Sabun Herbal Berbahan Cokelat dan Yoghurt dari UNDIP
Jul 8, 2014
Manfaat Teknologi Nuklir di Bidang Pangan
Jul 10, 2014

Membangun Daya Saing Pangan Lokal di Pasar Modern

jagung muda dan sayuran_mohamat solihin

Indonesia memiliki produk olahan pangan lokal yang sangat beragam, baik yang berbentuk makanan utama, snack ringan, maupun minuman. Diversifikasi pangan ini biasanya berasal dari bahan baku utama singkong, ubi jalar, sagu, jagung, talas, buah-buahan, sayur-sayuran, rempah-rempah, maupun kacang-kacangan. Sayangnya pangan lokal kurang diminati di negeri sendiri. Perubahan gaya hidup, sosial budaya, perkembangan ekonomi, kebiasaan masyarakat makan di luar, gencarnya promosi makanan cepat saji dan makanan instan telah menggeser kedudukan pangan lokal di negeri ini.

Sebagian besar masyarakat Indonesia lebih familiar dengan produk asing dibandingkan pangan lokal. Hal ini dipicu oleh pergolakan besar dalam cara pandang dan gaya hidup manusia secara umum. Munculnya jaringan toko ritel yang bersamaan dengan penggunaan supermarket dan convenience store telah mengubah saluran pemasaran produk makanan secara drastis. Pada fase ini sebagian besar konsumenpun beralih untuk berbelanja di toko ritel modern karena menyediakan pilihan produk yang lebih variatif dan praktis.

Seperti dilansir di worldbank.org bahwa pasar ritel modern sedang marak di Indonesia, pertumbuhannya mencapai 20% per tahun sejak dicabutnya pembatasan ritel pada tahun 1998. Sumber yang sama menyebutkan bahwa pasar swalayan menguasai 30% ritel makanan di Indonesia. Pesatnya pertumbuhan teknologi dan usaha pengolahan makanan pada berbagai skala menuntut pasar yang lebih kuat dan luas untuk menyerap banyaknya output yang dihasilkan. Sejumlah perusahaan pemasaran menangkap ini sebagai peluang sehingga lahirlah jaringan toko ritel modern. Di Indonesia terdapat beberapa jenis toko ritel modern, yakni minimarket, hypermarket, supermarket, dan convenience store. Perbedaannya terletak pada luas lahan, omset bulanan, pelayanan, dan jumlah barang yang diperdagangkan.

Tahun 2004, market share omset ritel pasar modern mencapai 70,5% dari total omset ritel modern di Indonesia dan meningkat menjadi 78,7% pada tahun 2008 dan terus mengalami peningkatan hingga saat ini. Berdasarkan data AC Nielsen Asia Pasific Retail and Shopper Trend 2005 sebagaimana dikutip oleh Euis Sholiha (2008) menyebutkan bahwa berdasarkan analisis rasio keinginan masyarakat di negara Asia Pasifik (kecuali Jepang) menunjukkan bahwa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional menurun sedangkan keinginan masyarakat untuk berbelanja di pasar modern cenderung meningkat sebanyak 2% per tahun.

Fakta lain tentang pasar modern menunjukkan bahwa daya serap ritel modern terhadap produk UKM dalam negeri masih rendah, yakni sekitar 30-40% sampai tahun 2014. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Hendri Hendarta, Ketua Asosiasi Penguasan Ritel Indonesia (APRINDO) Jawa Barat. Produk UKM yang diserap antara lain makanan, minuman, hasil pertanian, serta hasil kerajinan industri rumahan. Tidak dijelaskan secara rinci berapa persen daya serap ritel khusus untuk produk pangan. Dengan kata lain bahwa produk ritel modern didominasi oleh produk Multinational Company atau bahkan produk impor. Maka tidak mengherankan jika pangan lokal kurang diminati karena keberadaannya di ritel modern juga masih sedikit dan bisa jadi kalah bersaing dengan produk dari luar.

