Peraturan Pemerintah untuk Penguatan Penelitian dan Pengembangan IPTEK di Indonesia
May 20, 2016
Intelligent Humanoid Robot Pertama yang Berbahasa Indonesia dari Binus University
May 23, 2016

Kulit Sehat Anti Jerawat dengan Ekstrak Pegagan

Pegagan via pedulisehat.info

Pegagan via pedulisehat.info

Pegagan via pedulisehat.info

Sering menemukan pegagan di sekitar tempat tinggal Anda? Pernah mencoba memanfaatkan pegagan? Jangan salah, meskipun pegagan tumbuh di tempat-tempat liar, pegagan ternyata memiliki banyak manfaat jika diolah dengan tepat. Pegagan adalah tanaman herba tahunan yang sering dijumpai di daerah persawahan, di sela-sela rumput, di tanah yang agak lembab baik yang terbuka atau agak ternaungi, juga dapat ditemukan di dataran rendah sampai daerah dengan ketinggian 2500 m dpl (Depkes RI, 1977). 

Tanaman pegagan (Centella asiatica) telah banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat, sayuran segar, lalapan atau dibuat jus. Bagian daun, akar, dan batang adalah bagian tanaman pegagan yang berkhasiat jika diolah. Pegagan dapat dimanfaatkan baik setelah diproses menjadi obat tradisional baik dalam bentuk segar maupun kering.

Berbagai penelitian ilmiah tentang khasiat pegagan diantaranya adalah efek anti–neoplastik, efek pelindung tukak lambung, menurunkan tekanan dinding pembuluh, mempercepat penyembuhan luka, analgesik, anti–inflamasi, hepatoprotektor, peningkatan kecerdasan, antisporasis, anti agregasi platelet, anti thrombosis, mengobati lepra, gangguan perut dan rematik.

Pegagan sebenarnya sudah dimanfaatkan sejak ribuan tahun oleh berbagai negara. Bagi masyarakat India, Pakistan, Malaysia dan sebagian Eropa Timur, tanaman pegagan dipercaya bisa meningkatkan ketahanan tubuh (panjang umur), membersihkan darah, dan memperlancar air seni. Orang-orang Eropa Timur bahkan menggunakannya untuk menyembuhkan lepra dan tuberkulosis (TBC).

Pada sistem pengobatan ayurvedic di India, pegagan dikenal sebagai herba untuk awet muda dan dibuat dalam bentuk sirup tanpa alkohol untuk pengobatan epilepsi. Sementara di Thailand, pegagan digunakan sebagai tonikum dan obat diare. Di Sri Lanka, tanaman ini banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan pengeluaran air susu, sedangkan di Vietnam digunakan untuk mengatasi lemah badan karena usia lanjut (senility).

Orang-orang Afrika memanfaatkan pegagan untuk menyembuhkan sifilis. Di Australia, pegagan telah dibuat obat dengan nama Gotu Kola yang bermanfaat sebagai anti pikun dan juga sebagai anti stress. Pegagan di Cina dimanfaatkan untuk memperlancar sirkulasi darah, bahkan dianggap lebih berkhasiat dibandingkan dengan ginkgo biloba atau ginseng yang berasal dari Korea. Fakta ini menunjukkan bahwa pegagan sudah dimanfaatkan secara luas di seluruh dunia untuk berbagai keperluan.

Berbagai penelitian ilmiah mengenai khasiat pegagan juga telah banyak dilakukan. Salah satunya penelitian ilmiah tentang khasiat pegagan bagi fungsi saraf dan otak. Dari uji klinis di India, tanaman pegagan dapat meningkatkan IQ, kemampuan mental, serta menanggulangi lemah mental pada anak-anak. Selain itu pegagan juga bermanfaat bagi anak-anak penderita attention deficit disorder (ADD) yang merupakan salah satu tanda adanya autisme pada anak.

Penelitian penting lainnya juga membuktikan bahwa tanaman pegagan memberi efek positif terhadap daya rangsang saraf otak dan memperlancar transportasi darah pada pembuluh-pembuluh otak sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori seseorang. Pada orang dewasa dan tua penggunaan pegagan sangat baik untuk membantu memperkuat daya kerja otak, meningkatkan memori, dan menanggulangi kelelahan.

Hasil penelitian dan uji klinis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pegagan memang memiliki banyak manfaat. Namun penelitian-penelitian yang sudah ada lebih banyak menguji khasiat pegagan bagi saraf, otak, dan penyembuhan berbagai penyakit. Sebenarnya ada manfaat lain dari pegagan yang bisa dimanfaatkan untuk kesehatan dan kecantikan kulit. Adalah Titi Fauzia Moertolo, dokter spesialis kulit dan kelamin, yang meneliti khasiat pegagan untuk disertasinya di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Dari hasil penelitiannya, ditemukan bahwa pegagan alias Centella asiatica L. Urban bisa mengusir timbulnya skar akibat jerawat. Dengan penanganan yang tepat maka jerawat dan skar (bopeng) bisa hilang. Manfaat ini tentu sangat berarti khususnya bagi kaum hawa. Bagi kaum hawa, urusan kebersihan dan kecantikan kulit wajah menjadi salah satu perhatian utama. Sehingga pemanfaatan pegagan untuk mengurangi skar akibat jerawat bisa dicoba sebagai alternatif penyembuhan.

Skar (bopeng) sendiri terjadi akibat pertumbuhan jaringan yang tak sempurna saat kulit melakukan perbaikan yang tak sempurna saat kulit melakukan perbaikan diri karena ditumbuhi jerawat. Skar memiliki tiga jenis, yaitu skar atrofi  (berbentuk cekungan), skar hipertrofi (berbentuk benjolan), dan keloid. Skar hipertrofi dan keloid terbentuk karena sintesis kolagen yang berlebihan. Sehingga bentuknya menonjol karena kulit menjadi lebih tebal. Sebaliknya, skar atrofi terjadi akibat kekurangan sintesis kolagen sehingga bentuknya melekuk ke dalam. Skar atrofi merupakan tipe terbanyak yang dialami penderita jerawat.

Penelitian mengenai manfaat ekstrak pegagan sebenarnya sudah dilakukan, dimana hasilnya ekstrak pegagan terbukti mampu mengatasi masalah skar yang keluar. Skar yang keluar akibat kelebihan kolagen ini mampu ditekan oleh ekstrak pegagan dengan dosis lebih dari satu persen. Ketika masalah kolagen yang berlebihan ini dapat diatasi, maka tidak akan muncul benjolan setelah perbaikan kulit. Namun belum ada penelitian terkait cara mengatasi skar cekung dengan ekstrak pegagan (skar atrofi).

Selama ini skar atrofi biasanya hanya diatasi dengan filler, yakni menyuntikkan zat yang bisa mengisi lekukan. Beberapa cara lain adalah dengan roller, yakni menusukkan jarum mikro, subsisi berupa penarikan jaringan ikat kulit dengan jarum khusus, dan dengan sinar laser. Semua cara ini bisa mengembalikan kekosongan kulit yang mencekung sehingga kulit wajah terlihat lebih mulus setelah berjerawat. Namun sayangnya, metode-metode ini memerlukan biaya yang mahal karena menggunakan cairan khusus dan membutuhkan keahlian khusus untuk menyuntikkan cairan tersebut ke wajah.

Oleh karena itu, Titi menguji ekstrak pegagan untuk mengatasi skar atrofi ini. Pada mulanya, Titi menguji kulit yang diberi sinar ultraviolet di laboratorium agar sinar UV tersebut bisa menembus sampai ke inti sel dan membuat kerusakan yang mampu mematikan sel sehingga sintesis kolagen berkurang. Kulit-kulit tersebut lalu diberi ekstrak pegagan dengan dosis yang bervariasi, yakni 0,6 persen, 0,8 persen, dan 1 persen.

Untuk membandingkan hasil penggunaan pegagan, Titi juga meneliti kulit yang dipapar sinar UV tanpa diberi ekstrak pegagan, dan kulit normal yang tidak diberi sinar UV dan ekstrak pegagan. Setelah melalui pengujian, ternyata muncul fibroblast (sel-sel yang memproduksi kolagen dan elastin) pada kulit yang diberi ekstrak pegagan. Dengan adanya fibroblast ini, produksi kolagen menjadi lebih banyak sehingga kulit menjadi tetap mulus. Sementara itu, sel kulit yang diberi sinar UV tanpa ekstrak pegagan justru mengalami kerusakan.

Untuk mencapai hasil yang maksimal yakni menyembuhkan kulit hingga hasilnya sama dengan kulit normal yang tidak terpapar UV, ukuran ideal ekstrak pegagan yang digunakan yaitu 0,8 persen. Titi juga melakukan pengujian terhadap 94 wajah yang berusia 15-20 tahun yang berjerawat dan memiliki sejarah skar untuk lebih meyakinkan soal ukuran ideal ekstrak pegagan.

Pada pengujian ini, Titi mengaplikasikan ekstrak pegagan ke dalam masker. Peserta diminta menggunakan dua jenis masker; yang satu ditambahkan ekstrak pegagan, yang satu lagi tidak ditambahkan ekstrak pegagan. Pengujian ini berlangsung selama 14 hari karena waktu kulit untuk memulihkan diri selama 14-21 hari. Selama 14 hari itu, peserta akan datang ke klinik untuk membandingkan kemulusan wajah yang memakai dua jenis masker.

Ternyata setelah 14 hari, wajah peserta yang diberi masker dengan ekstrak pegagan terbukti lebih mulus karena jerawat lebih cepat sembuh dan tidak meninggalkan bopeng. Sedangkan pada sisi wajah yang menggunakan masker biasa, jerawat perlu waktu lama untuk sembuh dan tetap menimbulkan bopeng. Penemuan ini mendapatkan apresiasi dari Siti Aisah Boediardja, Guru Besar Departemen Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran UI, karena belum ada orang yang meneliti manfaat ekstrak pegagan untuk mengatasi skar atrofi.

Namun, penggunaan pegagan untuk wajah ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus dengan dosis yang pas dan wajah yang bersih saat memakai masker. Bersih disini bukan hanya dicuci, tetapi isi jerawat harus dikeluarkan terlebih dulu. Kebersihan wajah ini akan menentukan kemampuan ekstrak pegagan untuk menembus ke dalam yang akan mempengaruhi terbentuknya fibroblast. Selain itu, bentuknya juga divariasikan, tidak hanya berbentuk masker. Tetapi diubah ke bentuk lain yang penggunaannya juga bisa lebih fleksibel seperti krim malam.

Jadi, bagi yang memiliki masalah dengan jerawat dan skar, bisa memanfaatkan ekstrak pegagan sebagai obat untuk mengatasi bopeng pada wajah. Namun tidak bisa dibuat secara bebas karena membutuhkan hitungan dosis yang tepat oleh ahlinya. Alih-alih ingin mendapatkan kulit wajah yang mulus tanpa bopeng, justru malah semakin bermasalah karena tidak diolah secara tepat. Kita tunggu terobosan lanjutan dari ekstrak pegagan ini untuk kebersihan dan kecantikan kulit yang bisa dimanfaatkan secara bebas oleh masyarakat.

 

Daftar Referensi:

Majalah Tempo Edisi 22-28 Februari 2016

http://health.liputan6.com/read/2164880/kenali-daun-pegagan-tanaman-obat-kuno-dari-asia-tropik

http://kepri.litbang.pertanian.go.id/ind/images/pdfinfo/manfaatpegagan.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40961/4/Chapter%20II.pdf

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply