapat bertemu. Saat internet masih belum memiliki pengguna semajemuk kini, hampir semua yang tersebut tak dapat ditarik kembali. Namun dengan semakin beragamnya kebutuhan pengguna dan semakin pentingnya kesadaran untuk berbagi bersama lingkar-lingkar tertentu saja, muncul lah media sosial yang sepintas nampak menutup bagian-bagian yang terbuka lebar. Pengaturan privasi dan pembatasan lingkar pertemanan bisa dibilang merupakan upaya untuk memberikan seporsi ruang privat di dalam internet yang publik. Dalam ruang-ruang privat ini sekat dibentuk dan gelombang dibatasi.

Namun internet tidak pernah betul-betul bisa memberi ruang privat. Papacharissi (2009) menyebutkan bahwa yang bisa diberikan oleh internet bukanlah ruang privat sebagaimana kita memahami ruang privat adalah keluarga yang rekat atau rumah yang bersekat – yang terlepas dari jangkauan perusahaan atau pemerintah. Yang diberikan oleh internet adalah ruang-ruang buram antara publik dan privat.  Tak seperti bagaimana kita bisa menarik garis mudah antara publik dan privat di kehidupan fisik, di internet garis itu tampak putus-putus. Bila di kantor adalah “publik” dan rumah adalah “privat”, maka di Facebook kita berada di antara publik dan privat.

Ketika Dinda menulis keluhannya di Path, meski apa yang ia tulis hanya dibatasi pada 500 individu lain, di saat bersamaan tiap-tiap individu dari 500 individu itu merupakan bagian dari 500 individu lainnya lagi. Apa yang ditulis oleh Dinda hanya bisa dilihat oleh 500 individu, namu apa yang ditulis oleh salah satu dari 500 individu tersebut juga bisa dibaca oleh 500 individu lain yang bisa jadi tidak berhubungan sama sekali dengan Dinda. Dengan kata lain, andai satu individu di antara kawan Path Dinda menulis-ulang – atau menangkap gambar – keluhan Dinda, maka keluhan itu akan menyebar ke lingkar luar Dinda.

Ini yang dimaksud Papacharissi sebagai garis buram antara publik dan privat. Papacharissi sendiri menyebutnya sebagai “ruang-ruang privat yang saling bertumpukan”. Sebagaimana contoh Dinda, tiap satu individu dari 500 kawan Path Dinda merupakan bagian dari 500 kawan yang lain. Dinda mungkin bisa jadi sendiri saja (alone) di Path, namun keberadaannya tidak pernah sendirian (lonely) atau terisolasi (isolated). Bagaimana kemudian apa yang ditulis Dinda adalah apa yang disebut Henry Jenkins sebagai prinsip “spreadibility”: setiap konten di media sosial memiliki kemungkinan untuk menyebar.

2

setiap konten di media sosial memiliki kemungkinan untuk menyebar

Media Sosial yang Sosial

Sebagaimana Dinda melampiaskan kekesalan tanpa sensor di akun Path-nya, begitu pun yang terjadi pada beragam pengguna lain yang melihat kegusaran Dinda. Memperlakukan teknologi digital sebagai kepanjangan dari ekspresi individu, berbagai reaksi yang muncul ketika status Path Dinda tersebar pun menjadi tanggapan yang dimaklumi. Dalam lingkar-lingkar yang saling bertumpuk, meminjam Papacharissi, setiap pengguna secara kolektif mengungkapkah kegusarannya dengan cara yang sama dengan cara Dinda menyikapi ibu-ibu hamil di kereta.

Pada ruang yang seperti inilah menjadi penting untuk lebih berhati-hati dalam bersikap di media sosial. Interkonektivitas yang ditawarkan oleh internet pada awalnya – sebagai jaringan yang menyambungkan individu dalam berbagai belahan dunia – pada perkembangannya mendorong tiap penggunanya untuk mencari dan membuat sekat yang memastikan privasinya. Meski memang media sosial memberikan batas-batas dan pengaturan yang sepintas nampak mengabulkan harapan akan ruang privat tersebut, namun konteksnya sebagai bagian dari ruang publik besar di internet membuat upaya tersebut nampak musykil.

Daftar Pustaka

Papacharissi, Zizi. “The Virtual Sphere 2.0: the Internet, the Public Sphere and Beyond.” Handbook of Internet Politics. London: Routledge (2009): 230–245.

Liauw, Hindra. “Tak Simpatik dengan Ibu Hamil di KRL, Perempuan di Path Dikecam.” Kompas.com. Diakses pada 15 Agustus 2014. <http://megapolitan.kompas.com/read/2014/04/16/1623529/Tak.Simpatik.dengan.Ibu.Hamil.di.KRL.Perempuan.di.Path.Dikecam>.

Zhao, Shanyang, Sherri Grasmuck, dan Jason Martin. “Identity Construction on Facebook: Digital Empowerment in Anchored Relationships.” Computers in Human Behavior 24.5 (2008): 1816-836.

activate javascript

Pradipa P. Rasidi
Pradipa P. Rasidi

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI yang gandrung pada antropologi dan budaya pop. Merangkap sebagai tukang desain sambilan.

2 Comments

  1. begitulah manusia di Indonesia, 1 saja kesalahan baik itu di dunia maya atau di dunia nyata, kan dihujat habis2an, dimaki, dicela bahkan sampai di seret ke penjara, jauuuh sekali dengan 1000 kebaikan, tak kan ada yang peduli, berpartisipasi apalagi menghargai, jika masyarakat seperti ini terus, Indonesia tak akan bisa maju.

    pandai mengkritik, tapi tidak mau memberi solusi.
    pintar mencari kesalahan, tapi enggan memperbaikinya
    smoga Indonesia menjadi cerah kedepannya

Leave a Reply