Polemik Tanaman Transgenik (Bagian 1)
May 6, 2015
RABIASA Solusi Penyembelihan Sapi Syariah
RABIASA, Solusi Penyembelihan Sapi Syariah
May 8, 2015

INFOGRAFIK TEKNOLOGI (1)

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Butuh banyak orang cerdas dan bijaksana untuk mengelolanya menggunakan teknologi guna melambungkan kualitas dan kuantitas produk dalam negeri. Mencetak banyak orang cerdas dan bijaksana tidak bisa dilaksanakan dengan mudah dan sederhana. 

Lalu bagaimana kesiapan Indonesia untuk menjadi negara maju berbasis riset dan teknologi? Mari simak penjelasan indikator-indikator berikut.

1. Anggaran Riset Nasional

ANGGARAN RISET NASIONAL

Unesco telah menetapkan standar minimal pendanaan riset setiap negara sebesar 2% dari jumlah PDB negara tersebut. Namun tidak semua negara bisa mengalokasikan dana sebesar itu. China misalnya, mengalokasikan 1.9% dari PDB yang mereka dapatkan setiap tahunnya. India sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi sangat bagus seperti China, mengalokasikan 1.2% dari PDB mereka. Sedangkan Indonesia hanya bisa mengalokasikan 0.08% saja dari besarnya PDB setiap tahun atau 1/24 dari persentase anggaran riset China dan 1/15 dari persentase anggaran riset India.

2. Indeks Kesiapan Teknologi

INDEKS KESIAPAN TEKNOLOGI

World Economic Forum (WEF) menggunakan indeks kesiapan teknologi sebagai salah satu penilaian indeks kompetensi global. Indeks Kesiapan Teknologi atau sering disebut TRI (Technology Readiness Index) dikembangkan oleh Parasuraman (Profesor di Miami University) untuk mengukur keyakinan dan pemikiran masyarakat terhadap teknologi. Terdapat empat dimensi dalam indeks kesiapan teknologi, yaitu optimisme, inovasi, ketidaknyamanan, dan ketidak-amanan. Indonesia mendapatkan nilai yang cukup rendah dalam indeks ini, yaitu sebesar 0.32, jauh di bawah Thailand (0.61) dan Malaysia (0.83).


3. Indeks Efisiensi Pembangunan

INDEKS EFISIENSI PEMBANGUNAN

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PUPR) dalam rilisnya menyebutkan bahwa indeks efisiensi pembangunan di Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Indonesia mencapai nilai 0.60, lebih rendah dibandingkan dengan Thailand (0.69) dan Malaysia (0.86). Indeks ini pernah disinggung oleh Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II di hadapan para insinyur dan sarjana teknik saat membuka Rapat Pimpinan Nasional Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dengan tema “Keinsinyuran untuk Memberi Nilai Tambah Pada Pembangunan Nasional dan Berkelanjutan”, di Jakarta

4. Rasio Perekayasa dan Peneliti

RASIO PEREKAYASA DAN PENELITI

Perekayasa dan peneliti di Indonesia ternyata masih sedikit. Mereka bekerja untuk memproduksi inovasi teknologi yang berguna bagi masyarakat. Perekayasa dan dan peneliti ini tersebar di berbagai pusat penelitian dan pengembangan (R&D) baik milik pemerintah, universitas, ataupun swasta. Dari satu juta orang Indonesia, hanya ada 199 orang perekayasa dan peneliti. Bila dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia masih jauh tertinggal, Thailand (293 orang per 1 juta penduduk), Malaysia (503 orang per 1 juta penduduk), dan Singapura (570 orang per 1 juta penduduk). Indonesia masih membutuhkan banyak perekayasa dan peneliti agar inovasi Indonesia dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat dan dapat bersaing dengan inovasi luar negeri.

5. Rasio Doktor

RASIO DOKTOR

Tahukah Sahabat Beranda, ternyata Jepang memiliki 6418 orang doktor per 1 juta penduduk. Jumlah yang sangat besar meski masih kalah dengan Israel yang memiliki sekitar 13.000 doktor di antara 1 juta penduduknya. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia masih sangat tertinggal karena hanya memiliki 98 orang doktor per 1 juta penduduk. Bila dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, Indonesia juga masih tertinggal karena Malaysia memiliki 300 orang doktor per 1 juta penduduknya.

Mari kita dukung pemerintah Indonesia untuk mencetak orang-orang cerdas dan bijaksana untuk menyongsong Indonesia Maju Berbasis Riset dan Teknologi di masa depan. Sumber data: (BPS, Kementerian PUPR, WEF)

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

2 Comments

  1. Ester says:

    Ester Yuan Rahayu – Mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana

    Kesalahan dapat dilihat dari titik manapun, dari negara dan dari pribadi sendiri. Banyak dari penelitian yang dilakukan di negara kita tidak dapat dilanjutkan karena kurangnya anggaran, serta fasilitas pendukung penelitian yang tidak tersedia. Anak bangsa yang cerdas dan cemerlang serta calon doktor, peneliti, ilmuan, dan perekayasa berbondong – bondong mencari biaya atau beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri yang terfasilitasi dengan baik dan menyalurkan penelitiannya yang terdukung dari fasilitas yang ada di negara lain.
    Dari sekian banyak anak bangsa yang melanjutkan pendidikan di luar negeri, enggan untuk pulang ke Indonesia karena merasa betah dan terfasilitasi dengan lengkap serta didukung dan diakui penelitiannya. Sedangkan di Indonesia , penelitian yang ingin dilakukan seringkali terhambat serta tidak didukung dan diakui oleh negara sendiri. kepercayaan terhadap diri sendiri, rasa daya saing, kreativitas, keterlibatan terhadap isu nasional dan internasional yang menurun serta kenyamanan memakai terknologi negara lain yang ada pada generasi muda sekarang menyebabkan ketergantungan dan sifat malas untuk berinovasi meningkat, sehingga terlihat negara Indonesia tetap berdiri di tempat dan tidak melangkah kemanapun. Generasi muda yang ada sekarang banyak yang hanya bisa bicara tetapi tidak bergerak, lepas tangan dalam isu yang ada dan menyalahkan orang lain.
    Tetapi dengan kurangnya berbagai hal yang kita dapat di negara sendiri, tentunya tidak mengurangi inovasi dari peneliti yang ada di Indonesia, hal ini dapat menjadikan kita lebih kreatif dalam menggunakan fasilitas yang ada untuk mendukung penelitian dan perlunya regulasi kebijakan yang lebih baik kedepan yang seimbang dalam mendukung para peneliti dan ilmuan untuk kemajuan negara

  2. Ester Yuan says:

    Ester Yuan Rahayu – Mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana

    Kesalahan dapat dilihat dari titik manapun, dari negara dan dari pribadi sendiri. Banyak dari penelitian yang dilakukan di negara kita tidak dapat dilanjutkan karena kurangnya anggaran, serta fasilitas pendukung penelitian yang tidak tersedia. Anak bangsa yang cerdas dan cemerlang serta calon doktor, peneliti, ilmuan, dan perekayasa berbondong – bondong mencari biaya atau beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri yang terfasilitasi dengan baik dan menyalurkan penelitiannya yang terdukung dari fasilitas yang ada di negara lain.
    Dari sekian banyak anak bangsa yang melanjutkan pendidikan di luar negeri, enggan untuk pulang ke Indonesia karena merasa betah dan terfasilitasi dengan lengkap serta didukung dan diakui penelitiannya. Sedangkan di Indonesia , penelitian yang ingin dilakukan seringkali terhambat serta tidak didukung dan diakui oleh negara sendiri. kepercayaan terhadap diri sendiri, rasa daya saing, kreativitas, keterlibatan terhadap isu nasional dan internasional yang menurun serta kenyamanan memakai terknologi negara lain yang ada pada generasi muda sekarang menyebabkan ketergantungan dan sifat malas untuk berinovasi meningkat, sehingga terlihat negara Indonesia tetap berdiri di tempat dan tidak melangkah kemanapun. Generasi muda yang ada sekarang banyak yang hanya bisa bicara tetapi tidak bergerak, lepas tangan dalam isu yang ada dan menyalahkan orang lain.
    Tetapi dengan kurangnya berbagai hal yang kita dapat di negara sendiri, tentunya tidak mengurangi inovasi dari peneliti yang ada di Indonesia, hal ini dapat menjadikan kita lebih kreatif dalam menggunakan fasilitas yang ada untuk mendukung penelitian dan perlunya regulasi kebijakan yang lebih baik kedepan yang seimbang dalam mendukung para peneliti dan ilmuan untuk kemajuan negara

Leave a Reply