Memperbaiki Kualitas Bahan Bakar Biomassa dengan Proses Torrefaksi
Oct 17, 2013
Turbin Savonius: Pemanfaatan Energi Angin Untuk Sistem Penerangan Kapal
Oct 21, 2013

Memperkuat Ketahanan Ekonomi Nasional Melalui Percepatan Peralihan Energi Minyak Bumi ke Gas dan Energi Terbarukan

Energy

Sumber ilustrasi: energyet.com 

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir kondisi perekonomian indonesia cukup stabil meskipun perekonomian dunia banyak mengalami masalah. Di saat negara-negara Eropa dan negara maju di Asia dan Amerika mengalami krisis ekonomi, beberapa negara justru mengalami pertumbuhan ekonomi positif termasuk Indonesia. Tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 6 % setiap tahunnya. Secara makro perekonomian di indonesia terus meningkat. Salah satu elemen penting penunjang pertumbuhan ekonomi adalah sektor energi.

Saat ini, pertumbuhan kebutuhan energi dalam negeri berkisar 7-8 % setiap tahunnya. Dari sisi permintaan, konsumsi energi paling besar di sektor industri (41,49%) dan transportasi 32,52 %, sementara sektor rumah tangga 16,26 %. Berdasarkan energy outlook BPPT (Badan Pengkaji dan Penerapan Teknologi) 2011 bahwa proyeksi kedepan pertumbuhan konsumsi energi final mencapai 4 % sampai 2014, dan 5,3 % sampai tahun 2030. Jadi, dapat terlihat jelas korelasi nyata antara pertumbuhan ekonomi dengan sektor energi.

Peran sektor energi sangatlah vital bagi perekonomian suatu bangsa yang terkait secara langsung dengan eksistensi bangsa itu sendiri baik sebagai suatu kesatuan negara maupun keberadaanya di dunia internasional. Bukan lagi rahasia, bila negara-negara yang menguasai sektor energi adalah negara-negara maju. Menurut Prof. Rinaldy (ketua Dewan Energi Nasional) menyatakan bahwa peran sektor energi pada perekonomian nasional terdiri atas, yaitu : sumber devisa dan penerimaan negara, bahan bakar domestik, dan bahan baku industri.

Sektor energi Indonesia pernah mengalami kejayaan energi pada era tahun 70-an. Saat itu, produksi minyak bumi kitat sebesar 1,6 juta barel/hari sementara konsumsi dalam negeri hanya berkisar 800 barel/hari. Kondisi inilah yang melatarbelakangi Indonesia mengekspor sebagian besar hasil minyak bumi. Tak heran bila kemudian Indonesia menjadi anggota OPEC bahkan pernah menjadi ketuanya. Seiring berjalannya waktu, ladang-ladang minyak mulai mengering. Akibatnya lifting minyak indonesia terus mengalami penurunan hingga di bawah 1 juta barel/hari. Disisi lain, konsumsi BBM (bahan bakar minyak) terus meningkat setiap tahun. Tercatat konsumsi BBM saat ini sebesar 1,4 juta barel/hari sedangkan produksi saat ini hanya berkisar 900-an barel/hari. Dengan kata lain, Indonesia defisit bahan bakar minyak bumi. Oleh karena itu, impor besar-besaran terus terjadi dalam kurun waktu lebih satu dasawarsa terakhir.

Fakta di atas, menunjukkan bahwa kita tidak bisa lagi bergantung pada minyak bumi. Maka langkah strategis pun diambil oleh pemerintah yakni mencari energi alternatif lain yang siap digunakan seperti gas. Meskipun terlambat dan kurang persiapan, langkah ini sudah tepat untuk memenuhi kebutuhan energi. Tepat karena memang cadangan gas kita cukup besar sekitar 384,7 TCF. Cadangan tersebut tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti: Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Papua dan sebagainya. Papua misalnya, ternyata  memiki ladang gas terbesar di dunia yang terletak di blok tangguh. Tidak tanggung-tanggung menurut hasil sertifikasi DeGolyer and MacNaughton pada tahun 1998, potensi Blok Tangguh menunjukkan  angka sebesar 14,4 triliun kaki kubik (TCF) sebagai  cadangan gas terbukti. Potensi gas dari blok tangguh yang sebesar 14,4 TCF  itu dapat menghasilkan ribuan triliun rupiah,  dengan asumsi  harga rata-rata minyak selama 20 tahun ekplorasi  adalah US$ 80/barel, cost recovery sebesar 35 persen, 1 boe = 5.487 cf dan nilai kurs US$/Rp adalah 10.200, maka dari simulasi perhitungan yang dilakukan diperoleh potensi pendapatan total gas Tangguh adalah sekitar US$ 210 miliar atau sekitar Rp 2.142 triliun.

Dengan melihat potensi ekonomi dari energi gas ini, berbagai kebijakan pun diambil pemerintah untuk meningkatkan produksi gas nasional untuk memacu laju konversi minyak ke gas.  Hasilnya sudah mulai terlihat dengan meningkatnya produksi gas nasional. Pada tahun 2012 tercatat total lifting gas kita sebesar sekitar 8.196 MMSCFD atau sekitar 1,3 juta barel ekuivalen minyak/har. Bahkan untuk pertama kalinya parameter lifting gas masuk dalam skema perencanaan APBN 2013.

Sudah sekiranya kita, menggeser paradigma bahwa Indonesia bukanlah negera minyak. Jauh yang lebih harus kita pikirkan adalah mempersiapkan ketahanan energi dengan potensi energi terbarukan yang jumlahnya melimpah. Data dari Dewan Energi Nasional menyatakan potensi panas bumi sebesar 28 GW, tenaga air 75,67 GW, matahari 1200 GW, biomassa 49,81 GW, energi laut 240 GW dan masih banyak lagi. Namun, dengan kondisi saat ini, energi gas lebih berperan penting guna memenuhi kebutuhan energi dalam negeri sehingga sudah saatnya Indonesia memasuki era  “go gas”  di mana sebagian besar kebutuhan energi dipenuhi oleh energi gas.

Konsekuensi dari peralihan paradigma tentang “go gas” adalah munculnya “peperangan” akan gas itu sendiri. Setiap tahun permintaan gas dunia terus mengalami peningkatan. Jika dulu gas bukan suatu komiditi yang penting sebagai sumber energi –khususnya bagi indonesia- maka kecenderungannya adalah menjual/mengekspor gas. Atau secara sederhana, gas alam adalah sebagai komoditi dagang – sebagai sumber income negara dalam meraup devisa. Tidak bisa disalahkan karena memang dulu gas tidak memilki nilai jual yang menjanjikan di dalam negeri sendiri. Jelas, saat ini kondisinya jauh berbeda maka harus ada perubahan paradigma memandang gas itu sendiri, tidak lagi menganggapnya sebagai komoditi dagang melainkan lebih sebagai elemen pendukung pembangunan ekonomi. Maksudnya, kita tidak lagi menghambur-hamburkan gas untuk diekspor hanya untuk mendapatkan keuntungan dalam hal financial yang jumlahnya tidak sesuai dari dampak negatif di dalam negeri sendiri, seperti : kelangkaan gas untuk energi (PLN), industri dan lain-lain.

Sebagai contoh pada 2011 saja, berdasarkan data dan proyeksi dari PLN (perusahan listrik negara), kebutuhan PLN akan gas 1.798 MMSCFD, tetapi baru terpenuhi 901 MMSCFD, sehingga defisit 896 MMSCFD. Akibatny PLN masih harus menggunakan bahan bakar diesel untuk tetap bisa memasok listrik ke masyaraka disebabkan tidak mendapatkan pasokan gas. heran jika, biaya operasi listrik membengkak. Misalnya apa yang terjadi di Kalimantan Timur, sangat disayangkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) berkapasitas 180 megawatt (MW) justru menggunakan BBM untuk memproduksi listrik. Ironisnya, daerah Kaltim sendiri merupakan daerah kaya gas bumi bahkan sebagian produksinya diekspor ke luar negeri.

Seharusnya gas harus menjadi penggerak ekonomi Indonesia secara nyata, prioritas alokasi dalam negeri lebih diutamakan lagi. Sehingga kelak, tidak lagi ada pembangkit listrik yang menggunakan BBM, industry-industri petrokimia (pupuk, ammonia, dan lain-lain) tercukupi kebutuhannya, sektor transportasi telah menggunakan gas, dan kebutuhan rumah tangga tidak lagi terbebani oleh kelangkaan ataupun harga yang melambung akibat kekurangan. Bahkan dengan potensi yang ada, energi gas bisa menjadi senjata meningkatkan posisi Indonesia di dunia melalui pembenahan kebijakan-kebijkan dengan negara luar untuk kembali merundingkan kesepakatan-kesepakatan yang selama ini merugikan.

Dalam rangka memperkuat perekonomian indonesia maka diperlukan ketahanan energi nasional. Sektor energi merupakan elemen penting penopang pertumbuhan ekonomi. Untuk memperkuat ketahan energi nasionak dibutuhkan kebijakan-kebijakan yang mendorong peralihan energi minyak bumi (BBM) ke energi alternatif lainnya seperti : gas, geothermal, sinar matahari, bioenergi dan lain-lain secara cepat. Dalam jangka menengah, enegi gas menjadi sumber utama pemenuhan energi nasional selama proses peraliha ke energi terbarukan benar-benar terwujud secara maksimal. Sebagaimana master plan energy tahun 2025 di mana 25 % energi indoensia dihasilkan dari energi terbarukan. Oleh karena itu, mari  bersama kita dukung  kebijakan pemerintah guna mewujudakn visi tersebut disamping terus mengawasi kinerjanya.  Selain itu, kesadaran akan hemat energi harus terus digalakan. Bila sinergisasi elemen terkait bisa berjalan sebagaimana mestinya maka kekuatan ekonomi Indonesia akan semakin meningkat sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia seluas-luasnya.

Sony Ikhwanuddin

Mahasiswa Teknik Kimia, Universitas Indonesia

Referensi:

Biro Riset BUMN center LM FEUI. Analissi Industri Gas Nasioanl. 2012

BPPT (Badan Pengkaji dan Penerapan Teknologi). Energy outlook. 2011

Kajian Dewan Energi Nasional

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM MANDIRI). Buku Panduan Energi yang Terbarukan. 2010

Pusat Data dan Informasi Energi Sumber Daya Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Indoensia Energy Outlook . 2010

Rezavidi, Arya. Membaca Nasib Energi baru dan Terbarukan di Indonesia. Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).

Sekertariat PT PLN (persero). Statistik PLN. 2011

Website : www. esdm.go.id . Kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Republik Indoensia

Website: www.pln.co.id . PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply