Sertifikasi Keamanan Pangan Bagi Industri Nasional, Perlukah?
Mar 1, 2013
Bonus Demografi, Peluang dan Tantangan
Mar 5, 2013

Konversi Lahan: Dilema Antara Pangan dan Papan

lahanperumahanTindak lanjut dari Program Peningkatan Ketahanan Pangan yang merupakan salah satu program prioritas utama sektor pertanian adalah ditetapkannya strategi Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2005. Salah satu tujuan dari ditetapkannya RPPK tersebut antara lain untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian seperti beras, jagung, kedelai dan gula agar ketahanan pangan dalam negeri dapat tercipta.

Salah satu masalah yang dapat mengganggu tercapainya tujuan dari RPPK tersebut adalah semakin berkurangnya lahan-lahan pertanian produktif, baik lahan sawah maupun lahan kering karena dikonversi menjadi lahan non pertanian. Adanya alih fungsi (konversi) lahan pertanian untuk keperluan non pertanian, seperti pembuatan daerah industri, daerah perkantoran, daerah wisata dan daerah pemukiman. 

Berdasarkan Sensus Pertanian (SP) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik selama 10 tahun sekali yaitu tahun 1973, 1983, 1993 dan 2003 diketahui bahwa selama periode 1983-1993 konversi lahan pertanian mencapai 1.280.268 hektar dan sebagian besar terjadi di Jawa. Sedangkan selama periode 1993-2003 konversi lahan pertanian sebesar 1.284.109 hektar terjadi di Sumatera. (Tabel 1)

Tabel 1. Konversi Lahan Pertanian di Indonesia, 1983-2003 

Konversi_Lahan

Konversi lahan merupakan perubahan fungsi lahan baik dari lahan pertanian ke non-pertanian ataupun sebaliknya. Khusus untuk kasus di perkotaan, konversi lahan yanhg paling sering terjadi adalah perubahan fungsi ruang publik kota menjadi tempat tinggal.

Konversi lahan disebabkan oleh beberapa faktor seperti pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi sekitar 1.49% per tahun. Laju pertumbuhan sebesar 1.49% berarti setiap tahun penduduk Indonesia bertambah sebanyak 3.5 juta hingga 4 juta orang (Tabel 2).  

Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, Rasio Jenis Kelamin, dan Laju Pertumbuhan Penduduk 

penduduk

Permasalahan konversi lahan pertanian berjalan seiring dengan perkembangan industri, pemukiman, dan perkotaan. Perkembangan laju pembangunan industri, pemukiman, dan perkotaan dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya, antara lain peningkatan pertumbuhan penduduk. Selain itu, adanya pemusatan penduduk menimbulkan konsekuensi pada penyediaan berbagai fasilitas yang kemudian membawa dampak pula terhadap penggunaan ruang atau lahan. 

Peningkatan kebutuhan akan ruang atau lahan untuk sektor industri dipenuhi dengan cara mengubah penggunaan lahan-lahan pertanian yang ada. Di lain pihak perkembangan sektor industri memiliki pengaruh bagi tersedianya lapangan pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat serta mendukung aspek daya saing global. 

Konversi lahan pertanian tidak menguntungkan bagi pertumbuhan sektor pertanian karena dapat menurunkan kapasitas produksi dan daya serap tenaga kerja, yang selanjutnya berdampak pada penurunan produksi pangan yang juga mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. (RAP)

Sumber:

BPS. 2012. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik: Jakarta

Isa I. Kebijakan dan Permasalahan Penyediaan Tanah Mendukung Ketahanan Pangan. [Terhubung Berkala]. http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/Pros_Iwan_06.pdf

Kalsim DK. 2010. Pembangunan Infrastruktur Pertanian. Institut Pertanian Bogor

 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply