Penemuan Ilmuwan Dunia asal Indonesia dari Masa ke Masa
Aug 28, 2015
Bahan Bakar Gas: Berani atau Krisis ?
Sep 4, 2015

Memahami ‘Sociopreneur’ Lebih Dalam (Bagian I)

SONY DSC

Akhir-akhir ini, istilah sociopreneur, semakin akrab di telinga. Kata ini berasal dari dua kosa kata Bahasa Inggris yaitu social (masyarakat) dan entrepreneur (pengusaha).

Ada juga istilah social enterprise yang saya anggap memiliki definisi yang sama dengan social entrepreneurship. Menurut pemerintah Inggris, social enterprise adalah bisnis yang orientasi utamanya adalah sosial dan lingkungan, di mana keuntungan yang didapatkan akan diinvestasikan kembali ke tujuan bisnis mereka, yaitu sosial dan lingkungan, dan bukan dibayarkan ke pemilik modal.

Jadi, secara singkat, sociopreneur adalah pengusaha yang orientasinya bukan semata-mata mendapatkan keuntungan finansial pribadi, dan bahkan orientasi ini sama sekali tidak terlintas di kepalanya, melainkan kemaslahatan masyarakat lah yang menjadi orientasi usahanya.

SONY DSC

Pemaparan Business Model Canvas salah satu peserta boot camp RCDC MITI 2015

Apakah sociopreneur itu menunjuk pada sebuah badan usahanya, atau orangnya, atau aktifitasnya?

Sociopreneur bisa disebutkan sebagai ketiga-tiganya. Ia bisa berupa orang, bisa berupa perusahaan, dan bisa juga aktifitas. Mari kita buat simak kisah berikut.

Fika adalah seorang atlit karate sebelum dia berhijab. Suatu saat, ia menyadari tentang kewajibannya sebagai muslimah, yaitu menggunakan hijab. Orang-orang di sekeliling Fika menganggap Fika tidak bisa berprestasi lagi di bidang karate dikarenakan dia sudah mengenakan hijab. Fika ingin membuktikan bahwa hijab tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi, sehingga ia membentuk komunitas Hijab Speak (http://hijabspeak.com/) dengan moto “Let’s speak up with hijab.”

Awalnya Fika hanya rajin memposting quote ayat-ayat atau nasehat-nasehat keIslaman yang ia pelajari via twitter. Ternyata lama kelamaan followernya semakin banyak dan dalam waktu 2 tahun ini, Fika sudah mempunyai 90.000 follower.

Ternyata modal ketrampilan bermain di media sosial dan mengatur acara temu darat, bisa menjadi modal penting untuk sociopreneur, seperti halnya yang Fika alami. Hijabspeak sekarang memiliki empat divisi, yaitu social care, green movement, Islamic value, dan women empowerment. Kesemua divisi ini didedikasikan untuk anggota dan non anggota Hijabspeak, dan seluruhnya gratis.

Salah satu contoh bentuk sociopreneur

Salah satu contoh bentuk sociopreneur

Dari mana mereka mendapatkan donasi? Di sini bedanya lembaga filantrofi dengan sociopreneur. Lembaga filantropi memberikan bantuan kepada masyarakat baik itu berupa barang, jasa, maupun peningkatan kapasitas, melalui dana dari donator. Sociopreneur mendapatkan dana dari bisnis yang dilakukannya. Untuk kasus Hijabspeak, selain mereka mendapatkan kerja sosial dari anggotanya, yaitu anggota yang mengelola website tidak dibayar alias volunteer, Hijabspeak juga berbisnis, seperti menjual tumbler produksi mereka, dan mengelola website.

Apa beda Sociopreneur dengan kerja sosial?

Istilah kerja sosial akrab di telinga kita, mungkin sekitar di era Bapak Soeharto, atau bisa juga disebut di masa orde baru, ya. Yang jelas, kerja sosial menekankan pada aktifitasnya. Biasanya di zaman orde baru, kita diakrabkan dengan kegiatan gotongroyong, ibu-ibu PKK, siskamling, dan sebagainya. Itu semua adalah kerja sosial, karena pelaku aktifitas tersebut tidak meminta dan tidak menerima bayaran.

Kerja sosial, semakin hari memudar dari kehidupan masyarakat Indonesia. Walau masih ada juga kegiatan-kegiatan yang tidak memberikan bayaran kepada pelakunya, misalnya kepanitiaan di acara 17 Agustusa. Kegiatan seperti ini adalah kegiatan insidentil.

Lalu, apakah kerja sosial hilang sama sekali dari Indonesia?

Kerja sosial tidak sepenuhnya hilang, tapi ia bermetamorfosis menjadi lebih melembaga. Kalau di zaman orde baru, kerja sosial memang tidak selalu berada di bawah sebuah struktur organisasi, maka kerja sosial sekarang ini berada di bawah lembaga-lembaga filantropi. Lembaga filantropi seperti lembaga penyalur sedekah, zakat, CSR, dan sebagainya ini, menggaji para pekerjanya untuk mengelola bantuan ke masyarakat.

Apa bedanya sociopreneur dengan lembaga filantropi? Apa juga perbedaan sociopreneur dengan organisasi sosial kemasyarakatan (civil society organization/CSO)?

Secara singkat, bagaimana posisi lembaga filantropi, sociopreneur, dan CSO bisa dilihat di bagan berikut ini:

Lembaga FilantropiSociopreneurCivil Society Organizations (CSO)
Orientasi kerjaSosialSosialSosial
Sumber danaDonasi pribadi, donasi lembaga, CSR.CSR, lembaga donor, pemerintahOrganisasi, donatur, iuran anggota, badan usaha
SustainabilityTidak SustainableSustainableSustainable
Benefit bagi pelakuKepuasan jiwaNetworking yang luas, pekerjaan, keterampilan, honorStrata sosial, kepentingan politis, networking
Relasi dengan PemerintahTidak adaSebagai rekanSebagai pengontrol kebijakan
Menghasilkan dana donasiTidak menghasilkan dana donasiMenghasilkan dana donasiMenghasilkan dana donasi
ModalKapital, jejaringSosial (jejaring), keahlian-keahlian (menulis, fotografi, media sosial),Kapital, jejaring, politis, pendidikan
DampakSkala lokal, nasionalSkala lokal, nasional, regional, internasionalSkala lokal, nasional, regional
Contoh di IndonesiaDompet Dhuafa, Rumah Zakat Indonesiahijabspeak.com, cewequat.comMuhammadiyah, NU, ICW

 

*Bersambung ke artikel Memahami ‘Sociopreneur’ Lebih Dalam (bagian II).

Femina Sagita
Femina Sagita
Femina Sagita Borualogo menyelesaikan studi doktoralnya di bidang Sosiologi, Department of Behavioral and Social Sciences, Graduate School of Humanities, Tokyo Metropolitan University. Seorang Sosiolog yang aktif dalam mengisi seminar maupun memberikan training serta advokasi baik di masyarakat, pemerintah, sektor swasta, maupun Dewan Perwakilan Rakyat.

Leave a Reply