70 Tahun Perjalanan MIGAS Indonesia
Sep 10, 2015
Ancaman Pariwisata Indonesia terhadap Perubahan Iklim Dunia
Sep 16, 2015

Memahami ‘Sociopreneur’ Lebih Dalam (Bagian II)

Earth day 2014Pada bagian 1 tulisan ini, dibahas tentang asal kata sociopreneur, yaitu social dan entrepreneur. Di bagian 2 ini, akan dibahas macam-macam sociopreneur, dengan memasukkan satu lagi unsur kata di antara kata socio dan kata preneur, sehingga menjadi tiga kata. Seperti halnya technopreneur, yaitu wirausaha teknologi, bila ditambah dengan kata socio, menjadi sociotechnopreneur. Atau, healthpreneur, yaitu wirausaha kesehatan, menjadi sociohealthpreneur. Dan masih banyak contoh lainnya.

Munculnya istilah-istilah seperti sociotechnopreneur, sociohealthpreneur, socioecopreneur, dan sebagainya ini, menunjukkan bahwa mereka menawarkan sesuatu yang berbeda dari wirausaha di bidang sama yang sudah ada sebelumnya.

Apa titik perbedaannya? Yuk kita simak pembahasan tentang socioprenuer dari buku Menumbuhkembangkan Sociopreneur Melalui Kerja Sama Strategis. Menurut Adie Nugroho dan Dian Andryanto, penulis buku itu, sociopreneur memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Mencari cara untuk membantu menyelesaikan masalah sosial.
  2. Mencari hal-hal yang belum berfungsi dengan baik, dan menyelesaikan masalah dengan mengubah sistem, menyebarkan solusi, dan meyakinkan orang lain untuk ikut terlibat dalam melakukan perubahan.
  3. Pelaku wirausaha terus berusaha berinovasi terhadap produknya, dengan mempertimbangkan unsur sosial (people), ekonomi (profit), dan lingkungan (earth).
  4. Mampu mencium adanya peluang bisnis
  5. Mampu mendayagunakan sumber daya secara efektif dan efisien
  6. Tidak sekedar untuk memperoleh profit, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial dan berorientasi pada lingkungan sekitar.
  7. Senantiasa menghargai dan menggunakan kearifan lokal serta kekuatan komunitas dalam setiap tindakan proses produksi dilakukan.

Kalau disederhanakan ke dalam sebuah grafik, prosesnya menjadi seperti ini:

1

Mari kita lihat contoh-contoh wirausaha berbasis sosial yang sudah eksis saat ini.

  1. Sociopreneur di bidang teknologi, yaitu dengan cara membantu masyarakat menggunakan teknologi dalam menjalankan bisnisnya (sociotechnopreneur). Contohnya adalah yang telah dilakukan oleh Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) sebagai respon terhadap kebutuhan masyarakat dalam hal inovasi, yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Hal ini MITI lakukan melalui program Hibah MITI dengan memberikan dana awal untuk start up, kemudian dilanjutkan ke progam RCDC (Research and Community Development Centre), berupa pendanaan lebih lanjut, coaching dan booth camp, dan mereka yang telah berhasil melewati masa-masa inkubasi ini, akhirnya akan lolos menjadi UKM yang tergabung di dalam Business and Technology Innovation Center (BTIC). Selengkapnya bisa dilihat di http://miti.or.id/pemberdayaan/community-development/. Salah satu contoh wirausaha yang akhirnya berhasil masuk ke BTIC adalah unit usaha yang dijalankan oleh Juliatin Hulawa, Sarjana Ekonomi Universitas Negri Gorontalo. Produk yang dihasilkan adalah Sambal Sagela dan Abon Sagela dengan merek Ola Mita (http://bti-c.com/tenant-technology-business-incubator/)

2

  1. Contoh Sociohealthpreneur adalah wirausaha kesehatan yang dilakukan oleh Gamal Abinsaid. Dokter muda ini menjawab dua permasalahan sosial sekaligus dalam program Klinik Asuransi Premi Sampah, yaitu masalah kesehatan di masyarakat kelas bawah, dan masalah sampah. Setiap akhir pekan, puluhan warga datang ke klinik ini dengan membawa sampah daur ulang, untuk ditukarkan dengan kartu berobat. Ide kreatif ini membuat dokter Gamal mendapatkan urutan teratas di ajang finalis dunia Unilever Sustainable Living Young Entrepreneurs Awards 2013.

3

  1. Memberikan subsidi silang bagi siswa yang tidak mampu membayar, atau bahkan menggratiskan pendidikan bagi semua siswa dengan mencarikan dana untuk menutupi biaya pendidikan melalui bisnis yang lainnya (socioedupreneur). Hal ini yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa, sebuah lembaga filantropi yang juga menjalankan wirausaha untuk mendanai program-programnya, salah satunya program pendidikan gratis di Smartekselensia. Mereka menjalankan wirausaha jasa training, workshop, dan lain-lain, yang ditujukan untuk berbagai kalangan, baik itu ke eksekutif, ke guru-guru sekolah lain, maupun murid-murid sekolah lain. Selengkapnya bisa dilihat di http://www.smartekselensia.net/smart-enterprise/#tab-id-1.

4

  1. Menggunakan bahan-bahan limbah yang tidak terpakai, memberdayakan masyarakat miskin dengan mengajarkan mereka mengolah limbah tersebut, menjadi barang yang bisa dijual. Keuntungan bisnisnya digunakan untuk program pelestarian lingkungan (socioecopreneur). Salah satu contohnya adalah yang dilakukan oleh Eco do Indonesia, yaitu memanfaatkan bulu domba yang dianggap sebagai limbah, dan akar wangi yang banyak dan mudah didapati di Garut, menjadi bahan baku yang murah, dan diolah menjadi pajangan yang lucu dan wangi. Selengkapnya bisa dilihat di www.ecodoeindonesia.com

5

Kalau melihat contoh-contoh di atas, kita jadi tahu ya, bahwa banyak hal yang bisa dijadikan sebagai wirausaha berbasis masyarakat. Apakah harus selalu inovasi (hal-hal yang baru), yang dilakukan di sociopreneur? Yuk, kita tunggu jawabannya di pembahasan selanjutnya.

Femina Sagita
Femina Sagita

Femina Sagita Borualogo menyelesaikan studi doktoralnya di bidang Sosiologi, Department of Behavioral and Social Sciences, Graduate School of Humanities, Tokyo Metropolitan University. Seorang Sosiolog yang aktif dalam mengisi seminar maupun memberikan training serta advokasi baik di masyarakat, pemerintah, sektor swasta, maupun Dewan Perwakilan Rakyat.

Leave a Reply