Mari Merakit Robot!
Aug 21, 2015
Pengukuran Kolesterol Darah Menjadi Lebih Efisien. Bagaimanakah Caranya?
Aug 25, 2015

kampanye Go Pangan Lokal_Khairuddin Safri 012

Keterbelakangan negara-negara dunia ketiga sering disangkutpautkan dengan ekspansi imperalisme negara-negara maju. Terdapat hubungan dialektis antara keberhasilan negara-negara maju dengan keterbelakangan negara-negara dunia ketiga. Dunia ketiga semakin terbelakang dianggap karena bertambahnya pengaruh negara-negara maju. Keterbelakangan itu justru merupakan hasil kontak yang diadakan mereka dengan dunia barat, kontak yang tidak menularkan nilai-nilai modern yang dibutuhkan dalam pembangunan, tetapi sebaliknya membuat sebuah kolonialisme di dalam negeri yang dilakukan para elite bekerjasama dengan pemodal dari luar negeri dan mengeksploitasi masyarakat sebagai konsumen setia yang mereka populerkan dengan istilah budaya modern.

Di Indonesia, laju difusi budaya moden gencar terjadi hingga menyentuh setiap sendi-sendi masyarakat, tak terkecuali perilaku konsumsi dan pilihan produk pangan. Produk pangan impor kini tak kalah saing dengan pangan lokal, bahkan mengungguli pada berbagai persepsi masyarakat. Dengan harga yang ditawarkan lebih murah, masyarakat tentu lebih memilih produk pangan impor yang bisa jadi diragukan pada segi kualitas.

Anda adalah Apa yang Anda Makan

10246638_561769043939676_2645023352744562955_nIstilah Anda adalah apa yang Anda makan cukup terkenal di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini berkaitan dengan pengaruh makanan yang dikonsumsi bagi kesehatan konsumen. Penyakit degeneratif yang kini menjadi penyebab kematian terbesar di dunia muncul seiring dengan pertambahan usia maupun gaya hidup yang kurang sehat, termasuk gaya dalam mengonsumsi makanan.Data WHO menyebutkan bahwa 17 juta orang meninggal lebih dini setiap tahunnya disebabkan penyakit degeneratif, dan 80 persen diantaranya ditemukan di negara dengan pendapatan sedang dan rendah termasuk Indonesia.

Gaya konsumsi masyarakat kini bergeser mengikuti arus modernisasi yang dibuat oleh negara-negara produsen pengekspor produk pangan. Pangan impor dikenalkan sebagai makanan modern, sedangkan pangan lokal dianggap ketinggalan zaman. Masyarakat beralih pada pangan impor agar terlihat tidak ketinggalan zaman dan mengikuti arus modernisasi yang belum jelas arah dan tujuannya. Seperti halnya mengonsumsi buah dan sayur, meski berbagai macam buah dan sayur dapat tumbuh subur di Indonesia, produk pangan impor tetap merajalela di Indonesia. Petani lokal gigit jari karena produk mereka kalah saing dengan produk pangan impor yang lebih diminati oleh konsumen dalam negeri.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) pada tahun 2013 menunjukkan kecenderungan bahwa masyarakat Indonesia lebih memilih produk pangan asing sebab memiliki keunggulan pada segi penampilan produk, kemasan, hingga dianggap dapat menambah rasa percaya diri konsumen. Padahal jika dicermati, produk pangan lokal seperti buah dan sayur memiliki kandungan gizi yang lebih sehat daripada produk impor.

Produk pangan lokal yang dijual di pasar sebagian besar tidak melalui proses pengawetan. Buah dan sayur segar dapat langsung didistribusikan setelah dipanen dari kebuh kepada masyarakat. Berbeda dengan produk pangan impor yang harus melalui proses pengawetan pada proses bioteknologi untuk menjadikan produk tersebut tetap segar meski menempuh perjalanan yang lama. Zat gizi yang dikandung oleh buah dan sayur lokal juga lebih baik daripada produk pangan impor, karena beberapa produk dipanen sebelum matang agar tidak mengalami pembusukan saat sampai di Indonesia. Produk pangan lokal relatif lebih aman dikonsumsi, terlebih jika dihasilkan tanpa menggunakan pestisida dan zat kimia lainnya.

