Puspiptek Pasarkan Pengiris Serba Guna untuk Keripik yang User-Friendly
Apr 6, 2016
Pro-Kontra Transportasi Online : Bijaksana Mengelola Inovasi Untuk Kesejahteraan Bersama
Apr 10, 2016

Komjen (Kompor Minyak Jelantah): Solusi Energi untuk UMKM Indonesia

Kebutuhan energi murah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia. Selain diperlukan oleh rumah tangga dan industri, energi murah juga sangat dibutuhkan oleh UMKM untuk menekan biaya produksinya. Kelangkaan dan fluktuasi harga bahan bakar LPG -yang sejauh ini jadi bahan bakar utama untuk produksi di UMKM- yang seringkali terjadi di Indonesia membuat biaya produksi melonjak. Sehingga kapasitas produksi pun terpaksa diturunkan yang pada akhirnya akan berdampak pada menurunnya pendapatan UMKM.

Namun siapa sangka, berawal dari permasalahan tersebut, beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Penelitimoeda Teknik Kimia Universitas Sriwijaya yang dipimpin oleh Agus Candra justru membuat sebuah inovasi di bidang energi yang menjadi solusi alternatif energi murah untuk UMKM. Minyak jelantah dan oli bekas yang selama ini hanya menjadi limbah industri dan rumah tangga, mereka manfaatkan untuk menjadi bahan bakar teknologi alternatif yang praktis, ekonomis dan juga ramah lingkungan. Teknologi ini disebut “KOMJEN” (Kompor Minyak Jelantah).

KOMJEN (Kompor Minyak Jelantah)

KOMJEN via Page Kompor Minyak Jelantah dan Oli Bekas

Kelangkaan bahan bakar LPG yang digunakan oleh pedagang dan UMKM di kota Palembang pada tahun 2013 menjadi niat mereka untuk memanfaatkan limbah ini sebagai energi alternatif. Saat itu sebagian besar pedagang dan UMKM mengalami kesulitan mencari gas untuk keperluan bisnis mereka.

“Tidak sedikit pedagang yang gulung tikar. Padahal di sisi lain minyak jelantah yang mereka hasilkan dari proses menggoreng tidak termanfaatkan” kata Dwi Wahyuno, salah satu tim pengembang KOMJEN.

Komjen atau Kompor Minyak Jelantah adalah kompor yang berbahan bakar minyak jelantah yang ramah lingkungan karena berbahan bakar nabati. Yaitu minyak goreng hasil olahan Crude Palm Oil (CPO) yang sudah tidak layak pakai. Selain ramah lingkungan, Komjen lebih ekonomis karena memanfaatkan limbah hasil memasak rumah tangga sehari-hari.

Selain menggunakan minyak jelantah, Komjen juga bisa dioperasikan menggunakan oli bekas, minyak CPO, limbah CPO, Biodiesel (minyak biji jarak dan minyak biji karet) serta berbagai sumber bahan bakar lain yang memiliki viskositas/kekentalan yang tinggi tanpa proses pemurnian terlebih dahulu sehingga masyarakat bisa menggunakannya dengan praktis.

Penggunaan Komjen pada Rumah Tangga via Page Kompor Minyak Jelantah dan Oli Bekas

Penggunaan Komjen pada Rumah Tangga via Page Kompor Minyak Jelantah dan Oli Bekas

Kompor minyak jelantah didesain dengan mengikuti berbagai pertimbangan teoritis dengan tungku pembakaran berteknologi FFEAS (Floating Fire Exces Air System) yang sangat ramah lingkungan. Pengujian yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terhadap Komjen yang menggunakan bahan bakar minyak jelantah menghasilkan gas emisi CO 242,60 ppm, NO2 7,15 ppm, dan SO2 21,58 ppm.

Ini sangat jauh dibawah dari yang diperkenankan yang tercantum dalam PerMen. ESDM No, 47 Thn. 2006 yaitu gas CO 626 ppm, NO2 78 ppm, dan SO2 50 ppm. Salah satu indikasi kandungan emisi berbahaya pada bahan bakar adalah bau yang dihasilkan. Berbeda dengan minyak tanah yang menimbulkan bau yang tajam saat proses pembakaran, minyak jelantah ini tidak menghasilkan bau yang menyengat.

Keunggulan utama dari Komjen adalah mampu menghemat biaya produksi hingga 70% dibandingkan dengan penggunaan gas LPG. “Komjen hanya memerlukan 1-1,5 liter oli bekas selama 1 jam operasi. Sehingga jika sebuah UMKM menggunakan Komjen selama 6 jam, berarti hanya menghabiskan oli bekas sebanyak 6-9 liter per hari” Kata Dwi Wahyuno.

Sebagai tambahan informasi, harga 1 liter oli = Rp.1.500 s.d. Rp.2.000. Artinya, selama satu hari, UMKM hanya mengeluakan biaya untuk memasak sebanyak Rp.9.000 s.d. Rp.18.000. Kondisi ini sebanding dengan penggunaan 3 tabung gas LPG seharga Rp.60.000. Dikatakan Agus Candra, lebih murah lagi jika oli bekas dan minyak jelantah tersebut didapatkan secara gratis.

Perbandingan Harga KOMJEN dengan Harga Kompor Gas Industri via Page Kompor Minyak Jelantah dan Oli Bekas

Perbandingan Harga KOMJEN dengan Harga Kompor Gas Industri via Page Kompor Minyak Jelantah dan Oli Bekas

Dari segi kualitas api, Komjen memiliki kalor pembakaran 2 kali lebih panas dibandingkan dengan LPG. “Ini membuat UMKM bisa memperbesar kapasitas produksi dengan biaya operasional memasak yang sangat minim” Ujarnya. Kompor ini juga di desain dengan tabung vakum, sehingga sangat aman di gunakan. Bahkan dapat di isi ulang selama kompor beroperasi tanpa risiko meledak seperti tabung LPG.

Bersama dengan Tim Penelitimoeda, Komjen telah mendapat beberapa penghargaan, diantaranya dari BPPT dalam acara Workshop Technopreneur sebagai Inovasi Terbaik, Kementerian Koordinator Perekonomian Indonesia Era Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Hatta Rajasa dalam acara Technopreneur Camp se-Indonesia sebagai Teknologi Tepat Guna Terbaik, Juara 1 Ide Bisnis terbaik dalam agenda National Economic Event (NETs) di Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto, serta beberapa penghargaan tingkat nasional lainnya.

Saat ini, sudah banyak masyarakat dan UMKM di daerah Palembang dan sekitarnya yang telah menggunakan Kompor ini. Hanya saja, tim Penelitimoeda yang di gawangi oleh Agus Candra, Dwi Wahyuno, Rizelfi Abdillah, Ilham Rahmana dan kawan kawan sebagai pembuat Komjen mengalami kendala dari segi dukungan baik itu finansial (investasi) untuk memperbesar skala produksi, maupun dukungan kebijakan.

Dwi Wahyuno berharap semoga teknologi ini dapat digunakan oleh UMKM yang ada di Indonesia dan dapat memberikan dampak positif dan manfaat yang besar untuk masyarakat. “Kapasitas produksi UMKM dapat ditingkatkan dan biaya operasional dapat ditekan. Pada jangka panjang, pemanfaatan Komjen ini diharapkan akan menjadi pembuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya bagi masyarkat” Ujarnya. (NMY/DW)

 

Nur Maulana Yusuf
Nur Maulana Yusuf
Lulusan Institut Pertanian Bogor yang tertarik dengan dunia media, teknologi, serta sosial ekonomi di Indonesia. Saat ini menjadi bagian dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply