BerandaMITI Artikel Energi 5 kekayaan Bahan Tambang Indonesia yang Mengglobal
5 Kekayaan Bahan Tambang Indonesia yang Mengglobal
Nov 18, 2015
Yuk Mengenal Kanker!
Dec 4, 2015

Larangan Ekspor Mineral Mentah? Untung atau Rugi?

BerandaMITI Opini Energi

BerandaMITI Opini Energi

Percaya atau tidak sampai sekarang Indonesia belum dapat mengembangkan industri pertambangan dengan baik terutama dalam bidang regulasi. Jika dibandingkan dengan Industri migas, pertambangan mempunyai regulasi yang lebih memprihatinkan mulai dari izin sampai bagi hasil. Efek dari kurang baiknya regulasi yang mengatur, sampai sekarang hasil tambang mineral yang diekploitasi di perut bumi Indonesia masih di ekspor dalam bentuk material mentah dengan nilai tambah yang sangat rendah.

Dibentuknya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 pada tanggal 12 Januari 2013 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, dimana materi pokok yang terkandung didalam UU ini mengatur penghiliran hasil tambang mineral dan batubara serta pelarangan ekspor bahan mentah. Undang-Undang ini mengamanahkan pembangunan smelter sehingga produksi tambang dalam negeri dapat diproses sebelum diekspor. Adapun UU Minerba bertujuan agar Indonesia bisa merasakan nilai tambah dari produk – produk tambang dan mineral.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga telah menerbitkan Permendag No 29/M-AG/PER/5/2012 sebagaimana telah disempurnkan dengan Permendag No. 52/M-AG/PER/8/2012 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan, dimana peraturan ini mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tata cara dan perizinan pelaksanaan kegiatan ekspor berbagai jenis produk pertambangan dengan mempertimbangkan adanya keharusan memenuhi batasan minimum pengolahan.

Dampak dari pelarangan ekspor bahan mentah dan lambatnya pembangunan smelter akan berdampak pada  banyaknya bahan mentah tambang yang tidak dapat dijual, pada akhirnya membuat pelaku tambang mengurangi kapasitas produksi atau bahkan menutup usahanya. Hal ini akan berdampak berkurangnya penerimaan negara, pengurangan tenaga kerja di sektor tambang, semakin tergerusnya neraca perdagangan.

Pertama, penerimaan pemerintah sangat berpotensi anjlok dikarenakan banyak perusahaan dibidang tambang lebih memilih menutup usahanya. Faktor ini bukan merupakan satu-satunya penyebab banyak usaha tambang tutup, ditengah tergerusnya harga minyak dunia sangat berdampak pada rendahnya harga produk tambang saat ini. Pendapatan pemerintah yang didapatkan dari sektor pertambangan dapat berupa penerimaan pajak (PPh), deadrent (sewa lahan) dan penerimaan bukan pajak (royalti tambang)

Kedua, berkurangnya produksi tambang akan berimplikasi terhadap pengurangan tenaga kerja. Saat ini sudah banyak pekerja sektor pertambangan yang dirumahkan lebih awal dari perkiraan. Anjloknya harga hasil tambang dan larangan ekspor bahan mentah, membuat pemerintah harus memberikan solusi lain terhadap kebijakan saat ini. Dampak lain pengurangan tenaga kerja juga akan terjadi pada perusahaan pendukung kegiatan tambang, seperti perkapalan dan alat berat.

Ketiga, sektor pertambangan nonmigas (termasuk minerba) menyumbang pendapatan pemerintah yang cukup besar untuk APBN. Apabila ekspor bahan mentah menurun akibat larangan ekspor dan anjloknya harga minyak, neraca perdagangan akan kian defisit. Hal ini akan berdampak terhadap kian lemahnya nilai tukar rupiah yang mendongkrak biaya impor. Tingginya biaya impor akan berpengaruh terhadap sejumlah produk yang masih mengandalkan komponen impor.

Tiga dampak ini yang sekarang sedang dialami oleh pemerintah Indonesia terhadap kebijakan pelarangan ekspor bahan mineral mentah. Tentunya hal ini sudah di perhatikan secara matang oleh pemerintah dengan segala solusinya. Setiap kebijakan pasti ada baik dan kekurangannya, yang pasti pemerintah sudah mengambil keputusan yang sangat bagus untuk memulai industri tambang. Kebijakan ini akan merugikan untuk sekarang ini, tetapi akan sangat menguntungkan dikemudian hari. Salutt !!

Referensi :

Katili,J.A., 1979, Peranan pemerintah dalam manajemen sumber mineral, Majalah Survei dan Pemetaan No. 13/IV/1979.

Leave a Reply