Pengembangan Pangan Lokal Indonesia

Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Singapura. Hal ini karena wilayah yang lebih luas dan jumlah penduduk lebih dari Malaysia dan Singapura. Namun, daya saing Indonesia yang diukur dengan keunggulan kompetitif, jauh di belakang Malaysia dan Singapura. Singapura berada di peringkat 2 dan Malaysia berada di peringkat 20. Sementara Indonesia berada di peringkat 34 dari 144 negara (World Economic Forum 2015). Oleh karena itu, berbagai upaya harus dilakukan untuk meningkatkan keunggulan dan daya saing bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan inovasi teknologi, dan pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kemandirian bangsa yang salah satunya leewat kemandirian dan kedaulatan pangan.

Pengembangan produk pangan lokal dilakukan karena Indonesia memiliki keragaman hayati yang sangat kaya dan belum dimanfaatkan secara optimal. Keanekaragaman tersebut mencakup tingkat ekosistem, tingkat jenis, dan tingkat genetik, yang melibatkan makhluk hidup beserta interaksi dengan lingkungannya.

Produsen pangan nasional sudah saatnya menghidupkan kembali sumber-sumber pangan lokal untuk menghentikan kemerosotan keragaman varietas jenis pangan yang dibudidayakan oleh petani. Apabila kondisi ini terus dikembangkan di seluruh wilayah nusantara, maka kemampuan nasional untuk meningkatkan produksi pangan pasti akan meningkat sekaligus menghindarkan ketergantungan terhadap jenis pangan tertentu.

Dalam upaya membangun kemandirian daerah, usaha mikro dan kecil bisa menjadi salah satu cara untuk mengembangkan industri agribisnis daerah. Hal ini dikarenakan sektor usaha tersebut merupakan sektor usaha yang mendominasi pangsa unit usaha di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2010 pangsa usaha mikro dan kecil mencapai 99,91 persen dari total unit usaha atau sebanyak 1.57.631 unit. Begitu pula dengan penyerapan tenaga kerja, sektor usaha mikro kecil adalah sektor yang secara agregat paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2010, usaha mikro kecil menyerap 96.641.923 tenaga kerja atau 94,53 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Kontribusi usaha mikro kecil terhadap PDB Indonesia juga cukup besar, yaitu mencapai 43,40 persen. Dengan demikian, usaha mikro dan kecil cukup berpotensi untuk mengembangkan industri kreatif daerah berbasis pangan lokal.

Potensi industri kreatif dan pangsa usaha mikro dan kecil merupakan peluang untuk mengembangkan kemandirian daerah berbasis pangan lokal. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris memiliki potensi pangan lokal yang beragam. Beberapa daerah di Indonesia yang memiliki potensi pangan lokal seperti Gorontalo dengan jagungnya dan Papua dengan sagunya pada kenyataannya pun masih bertumpu pada beras sebagai makanan pokoknya. Seperti telah terjadi pergeseran paradigm tentang program swasembada beras yang dicanangkan pemerintah, sehingga daerah-daerah yang berpotensi untuk mengembangkan potensi lokal justru mengarahkan konsumsinya pada beras.

Oleh karena itu, untuk menyadarkan masyarakat luas akan pentingnya pemilihan konsumsi yang mengarahkan pada produk pangan lokal dilakukan dengan menggalakan gerakan kampanye. Gerakan kampanye yang diakukan melalui media sosial dan kampanye di jalan untuk mengajak masyarakat setempat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengkonsumsi dan membeli produk dari produsen yang dapat berupa pengusaha dan UKM yang memiliki basis pangan lokal.

Gerakan Go Pangan Lokal

kampanye Go Pangan Lokal_Khairuddin Safri 06

Membudayakan kembali pangan lokal bukan hanya akan menghilangkan ketergantungan pada salah satu makanan pokok saja, tapi juga menambah asupan gizi yang lebih beragam, meningkatkan kesejahteraan petani, dan membangkitkan perekonomian para pelaku usaha pangan nasional serta menghemat pengeluaran negara untuk impor. Selain itu, dengan kembali mengkonsumsi pangan lokal, bangsa Indonesia tidak akan kehilangan budayanya.

Gerakan Go Pangan Lokal bertujuan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk bangga pada pangan lokal dan mulai beralih kepada pangan lokal dalam konsumsi keseharian. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dapat menjadi motor penggerak dalam gerakan ini melalui pembiasaan menu makanan sehari-hari yang beragam. Dimulai dari keluarga, saat ini dan hal yang paling kecil.

Gerakan Go Pangan Lokal diselenggarakan oleh MITI sejak tahun 2013 diawali dengan survei perilaku konsumen yang menghasilkan fakta bahwa konsumen dalam negeri ternyata lebih menyukai produk-produk impor. Gerakan ini dilakukan dengan cara mengedukasi masyarakat melalui jejaring media sosial, media massa, video edukasi, kompetisi, dan kampanye lapang.

Kampanye lapang untuk mengedukasi masyarakat dilakukan oleh MITI dan MITI Klaster Mahasiswa bersama jejaring dari kalangan mahasiswa, LSM, dan UMKM setiap tahunnya. Selain itu, kegiatan ini juga didukung oleh pemerintah daerah hingga pemerintah pusat setingkat kementerian. Gerakan kampanye lapang Go Pangan Lokal ini diselenggarakan di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Medan, Jambi, Makassar, Samarinda, dan kota-kota besar lainnya. Tindak lanjut dari kampanye lapang adalah pengelolaan jaringan dan pemberian masukan bagi kebijakan pemerintah.

Gerakan Go Pangan Lokal diharapkan dapat menjadi sarana penyadaran kepada masyarakat untuk kembali mencintai pangan lokal khas Indonesia yang dihasilkan dari hasil bumi Indonesia. Dengan bergerak bersama merangkul berbagai lapisan masyarakat, MITI berharap dapat berkontribusi dalam usaha perwujudan kedaulatan pangan Indonesia. Peduli pangan lokal untuk membangun daya saing dan kedaulatan pangan Indonesia.

Klik GO PANGAN LOKAL, BEST LOCALLY!!!

Epilog

 Asumsi yang mendasari teori dependensi adalah ketergantungan dilihat sebagai suatu gejala yang sangat umum dan cenderung berlaku bagi seluruh negara dunia ketiga. Ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang diakibatkan oleh faktor eksternal bukan faktor internal yang mencakup modal dan tenaga kerja, tetapi akibat warisan sejarah kolonial dan pembagian kerja internasional. Ketergantungan juga dilihat sebagai masalah ekonomi yang menunjukkan adanya surplus ekonomi ke negara maju dan kemerosotan nilai tukar perdagangan. Keadaan ketergantungan “bertolak belakang” dengan pembangunan sehingga peluang pembangunan di negara pinggiran mustahil terlaksana.

Semoga Gerakan Go Pangan Lokal yang telah dua tahun dan akan terus dilaksanakan oleh MITI dan jejaring yang memiliki pandangan yang sama dapat melepaskan belenggu ketergantungan pangan Indonesia kepada negara luar. Mari mengonsumsi pangan lokal untuk hidup berdaulat dengan badan yang sehat!

Deslaknyo Wisnu Hanjagi
Deslaknyo Wisnu Hanjagi
Deslaknyo Wisnu Hanjagi menunjukkan kecintaannya terhadap bidang pertanian sejak kecil. Lahir dari keluarga petani, lulusan Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB ini semasa kuliahnya mengambil minor Agronomi dan Hortikultura. Karyanya telah diterbitkan dalam berbagai prosiding nasional maupun internasional. Dengan spesialisasi keilmuan di bidang pengembangan masyarakat, penyuluhan, kependudukan, sosiologi pedesaan, dan kajian agraria, Deslaknyo berharap dapat berkontribusi untuk memajukan pertanian Indonesia demi kedaulatan Bangsa.

Leave a Reply