Apa itu Biohidrogen?
Jul 9, 2013
Biogas Limbah Sagu sebagai Sumber Energi Ramah Lingkungan
Jul 11, 2013

Membangun Kedaulatan Energi melalui Pengembangan Energi Alternatif

wind_powerDengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia merupakan Negara dengan konsumsi energi yang besar pula.  Pada tahun 2010, konsumsi energi Indonesia naik 5,9% lebih besar dibanding kenaikan rata-rata konsumsi energi dunia 5,6%. Proporsi konsumsi energi terbesar ada pada industri 40,86%, transportasi sebesar 36,87%, rumah tangga sebesar 13,26%, perdagangan sebesar 4,73%, dan lainnya sebesar 4,28%. Hitungan ini tidak termasuk penggunaan biomassa (Kementerian ESDM dalam Banda, 2012)  

Konsumsi energi terbesar selama ini berasal dari bahan bakar fosil yang tidak bisa diperbaharui, yakni BBM 63%, gas 17%, LPG 2%, listrik 10% dan batubara 8% (Sumber: Blueprint Pengelolaan Sumber Energi Nasional 2005-2015). Di masa mendatang pada tahun 2030, komposisi sumber energi dalam negeri tidak akan mengalami perubahan signifikan. Menurut jenis energinya, permintaan energi final masa mendatang masih didominasi oleh BBM. Berdasarkan Skenario Dasar, bauran permintaan energi final 2030 menjadi: BBM 31,1%, gas bumi 23,7%, listrik 18,7%, batubara 15,2%, biomassa 6,1%, BBN 2,7% dan LPG 2,4%. (Indonesian Energy Outlook, 2010)

Ketergantungan yang tinggi pada sumber energi fosil memang menimbulkan dampak yang negatif. Selain, pencemaran lingkungan, Indonesia akan menjadi sangat tergantung pada negara lain untuk dapat memenuhi konsumsi energinya, mengingat cadangan minyak sudah semakin menipis. Secara politik, Indonesia juga akan menjadi sangat riskan terhadap berbagai gejolak yang terjadi di negara-negara pengekspor minyak. Hal ini pada gilirannya akan menyebabkan kedaulatan negara pun dipertaruhkan karena adanya ketergantungan yang besar terhadap negara lain sebagai pemasok sumber energi.

Hal ini tentunya tidak diinginkan terjadi. Langkah untuk segera membuat roadmap kebijakan energi terbarukan pun menjadi keniscayaan. Jika tidak, Indonesia akan tertinggal jauh di belakang dari negara-negara lain yang saat ini sedang bergerak menuju revolusi industri, yakni mulai beralih dari sumber energi konvensional seperti minyak bumi, batu bara dan gas bumi ke energi alternatif yang bisa diperbaharui.

Sebagai contoh adalah shale gas yang mulai dikembangkan oleh negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Amerika Utara, Cina da Eropa. International Energy Agency (IEA) bahkan telah memprediksi Amerika Serikat akan menjadi produsen energi terbesar dunia pada tahun 2017 serta menjadi negara net-eksportir energi pada tahun 2030 dan swasembada energi pada tahun 2035. Hal ini karena kinerja yang dihasilkan oleh pengembangan shale gas di negeri Paman Sam itu hingga akhirnya mampu menurunkan impor energi 20% per tahun yang memperkecil ketergantungannya pada Timur Tengah. (Sugiharto, 2013)

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai Negara yang kaya akan potensi alamnya, Indonesia menyimpan potensi yang besar dalam pengembangan energi alternatif yang selanjutnya bisa dijadikan sumber pasokan energi utama, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk kebutuhan ekspor. Berikut adalah peta potensi sumber energi yang terkandung di Indonesia. (Nuri Ikawati-MITI)

Tabel Potensi Energi Nasional

tabel

Sumber : Blueprint Pengelolaan Sumber Energi Nasional 2005-2015

Keterangan : * Hanya di daerah Kalan, Kalimantan Barat

Referensi :

Blueprint Pengelolaan Sumber Energi Nasional 2005-2015

Indonesian Energy Outlook 2010

Sugiharto. 2013. Revolusi Energi. Dimuat dalam Majalah Gatra, edisi 4-10 Juli 2013

Banda, Ridwan, dkk. 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kegagalan Implementasi Kebijakan Penggunaan BBG pada Taksi di Jakarta. Diunduh dari http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/755d6cd16a04224729946528aaab8b85.pdf, 10 Juli 2013 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply