Ketahanan, Kemandirian, dan Kedaulatan Pangan
Mar 8, 2013
Fast Food, Junk Food, dan Dampaknya Bagi Kesehatan
Mar 13, 2013

Kemiskinan Petani di Balik Kebijakan Impor Bahan Pangan

petaniKonsep ketahanan pangan yang lebih mengacu pada ketersediaan pangan rumah tangga telah melahirkan beberapa kebijakan yang dianggap tidak pro petani. Untuk menjamin ketersediaan konsumsi dalam negeri, pemerintah menempuh kebijakan impor beberapa produk pangan, seperti beras, gandum, dan kedelai. Dalam jangka pendek kebijakan seperti itu memang menyelamatkan Indonesia dari kekurangan stok pangan. Tapi dalam jangka panjang, kebijakan tersebut tidak hanya akan membuat Indonesia menjadi Negara yang tergantung pada Negara lain, tetapi akan semakin memiskinkan petani lokal.

Data dari Badan Pusat Statistik 2011 menyebutkan bahwa dari total keseluruhan penduduk miskin yang ada di Indonesia, sebagian besar terletak di desa. Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36 persen). Penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2011 sebesar 9,23 persen, menurun sedikit menjadi 9,09 persen pada September 2011. Penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2011 sebesar 15,72 persen, juga menurun sedikit menjadi 15,59 persen pada September 2011.

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa pada tahun 2010 merupakan pasar potensial, ditambah, sektor pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang sekitar 60% PDB Indonesia. Kedua faktor tersebut seharusnya mampu menjadikan petani lebih sejahtera, karena petani merupakan produsen utama bagi kebutuhan konsumsi makanan masyarakat.

Kementrian Pertanian mencatat beberapa permasalahan yang dihadapi petani Indonesia adalah kepemilikan lahan, permodalan, birokrasi, keterampilan, teknologi, organisasi petani, pasar dan tata niaga. Kepemilikan lahan merupakan persoalan mendasar yang dihadapi petani. Jumlah rumah tangga petani gurem, yaitu rumah tangga pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0,5 ha, meningkat 2,4 persen pertahun, dari 10,8 juta pada tahun 1993 menjadi 13,7 juta rumah tangga pada tahun 2003. Selama sepuluh tahun terakhir berarti kehidupan petani semakin memburuk karena semakin banyak rumah tangga pertanian yang menguasai lahan sempit (BPS, 2003)

Selain petani gurem, ada juga petani penggarap, yaitu petani yang tidak mempunyai lahan garapan. Menurut data Kementrian Pertanian, jumlahnya mencapai 5 juta Kepala Keluarga. Produktivitas padi yang meningkat belum tentu memberikan pendapatan yang sebanding, khususnya untuk petani penggarap yang memang tidak punya lahan.

Di salah satu kabupaten di Jawa Barat, seorang petani pemilik lahan sawah 0,7 hektar membagihasilkan kepada lebih dari seorang petani penggarap, dan seorang petani penggarap mendapat jatah garapan antara 100-350 bata (1 ha = 700 bata) atau 15-50 are. Secara umum ketentuan bagi hasil adalah biaya sarana dan upah usaha tani padi ditanggung oleh petani penggarap dan pada saat panen petani penggarap memperoleh bagian 40% dari hasil bersih, setelah dipotong bawon. Ketentuan ini dapat sedikit berbeda antar wilayah dan antar pemilik lahan. Dengan bagian hasil yang hanya 40%, maka pendapatan petani penggarap setelah dikurangi biaya produksi jelas sangat kecil. Untuk garapan seluas 50 are, pendapatan petani penggarap setelah dikurangi biaya produksi hanya Rp. 990.000 dari satu musim panen padi (empat bulan), sedangkan pemilik lahan yang tidak mengeluarkan modal justru memperoleh pendapatan Rp.4.485.000 (Sumarno, 2010).

Keadaan yang menghimpit petani tersebut akan semakin bertambah parah jika kran impor produk pangan tidak dikendalikan. Ketersediaan stok pangan dan kesejahteraan petani seharusnya menjadi dua hal yang tidak bertolak belakang. Cermat memahami permasalahan, akan menghasilkan kebijakan yang lebih akomodatif terhadap dua hal tersebut. Sehingga predikat sebagai Negara agraris akan terus tersemat. (NI)

Sumber

Apriyantono A. Pembangunan Pertanian di Indonesia. [Terhubung Berkala]. http://www.deptan.go.id/renbangtan/konsep_pembangunan_pertanian.pdf

BPS. 2003. Sebaran Rumah Tangga Pertanian Dan Rumah Tangga Petani Gurem Menurut Propinsi Di Indonesia. [Terhubung Berkala]. http://www.bps.go.id/brs_file/RTtani-16feb04.pdf

BPS. 2012. Profil Kemiskinan Di Indonesia September 2011. [Terhubung Berkala]. http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan_02jan12.pdf

Sumarno, Unang G. Kartasasmita. 2010. Kemelaratan Bagi Petani Kecil di Balik Kenaikan Produktivitas Padi.[Terhubung Berkala]. 

http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/253/pdf/Kemelaratan%20Bagi%20Petani%20Kecil%20di%20Balik%20Kenaikan%20Produksi%20Padi.pdf

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply