Penerapan Produksi Bersih Menuju Industri yang Berkelanjutan
Jan 7, 2014
Official Call for Contributor Artikel dan Opini Edisi Januari 2014
Jan 15, 2014

Mau Dibawa Kemana Sampah Elektronik (E Waste)?

Sampah peralatan listrik dan elektronik adalah salah satu jenis sampah yang paling cepat pertumbuhannya di dunia. Dalam Noromon (2009) mengatakan bahwa revolusi industri jumlah peralatan elektronik yang dijual di pasar dunia mencapai puncaknya pada tahun 1980 sampai dengan 1990, dimana peralatan tersebut sudah habis pakai antara 10 sampai dengan 20 tahun. Sehingga dapat dibayangkan saat ini semua peralatan tersebut sudah habis masa pemakaiannya dan menjadi limbah peralatan elektronik dan listrik rumah tangga atau sering disebut sebagai Waste Electrical and Electronic Equipment (WEE) atau sering disebt sebagai Electronic Waste (E Waste). Istilah sampah elektronik (E Waste) secara umum didefinisikan barang atau peralatan elektrik dan elektronik yang sudah usang, telah berakhir daur hidupnya dan tidak lagi memberikan nilai atau manfaat bagi pemiliknya (UNEP, 2007). Sampah elektronik dunia bertambah sekitar 40 juta ton per tahun (UNEP, 2007).

e-waste

Sumber Ilustrasi: scvnews.com

Sampah elektronik mengandung berbagai jenis zat, mulai dari yang masuk kategori tidak berbahaya sampai dengan yang sangat berbahaya dan memberikan potensi ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Menurut hasil penelitian Fishbein (2002), Scharnhorst et al (2005) didalam komponen penyususn barang-barang elektronik ditemukan bahan toksik antara lain arsenik, berilium, kadmium, dan timah diketahui sangat presiten dan sebagai subtansi biokumulasi. Ancaman terhadap kesehatan dari bahan beracun dan berbahaya yang dikandung dalam sampah elektronik antara lain dapat meracuni manusia dan merusak system saraf, mengganggu system peredaran darah ginjal, perkembangan otak anak, alergi, kerusakan DNA, serta menyebabkan cacat bawaan, mengganggu system peredaran darah ginjal dan kanker.

Tabel 1 komposisi beberapa jenis sampah elektronik

Beberapa permasalahan yang mungkin timbul terkait dengan pengelolaan sampah elektronik perlu mendapat perhatian yang serius, antara lain terkait dengan aspek teknologi daur ulang, aspek ekonomi, politik dan masalah sosial yang menyertainya. Sampah elektronik dapat di daur ulang secara ekonomis bila mampu mengahsilkan bahan-bahan berharga dalam jumlah yang memadai melalui proses daur ulang. Sehingga perlu adanya kebijakan dalam pengelolaan sampah elektronik antara lain mencakup penggunaan kembali (reuse), pengurangan jumlah (reduce), dan daur ulang (recycle), atau pembuangan akhir. Belum adanya kebijakan dan peraturan legal tentang E Waste maka masih belum jelas penanganan sampah elektronik di Indonesia.

Pemerintah seharusnya membuat dan mengimplementasikan kebijakan atas penanganan E Waste untuk menangani sampah elektronik yang semakin hari semakin menggunung dan dapat menimbulkan masalah sosial. Implementasi kebijakan yang perspekstif perluasan tanggung jawab produsen (estended producers responsibility) mungkin salah satu solusi untuk menanggulangi E Waste,seperti negara Cina dan Thailand yang siap mengimplementasikan peraturan tersebut.

Ekha Rifki Fauzi

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Referensi:

E Waste Composition.  “Komposisi Beberapa Jenis Sampah Elektronik” Online : http://ewasteguide.info/material_composition, diakses pada 20 Desember 2011

UNEP. 2007. E-Waste Volume I : Inventory Assessment Manual. United Nations Environment Programme. Osaka/Shiga.

UNEP. 2007. E-Waste Volume II : E-Waste Management Manual. United Nations Environment Programme. Osaka/Shiga.

Nnorom IC, Ohakwe J. 2009.  Osibanjo O., Survey of willingness of residents to participate in electronic waste recycling in Nigeria : Acase Study of Mobil Phones. Clear Production. 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

1 Comment

  1. Wah mantep ni ji… Sampah elektronik memang mash jarang diperhatikan tapi jumlahnya kian bertambah…

Leave a Reply