Peluang produk lokal untuk masuk ke ritel modern sebenarnya sangat terbuka lebar sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan No. 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, yang mewajibkan pusat perbelanjaan dan toko modern untuk menjual 80% produk lokal atau produk buatan Indonesia. APRINDO secara tegas mengatakan sangat terbuka terhadap produk lokal khususnya dari UKM. Bahkan PT Carrefour yang berpartisipasi dalam acara Pameran Pangan Nusa 2014 menargetkan untuk dapat menyerap 200-300 produk UKM potensial.

Kendala yang dihadapi UKM pengolahan makanan untuk menembus pasar modern adalah lemahnya daya saing produk, meliputi kualitas rasa, kemasan, dan kontinuitas. Perwakilan dari PT Carefour mencontohkan bahwa beberapa produk dari peserta pameran telah memenuhi standar mereka namun belum mampu memenuhi pasokan yang kontinyu mengingat ritel modern sangat menghindari kekosongan produk.

Syarat utama produk untuk masuk ke pasar modern adalah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), nilai pangan, dan nilai gizi. Sesuai dengan UU Perlindungan Konsumen, maka ritel modern tentu sangat bertanggungjawab terhadap kualitas produk yang dipasarkan. Hal ini menuntut pordusen makanan untuk berinovasi dalam meningkatkan daya saing produk, yang meliputi kualitas produk, akses pasar, dan kontinuitas.

Kualitas produk makanan yang utama yakni rasa, nilai pangan, dan nilai gizi. Produk berkualitas saja tentu belum cukup, maka disini dibutuhkan inovasi sehingga pangan lokal yang dikenal sebagai pangan tradisional ini menjadi produk yang kompetitif di pasar. Inovasi misalnya dapat dilakukan dengan melakukan diversifikasi produk, rasa, dan kemasan. Riset pasar menjadi bagian yang penting dalam hal ini sehingga produsen dapat menggali informasi dari para pesaing, informasi pasar, dan lingkungan sehingga produsen dapat meluncurkan produk yang memenuhi persyaratan pasar (ritel) dan preferensi kosumen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa design kemasan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli sehingga pemilihan kemasan menjadi bagian yang penting untuk meningkatkan daya saing produk.

[ads1]

Sebuah produk yang baik dan berkualitas tidak akan menghasilkan penjualan jika tidak tersedia di pasar. Maka mendekatkan produk kepada konsumen menjadi penting, caranya dengan membuka akses pasar dan menghadirkan produknya di banyak tempat. Salah satunya adalah bekerjasama dengan jaringan ritel modern yang kini tersebar hampir di setiap daerah di Indonesia. Belum banyak produk UKM yang mampu menembus ritel modern karena ketatnya syarat kualitas produk. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi produsen untuk menghasilkan produk berkualitas. Distribusi pasar yang luas perlu didukung oleh infrastruktur yang memadai, baik itu menyangkut bangunan rumah produksi, jalan, maupun alat transportasi. Ini menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan infrastruktur yang memadai.

Selanjutnya perlu dilakukan penguatan sistem sehingga supply chain management dalam penyediaan stok produk dapat berjalan dengan baik. Bagi perusahaan besar tentu tidak sulit untuk memenuhi kualifikasi ini. Permasalahan akan terjadi di tingkat UKM yang rata-rata merupakan perusahaan keluarga dan kemampuan modal usaha terbatas. Disinilah perluanya intervensi pihak ketiga untuk membangun kolaborasi antara jaringan UKM sejenis, jaringan ritel modern, pemerintah, dan lembaga penelitian atau akademisi. Model ini salah satunya diterapkan oleh Value Chain Center (VCC) Unpad yang berperan sebagai konsolidator dalam menjembatani bertemunya berbagai stakeholder, yakni akademisi yang membantu transfer teknologi kepada petani, UKM tani, perusahaan eksportir sebagai pembuka akses pasar, dan pemerintah daerah sebagai penyedia infrastruktur untuk memenuhi supply chain sayur dan buah segar untuk memenuhi permintaan pasar ekspor ke Singapura.

Tahun 2015 Indonesia sudah dihadapkan pada ASEAN Free Trade Area (AFTA). Negara-negara yang tergabung dalam AFTA harus menghilangkan semua halangan tarif maupun non tarif untuk menciptakan kawasan perdagangan regional Asia Tenggara yang benar-benar bebas. Contoh konkrit adalah penurunan tarif impor menjadi 0-5% saja bahkan pada akhirnya keseluruhan tarif impor akan dihapuskan menjadi 0%. Dengan 240 juta penduduknya Indonesia akan menjadi pangsa pasar empuk dalam pertarungan AFTA. Dan tak bisa kita pungkiri bahwa produk impor telah membanjiri pasar di negeri ini. Disisi lain AFTA akan membawa dampak positif bagi produsen yang sudah efisien sehingga akses pasar internasional terbuka lebar. Namun juga membawa dampak negatif bagi produsen yang belum efisien sehingga produknya kalah bersaing dengan produk impor.

Dengan demikian pemerintah dan segenap stakeholder terkait perlu segera menyikapi perkembangan kompetitif produksi dunia, khususnya untuk menghadapi AFTA 2015 yang tinggal menghitung hari. Adalah menjadi sebuah kewajiban untuk menjadikan manfaat yang diperoleh AFTA nanti jauh lebih besar daripada ongkos yang dikeluarkan negara untuk AFTA. Logikanya adalah jika produk lokal di ritel pasar modern lokal saja ditolak bagaimana dengan di pasar internasional yang standar kualitasnya lebih tinggi. Maka jika produk dalam negeri ingin kompetitif dengan produk asing, upaya peningkatan daya saing produk lokal menjadi sebuah keharusan dengan dukungan sistem dan investasi yang memadai.

 

Referensi

Anonim. Maraknya Pasar Swalayan di Indonesia Mmebuka Peluang Baru bagi Pasar Tradisional Petani. http://go.worldbank.org/UHDNNSE4Z1

Anonim. 2014. Pameran Pangan, Carrefour Incar 300 Produk UKM. http://industri.bisnis.com/read/20140524/100/230553/pameran-pangan-carrefour-incar-300-produk-ukm

Euis Sholiha. 2008. Analisis Industri Ritel di Indonesia. Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE) Vol. 15 no.2, hal 128-142, ISSN: 1412-3126.

Maulana, Ginanjar Adi/Ria Indhryani. 2014. Serapan Produk UKM di Pasar Ritel Jabar Baru 40%. http://news.bisnis.com/read/20140424/77/222056/serapan-produk-ukm-di-pasar-ritel-jabar-baru-40

Pandin, Marina L. 2009. Potret Bisnis Rite di Indonesia: Pasar Modern. http://www.academia.edu/1069998/Potret_Bisnis_Ritel_Di_Indonesia_Pasar_Modern

Perdana, Tomy and Kusnandar. 2012. The Triple Helix Model for Fruits and Vegetables Supply Chain Management Development Involving Small Farmers in Order to Fulfill the Global Market Demand: a Case Study in “Value Chain Center (VCC) Universitas Padjadjaran”. Procedia-Social and Behavioral Sciences 52 p.80-89.

Wulandari, Dinda. 2014. Pengusaha Ritel Minta UKM Untuk Benahi Kemasan. http://m.bisnis.com/industri/read/20140306/12/208461/pengusaha-ritel-minta-ukm-harus-benahi-kemasan

Tri Hanifawati
Tri Hanifawati
Tri Hanifawati ialah mahasiswi Magister Manajemen Agribisnis UGM. Saat ini juga merupakan Ketua Komunitas Indonesia Membaca, Sekretaris Forum Awardee LPDP DIY dan Anggota MITI Profesi.

1 Comment

  1. Peraturan Menteri Perdagangan No. 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Dianggap sdh baik untuk mengakomodir produk lokal. Akan tetapi daya dukung produksi produk lokal masih sangat minim ditingkat petani, guna menghasilkan jenis produk yang memenuhi kualifikasi standar produk yg pantas dijual/dipajang di pasar modern. Harus menyeluruh mempersiapkan produk2 lokal sejak dari penyediaan lahan yang cocok, bibit, penanaman, pemeliharaan, panen dan kemasan. Disesuaikan dengan kebutuhan pasar modern. Sehingga kualitas produk mampu bersaing dgn produk impor. Pemerintah harus serius memulai dari huluditingkat petani), bukan di hilir(dipasar) .

Leave a Reply