Beranda Inovasi Official Call for Contributor Artikel dan Opini Edisi Desember 2013
Dec 6, 2013
Early Warning System Dalam Usaha Forest Genetic Conservation Melalui Teknik Biologi Molekuler
Dec 23, 2013

Melihat Kembali Kondisi Sungai Indonesia: Sungai Citarum

Tidak dapat dipungkiri bahwa sungai memiliki fungsi ekonomi yang menguntungkan, misalnya sebagai pusat perdagangan. Fungsi ekonomi ini yang mendorong pembangunan disekitar daerah aliran sungai. Namun, seharusnya pembangunan disekitar sungai tidak serta-merta membawa pencemaran langsung ke sungai dan  tidak merusak daerah aliran sungai (DAS).

sungai sampah gettyimages

Sumber ilustrasi: Gettyimages.com

Secara terminologi DAS didefinisikan sebagai suatu hamparan wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak  sungai dan keluar pada sungai utama ke laut atau danau (Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air 2002).

Fungsi utama DAS adalah sebagai penyedia air secara berkelanjutan. Terkait dengan fungsi utama tersebut penelitian Van Noordwijk et al. (2004) mengungkapkan DAS harus memiliki kriteria hidrologis, yakni untuk transmisi air, penyangga pada puncak kejadian hujan, pelepasan air secara perlahan, memelihara kualitas air, mengurangi perpindahan massa tanah dan mengurangi erosi serta mempertahankan iklim mikro. Berdasarkan kriteria tersebut secara kasat mata sebagian besar daerah aliran sungai di Indonesia masih mengalami masalah pengelolaan ekosistem dan lingkungan hidup DAS.

Saat ini sungai di Indonesia cenderung dianggap sebagai halaman belakang, sehingga dampaknya adalah sungai sebagai tempat untuk pembuangan limbah. Sehingga tak jarang sungai-sungai di Indonesia lebih memberikan kesan kotor. Salah satu sungai yang kondisinya cukup memprihatinkan adalah Sungai Citarum. Buruknya kondisi Sungai Citarum menempatkannya kedalam 12 DAS prioritas pengelolaan DAS terpadu untuk memperbaiki kondisi Sungai Citarum. Sungai Citarum sendiri merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Sungai Citarum memiliki panjang 269 Km dengan sumber mata air dari mata air Gunung Wayang (di sebelah selatan kota Bandung), mengalir ke utara melalui bagian tengah wilayah propinsi Jawa Barat dan bermuara di Laut Jawa.

Pada bagian hulu sungai biasanya akan ditemui air yang jernih, namun pemandangan berbeda tampak pada daerah hulu Sungai Citarum disebabkan oleh pencemaran dari usaha peternakan penduduk. Sebagian besar penduduk pada daerah hulu sungai memiliki ternak sapi, dimana setiap harinya kurang lebih 24 ton kotoran sapi dibuang langsung ke sungai tanpa melalui pengolahan. Kondisi tersebut diperparah dengan pencemaran dari bahan pewarna kain yang bersumber dari pabrik tekstil sekitar Kecamatan Majalaya. Akibatnya, banyak masyarakat yang menderita gatal-gatal/dermatitis. Berdasarkan pengamatan terjadi pencemaran berat terjadi di Sungai Citarum, yang ditandai dengan tingginya kadar koli tinja, rendahnya oksigen terlarut, BOD, COD dan zat tersuspensi pada semua lokasi hingga ke hilir.

Pencemaran Sungai Citarum paling banyak disebabkan oleh banyaknya air limbah yang masuk ke dalam sungai yang berasal dari berbagai sumber pencemaran yaitu dari limbah industri, domestik, rumah sakit, peternakan, pertanian dan sebagainya (ASER 2008, BPLHD). Kandungan pencemaran tertinggi adalah limbah organik rumah tangga (60%) dan limbah berat (30%) yang berasal dari pabrik disekeliling Sungai Citarum. Selain kerusakan nyata yang nampak pada sungai, penyerapan hidrologis Sungai Citarum juga semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data tahun 2010, terjadi penurunan 10 cm muka tanah Sungai Citarum setiap tahunnya akibat pengambilan air tanah secara massif. Meskipun demikian, dari segi kesegaran air, kadar oksigen Sungai Citarum sangat rendah bahkan ada yang mencapai nol.

Masalah pengelolaan sungai dan DAS perlu diselesaikan dengan pendekatan terpadu dan menyeluruh. Pendekatan ini menuntut suatu manajemen terbuka yang menjamin keberlangsungan proses koordinasi antara lembaga terkait. Pendekatan terpadu juga memandang pentingnya peranan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS, mulai dari perencanaan, perumusan kebijakan, pelaksanaan dan pemungutan manfaat (Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air 2002). Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya pengelolaan sungai dapat dimulai dari diri sendiri dengan memanfaatkan air sesuai keperluan dan tidak membuang sampah pada saluran air.

 

Referensi:

Van Noordwijk et al. 2004. Peranan Agroforestri Dalam Mempertahankan Fungsi Hidrologi Daerah Aliran Sungai (Das). Jurnal AGRIVITA  VOL. 26  No. 1 ISSN : 0126 – 0537. Diunduh dari http://www.worldagroforestry.org/sea/Publications/files/book/BK0063-04/BK0063-04-1.pdf

[Anonim].2009. Cita-citarum. Diunduh dari http://www.citarum.org/node/193

Direktorat Kehutanan dan konservasi Sumbedaya Air.2002. Kajian Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terpadu. Diunduh dari http://www.bappenas.go.id/files/1213/5053/3289/17kajian-model-pengelolaan-daerah-aliran-sungai-das-terpadu__20081123002641__16.pdf

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply