Open Recruitment Redaksi Magang berandainovasi.com Periode Maret-Juni 2015
Feb 11, 2015
Majalah Beranda Edisi 4
Preview Majalah Beranda Edisi 4
Mar 9, 2015

Kekkaron

dd455936059e9a5ff89e08d5aaf1dcc7

Kekkaron, itu kata yang pas untuk komentar terhadap puisi “Goblok”nya Alm. Bob Sadino. Secara bahasa kekka adalah hasil (result), ron adalah teori.* Bob Sadino membuat puisi itu setelah dia berhasil menjadi pengusaha kelas kakap, setelah dia malang melintang dalam bisnisnya puluhan tahun. ”Goblok” di puisinya itu sebetulnya bukan goblok yang sesungguhnya, justru goblok yang ditulis dalam tanda kutip itu memberikan makna penekanan terhadap makna sebaliknya.

Kalau dibaca dan dipahami dengan mendalam, “Goblok” di sana justru mencerminkan kata rendah hati, ulet, pekerja keras, fokus dan senantiasa belajar terhadap hal baru dan pada siapapun, seperti diungkapkan dalam salah satu quote “Goblok”nya: “Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu”. Hal seperti ini tidak mungkin ada di dalam orang goblok yang sesungguhnya, karena biasanya mereka punya sifat yang berkebalikan dengan alm Bob Sadino.

Fenomena Bob Sadino ini memang menarik, sama menariknya dengan pertanyaan dari peserta seminar,

“Pak, kalau melihat dari perusahaan-perusahaan besar saat ini, pendirinya kok gak pernah lulus kuliah seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, Sergey Brin dan lain-lain. Apakah berarti kita gak perlu kuliah?”.

Ya, pertanyaan ini muncul setelah mereka melihat karya yang dihasilkan orang-orang itu. Mereka sama sekali tidak melihat bagaimana banyaknya orang-orang yang tidak kuliah yang tidak menghasilkan apa-apa. 

Kalau kita melihat orang-orang seperti Steve Jobs secara langsung memang dia tidak lulus kuliah. Sebetulnya dia kuliah juga, namun dia memilih tidak menyelesaikan kuliahnya. Itu pilihan dia, dia berani mengambil resiko dan dia konsisten dengan pilihannya. Dia bukan tidak mampu untuk menyelesaikan kuliahnya, namun dia hanya memilih beberapa mata kuliah yang benar-benar dia minati sampai dia mahir. Setelah merasa cukup, dia memilih untuk drop out, kemudian dia belajar sendiri secara otodidak dengan pikiran dan badannya. Begitu juga dengan orang-orang yang drop out lainnya.  Bisa dikatakan mereka lebih cepat dewasa dan tahu apa yang akan mereka lakukan di beberapa tahun ke depan dibandingkan dengan orang lain seusianya. Mereka tidak mementingkan hal-hal formal dan memilih jalur informal yang membuat mereka tidak terkekang dalam berkreasi dan berekspresi.

Mereka tahu dan yakin bahwa dunia informal sangat kaya dengan pengetahuan dan ketrampilan. Apalagi di jaman informasi seperti seperti sekarang ini yang membuat kita bisa belajar kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja. Namun memang dunia informal ini tidak memberi gengsi dan pengetahuan apa-apa sebelum berhasil. Berbeda bila kuliah di universitas, apalagi di kampus terkenal dan fakulas favorit, walaupun sering bolos dan kadang tidak paham dengan apa yang diajarkan, sejak awal para mahasiswa itu sudah bisa pamer jaket almamater dan menggunakan identitas kampus untuk keperluan macem-macem, berbeda dengan dunia informal yang baru didapatkan setelah usahanya berhasil. Dan orang-orang itu memilih dan meng-gambling hidupnya dengan dunia seperti itu, dan buat mereka itu tak menjadi masalah.

Contoh yang seperti ini pun sempat muncul beberapa bulan lalu, saat kita dihebohkan dengan berita luar biasa yang akhirnya muncul dalam berbagai meme, saat Susi dipilih sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Berita tentang bagaimana dia merokok di sela-sela pelantikan menteri oleh presiden sampai level pendidikan dia yang hanya lulusan SMP. Bayangkan, hanya lulusan SMP. Bahkan SMA pun dia tidak lulus. “Jadi mending saya gak usah kuliah saja kalau lulus SMP pun bisa menjadi menteri”, begitu kata sebagian orang. Terlepas dari kontroversi sikap keseharian beliau, mungkin kita perlu belajar darinya tentang bagaimana usaha yang dia lakukan untuk survive saat dia memutuskan untuk drop out dari SMA nya. Jika dia bukan orang yang taft, bermental baja, pekerja keras, dan tentunya kemauan untuk selalu belajar, tentu dia tidak akan bisa seperti sekarang. 

“Susi pernah sebangku dengan saya saat kelas satu SMA. Dia genius. Terlalu pandai untuk belajar di kelas dengan sistem yang ada. Dia lebih menikmati membaca buku-buku filsuf tebal dengan Bahasa asing daripada menghapal pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Sangat pandai di mata ajaran kimia. Susi memang sering sakit-sakit waktu itu, sehingga sangat mengganggu aktivitasnya….”

Itu adalah ungkapan dari sahabat SMAnya, wakil rektor UGM bidang kerjasama, Prof. Dwikorita Karnawati (saat ini menjabat sebagai Rektor UGM) saat penandatanganan kerjasama antara UGM dengan Geosurvey (Perusahaan milik Susi) dalam pengembangan riset teknologi lidar pada bulan April 2014.

Nah pertanyaannya sekarang, “memangnya saat SMA atau Kuliah, apa yang kita lakukan?”

 

*Kekkaron (結果論), dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai hindsight-based opinion atau pendapat/opini yang ditarik berdasarkan pada apa yang pernah dijalani.

 

————————————————————————————————————————————

Rubrik SerSan, -Serius tapi Santai-, merupakan rubrik terbaru di berandainovasi.com yang berisikan catatan ringan nan menginspirasi pembaca.

Ayo tuliskan komentar Anda untuk menanggapi tulisan SerSan periode 05-19 Maret 2015: ‘KEKKARON’, komentar terpilih akan mendapatkan buku “The Innovation Killer: How What We Know Limits What We Can Imagine –and What Smart Companies Are Doing About It” karya Cynthia Barton Rabe!

 

Selamat berkontribusi melalui tulisan dan komentar yang membangun!

Dr. Edi Sukur
Dr. Edi Sukur
Teknopreneur, Direktur PT. Edwar Healthcare.

11 Comments

  1. Saya baru tahu istilah Kekkaron, dan di sisi lain, say asetuju bahwa kita tdiak bisa menggeneralisisr semua orang yang tidak lulus SMA bisa sukses seperti Bu Susi atau semua orang yang DO dari bangku kuliah dapat mengikuti jejak Bill Gates, Steve Jobs, dan lain sebagainya. Yang harus dilakukan saat ini adalah terus berusaha maksimal dan yakin bahwa Allah pasti membalas usaha sekecil apapun. Karena kita tidak tahu bagaimana masa depan yang akan kita jalani, maka jalani yang ada semaksimal mungkin dengan bimbingan lifegoal-lifegoal yang ingin kita capai.

  2. alimuddin says:

    Istilah “kekkaron” baru bagi saya, namun uraian tukisan tentang makna hakikinya membuat saya mengembara lebih dalam lagi dengan penggambaran tokoh-tokoh yg mengilustrasikan makna dari “kekkaron”.

  3. Orang intelek mempelajari teori untuk dicocokan dengan kehidupan, sementara "mereka" mencocokan teori dengan kehidupan. Trus yang bener mana?
    Asal yang dilakukan itu bukan salah, setiap orang boleh berargumen dan bertahan, setiap orang mempunyai sudah sunnatullah mempunyai dan d tempatkan keahlian masing2.
    Yang terbaik adalah bagaimana orang intelek maupun "mereka" bisa terus berkarya, saling menghargai dan kerjasama.
    Sesungguhnya kenikmatan sejati itu adalah baik orang intelek maupun "mereka" adalah saat dijalan perjuangan. Tidak keberhasilan yang d capai. Dan perjuangan yang ikhlas, sungguh2 untuk beribadah yang sejatinya akan bermakna dan mendapatkan pahala baik oleh manusia terlebih lagi Allah SWT.
    Still spirit, always be positive, dan salam sukses buat sahabat2 semua.

  4. Kekkaron!
    Bisa jadi merupakan sebuah pangkal dari kreatifitas, yang dianut oleh orang-orang yang melihat dunia secara terbalik. Dalam artian melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Pengambilan simpulan secara induktif; menyampaikan beberapa pikiran atau pendapat yang bersifat khusus dan diakhiri oleh gagasan utama sebagai inti dari pendapat. Dalam hal di atas terkait, “Goblok” sebagai pikiran/kata yang bersifat khusus yang ternyata memiliki inti pendapat, “Rendah hati, ulet, pekerja keras, dsb.”

    Seperti halnya saya pernah ditanya,

    “Menurutmu apa kegunaan rem? apakah untuk memperlambat laju atau malah sebaliknya?”

    Tentu, menurut asas keumuman, jawaban yang paling sesuai dengan apa yang pernah ia jalani adalah, “Rem, ya buat memperlambat laju. Itu pasti.” tetapi orang yang memandang dunia ini secara “terbalik” akan mengatakan bahwa, “Rem berfungsi untuk mempercepat laju. Ihwal, karena kita tahu bahwa ada rem, maka kita tak akan ragu untuk mempercepat laju. Sebaliknya, jika kita tahu tak ada rem, apa mungkin kita akan melaju-mempercepat? Saya rasa tidak. Dia akan melaju secara hati-hati.” Kekkaron! Karena saya telah mengalami jika rem blong lebih baik jalan kaki. he he

    • SELAMAT, Muhamad Mulkan Fauzi! Anda menjadi pembaca Beranda yang komentarnya terpilih sehingga bisa mendapatkan buku “The Innovation Killer: How Wha We Know Limits What We Can Imagine –and What Smart Companies Are Doing About It” karya Cynthia Barton Rabe.

      Redaksi Beranda Inovasi akan segera menghubungi Anda.

      Mari memandang dunia dari sudut pandang yang lebih kreatif, yang berbeda dari orang-orang kebanyakan.
      Kami tunggu kontribusi selanjutnya di Beranda Inovasi!

Leave a Reply