Satu Jam Bersama: Penemu Nanoscope Dr. Ratno Nuryadi, M.Eng
Mar 28, 2016
Ciptakan Pasta Gigi dari Cangkang Telur, Mahasiswa Brawijaya Raih Medali Emas di Ajang Internasional
Mar 29, 2016

Mari Berjaya Perempuan Indonesia!

Sumber ilustrasi: antaranews.com

Sumber ilustrasi: antaranews.com

Selamat Hari Perempuan, Perempuan Indonesia! Tanggal 8 Maret 2016 kemarin diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Memang bukan peringatan yang besar layaknya peringatan Hari Besar Agama atau Hari Besar Nasional, tetapi Hari Perempuan mengingatkan kaum perempuan khususnya bahwa perempuan adalah makhluk Tuhan yang istimewa dengan berbagai dinamika dan kompleksitasnya. Tanpa bermaksud mendiskreditkan kaum pria, namun peringatan Hari Perempuan ini menjadi pengingat untuk melihat kondisi para perempuan di Indonesia yang penuh lika-liku perjuangan.

Apa yang terpikirkan soal perempuan Indonesia? Ini bukan hanya tentang karakteristik perempuan Indonesia yang katanya berwajah ayu, lemah lembut serta berkharisma seperti perempuan Timur pada umumnya, tetapi lihatlah lebih jauh ada banyak masalah-masalah yang dihadapi perempuan-perempuan tangguh Indonesia yang berjuang untuk kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Ironisnya, mungkin kita bisa melihat perempuan-perempuan Indonesia sesungguhnya justru dari potret-potret kemiskinan di Indonesia. Perempuan-perempuan yang berdagang di pasar kumuh sambil membawa anaknya seperti mama-mama di Papua, perempuan-perempuan yang mengemis sambil menggendong anaknya menyusuri jalanan ibukota, atau perempuan-perempuan yang membersihkan kerang hasil tangkapan nelayan demi menghasilkan ribuan rupiah setiap harinya di Cilincing Jakarta Utara.

Menurut laporan Badan Pusat Statistik bulan Januari 2014, jumlah penduduk miskin di Indonesia 28.550.000 orang, yaitu bertambah 480.000 jiwa sejak periode sebelumnya Maret-September 2013. Dari keseluruhan jumlah penduduk miskin di Indonesia, jumlah masyarakat miskin yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari pria. Ironisnya, kemiskinan pada perempuan semakin tercermin pada rendahnya partisipasi dalam pendidikan dan ekonomi karena indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dari tiga aspek yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Partisipasi perempuan dalam pendidikan untuk semua batasan umur sejak tahun 1971 hingga 2004 lebih rendah dibandingkan laki-laki. Secara umum pendidikan perempuan masih lebih rendah dibandingkan laki-laki pada tingkat pendidikan yang ditamatkan, ijazah tertinggi, bahkan akses terhadap bahan bacaan (media). Keadaan ini memperlihatkan bahwa pendidikan bagi perempuan masih belum dipandang sebagai sesuatu yang penting. Kemudian dalam bidang ekonomi, secara umum partisipasi perempuan masih rendah. Kemampuan perempuan untuk memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. Begitu pula akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu 45% (2002), sedangkan laki-laki 75,34% (Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002 dalam Wirutomo, 2012). Sedangkan pada tahun 2003, TPAK laki-laki lebih besar dibandingkan TPAK perempuan yakni 76,12% berbanding 44,81% (Statistik Kesejahteraan Rakyat 2003 dalam Wirutomo 2012).

Melihat data ini seolah perempuan menjadi beban dalam pembangunan. Padahal penduduk berjenis kelamin perempuan yang berjumlah 49,9%  (102.847.415) dari total (206.264.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000), merupakan sumber daya pembangunan yang cukup besar. Menurut Raga (2007) dalam Bota dan Purnomo (2014), secara absolut jumlah perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, perempuan bukanlah menjadi beban pembangunan melainkan menjadi potensi pembangunan. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Dan sebaliknya, bila kaum perempuan kurang berperan maka hal itu akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan menjadi beban pembangunan.

Untuk bisa menjadikan perempuan sebagai potensi pembangunan yang baik, bukan hanya sekedar memberikan lapangan pekerjaan saja agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena kesejahteraan terlihat melalui tiga elemen utama yaitu tingkatan dimana suatu masalah sosial dapat dikelola; sejauh mana kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi; dan tingkatan dimana kesempatan untuk mengembangkan diri disediakan ataupun difasilitasi oleh pemerintah (Midgley, 1995 dalam Adi, 2012).Oleh karena itu, sejatinya pemberdayaan perempuan bukan hanya berbicara soal ekonomi, melainkan mengenai peningkatan kapasitas perempuan untuk meningkatkan derajat kehidupannya, mengenai pemerataan kesempatan, serta kemudahan akses untuk mobilitas sosial.

Untuk membangun SDM perempuan Indonesia yang unggul harus mengkombinasikan tiga strategi besar, yang mengkombinasikan antara individu, komunitas, dan pemerintah. Pemerintah membuka akses dan memberikan fasilitas, komunitas memberikan pelayanan dan pemantauan, sementara individu mengembangkan potensi dirinya sesuai bakat dan minat masing-masing. Potensi sumber daya perempuan besar, tetapi pemanfaatan SDM perempuan sebagai tenaga produktif belum proporsional. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan dengan mengkombinasikan tiga strategi ini merupakan salah satu agenda prioritas dan menjadi salah satu kunci keberhasilan upaya-upaya pembangunan kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, semoga bukan lagi potret-potret kemiskinan yang kita jumpai pada perempuan Indonesia di masa mendatang. Mari Berjaya Perempuan Indonesia! (SA)

 

Referensi :

Adi, Isbandi Rukminto. 2012. Intervensi Komunitas dan Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Depok : RajaGrafindo Persada.

Candraningrum, Dewi. 2014. Ekofeminisme II : Narasi Iman, Mitos, Air dan Tanah. Yogyakarta : Jalasutra.

Midgley, James. 2014. Social Development : Theory and Practice. London : Sage Publications.

Sachs, Jeffrey D. 2008. Common Wealth : Economics for A Crowded Planet. New York : The Penguin Press.

Suyanto, Bagong. 2013. Anatomi Kemiskinan dan Strategi Penanganannya. Malang : Intrans Publishing.

Wirutomo, Paulus. 2012. Sistem Sosial Indonesia. Depok : FISIP UI Press.

http://www.sapa.or.id/b1/99-k2/9377-penanggulangan-kemiskinan-21160

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply