Pulau Konservatif dan Bank Genetik Hewan Indonesia
Jan 3, 2014
Penerapan Produksi Bersih Menuju Industri yang Berkelanjutan
Jan 7, 2014

Konsep Sustainable City untuk Kota-Kota Besar di Indonesia

Perkembangan kota-kota besar dunia dalam dekade terakhir berkembang dengan sangat pesat. Tingginya arus perdagangan barang dan jasa di suatu kota menjadi salah satu indikatornya. Data dari UN Habitat (United Nation Human Settlement Programme), atau Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Tempat Tinggal Manusia) menyebutkan jika sekitar setengah umat manusia tinggal di kota. Padahal seperti kita ketahui, luas wilayah perkotaan relatif kecil dibandingkan luas kota-kota kecil/ kota berkembang lainnya. Akibatnya, tingkat kepadatan penduduk di kota jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain.

sustainable citySumber ilustrasi: gettyimages.com

Banyaknya jumlah penduduk yang bermukim pada suatu pusat daerah tertentu banyak menimbulkan masalah. Ancaman krisis air, pangan, dan energi lambat laun akan mulai dirasakan warga yang tinggal di kawasan padat penduduk. Ditambah lagi dengan ancaman sosial dan lingkungan yang tidak bisa dipisahkan dari aspek kehidupan. Jika kota padat penduduk seperti ini terus dibiarkan dan perkembangannya menjadi tidak terkendali, maka akan menyebabkan kota-kota ini berkembang semakin ekspansif dan melampaui batas dari daya dukung yang dapat dipikulnya. Perlu segera dicarikan solusi atas masalah yang terjadi. Untuk mencegah kota semakin terpuruk, diperlukan upaya-upaya perbaikan guna menjadikan suatu kota sebagai sustainable city (kota berkelanjutan).

Menurut European Commission (2009), sustainable city adalah kota yang mengkonsumsi sumber daya terbarukan tidak lebih cepat daripada kapasitas regenerasinya. Ia juga mampu berkontribusi pada penggantian sumber daya yang tidak terbarukan, khususnya melalui penghematan, penelitian, dan inovasi.

Tiga aspek sustainable city menurut Budi Faisal (2011) adalah ekonomi, ekologi, dan sosial. Kegiatan ekonomi harus bisa menyediakan penghidupan kepada warganya secara kontinyu, membangun potensi lokal, dan tidak ketergantungan dengan kota lain. Dalam aspek ekologi, alam memiliki batas maksimal, dan manusia sebagai anggota komunitas memiliki tanggung jawab terbesar untuk melindungi dan melestarikannya. Sosial, keadaan sosial adalah jantung dari kota yang berkelanjutan, ia terdiri dari kesempatan untuk menikmati pertumbuhan ekonomi, fasilitas kesehatan, dan pendidikan berkualitas, serta sistem politik yang memberikan kemerdekaan.

Dari kedua teori sustainable city di atas, dapat ditarik simpulan jika sustainable city adalah suatu kota yang bukan hanya memperhatikan aspek keberlanjutan dari fisiknya, apalagi jika hal tersebut dilakukan tanpa adanya integrasi satu sama lain. Namun, sustainable city adalah suatu kota yang juga harus memperhatikan aspek-aspek sosial yang ada di masyarakat, dan membuat masyarakat menjadi masyarakat yang siap menjadi masyarakat sustainable city.

Pengembangan ekonomi suatu sustainable city tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur di kota tersebut. Pembangunan suatu infrastruktur hampir selalu dihantui oleh isu menganai lingkungan seperti pembebasan lahan, penggunaan ruang terbuka hijau sebagai lahan senta ekonomi baru, dan lainnya. Namun dengan konsep sustainable city kita tidak dapat memisahkan aspek ekonomi dengan aspek ekologis suatu kota. Kita harus dapat mengubah ancaman menjadi suatu peluang baru. Menciptakan inovasi kreatif yang mana tepat guna untuk kepentingan ekonomi namun tanpa mengesampingkan aspek ekologis. Sebagai contoh dengan pembuatan gedung-gedung berkonsep ramah lingkungan yang mengelola sendiri limbah yang dihasilkan. Bisa juga dengan tetap memberikan ruang terbuka hijau dalam setiap infrastruktur yang dibuat, yang tentunya memerlukan pasrtisipasi aktif dari pengguna infrastrktur tersebut untuk dapat mewujudkan konsep ramah lingkungan. Intinya adalah dengan tetap menyandingkan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial suatu kota.

Membahas tentang sustainable city, Surabaya tampaknya dapat menjadi representatif Indonesia. Meski belum dapat disejajarkan dengan sustainable city di luar negeri seperti Singapura, Stockholm (Norwegia), atau Portland (USA), namun berbagai penghargaan lingkungan bagi kota ini tampaknya bisa menjadi bukti bahwa Surabaya sedang dalam proses menuju level yang sama dengan kota-kota dunia lainnya. Terlihat dalam tahun-tahun terakhir adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi dan banyaknya jumlah pembangunan infrastruktur baru di kota ini. Tidak hanya itu, Surabaya yang awalnya hanya memiliki 9,6% ruang terbuka hijau, kini memiliki 20,24%.

Sebut saja penghargaan Indonesia Green Award (IGRA) Tahun 2011 yang disematkan pada kota dengan lambang ikan sura (ikan hiu) ini. Kota ini dianggap peduli terhadap lingkungan dan menjadi yang terdepan di Indonesia. Kalpataru, Adipura Kencana, Adiwiyata Mandiri, dan penghargaan sebagai kota dengan penataan lingkungan berkelanjutan terbaik pada ASEAN Environment Sustainable City, adalah bukti lain jika Surabaya memang terdepan dalam persoalan manajemen tata kotanya. Kunci sukses Surabaya menjadi kota dengan konsep sustainable city adalah dengan adanya pembangunan yang mementingkan aspek lingkungan dan masyarakatnya.

Jika konsep semacam ini dapat diterapkan di kota-kota besar Indonesia lainnya, negeri ini akan bisa maju dan bahkan mungkin bisa menjadi sustainable country. Ekonomi, ekologi, dan sosial adalah pilar-pilar utama yang harus dituju demi pembangunan yang berkelanjutan.

Amalia Handini Astari

Mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

 

Referensi:

http://www.surabaya.go.id/ (diakses tanggal 18 Desember 2013)

http://www.unhabitat.org/ (diakses tanggal 18 Desember 2013)

World and European Sustainable Cities – European Commission (2009)

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

1 Comment

  1. Min maaf, ralat jika benar Stockhlom itu Sweden bkan Norway :). Mengajak kembali masyarakat untuk cinta hidu dikampung, it's better 🙂 Terima kasih tulisannya 🙂

Leave a Reply