Happy Eid Mubarak
Jul 24, 2015
Belajar Mudah dan Menyenangkan dengan Boneka Edukasi
Jul 28, 2015

Karena Sains Seharusnya Tidak Menimbulkan Bencana: Belajar dari Kisah Kapal Daigo Fukuryu Maru

Karena Sains Seharusnya Tidak Menimbulkan Bencana: Belajar dari Kisah Kapal Daigo Fukuryu Maru

Kapal Penangkap Tuna Daigo Fukuryu Maru yang menjadi saksi dahsyatnya efek radiasi senjata nuklir ketika Amerika menguji coba senjata nuklirnya “Castle Bravo” di Bikini Atoll, dekat Kepulauan Marshall

Minggu lalu saya beserta teman-teman saya yang mengambil mata kuliah History of Technology, Environment, and Economy mengunjungi Daigo Fukuryu Maru Exhibition Hall. Sejujurnya sekilah tidak ada yang terlalu “wah” dari museum ini. Termasuk kecil untuk ukuran museum, dan yang menjadi sorotan utama di tempat ini tentu adalah Daigo Fukuryu Maru (Lucky Dragon 5) yang merupakan kapal penangkap Tuna.

Kapal ini menjadi saksi dahsyatnya uji coba senjata nuklir “Castle Bravo” di Bikini Atoll, Kepulauan Marshall pada 1 Maret 1954. Sebanyak 23 orang awak kapal ini menjadi korban kontaminasi radiasi nuklir dan terserang Sindrom Radiasi Akut (Acute Radiation Syndrome/ ARS), bahkan salah satu awak kapal ini kemudian meninggal dunia disebabkan radiasi ini.

Matahari yang Terbit dari Sebelah Barat

Image and video hosting by TinyPic

Uji Coba “Castle Bravo” pada 1 Maret 1945. Dari kejauhan ledakan ini terlihat seperti matahari yang terbit dari Barat

Sepulang dari museum ini, saya tidak bisa berhenti berpikir mengenai apa yang dikatakan oleh kurator museum dan Sensei saya. Konon, menurut kesaksian para awak kapal ini, ketika Amerika meledakan senjata nuklir ini, sesaat langit berubah menjadi begitu terang dan itu semua terlihat seperti matahari yang terbit dari sebelah barat.

Saya kemudian teringat sebuah hadist:

“Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua mereka akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Tentu 1 Maret 1954 bukanlah hari akhir dunia, toh bumi masih berotasi hingga detik ini. Akan tetapi saya kemudian berpikir bagaimana jika itu semacam “kiamat kecil” dari Tuhan? bagaimana jika hal-hal seperti itu semacam peringatan kecil dari Tuhan? Bagaimana kalau sebenarnya kiamat-kiamat kecil di muka bumi ini bukan keisengan Tuhan kepada manusia-manusianya, tapi murni karena keegoisan dan ketidakbijaksanaan manusia itu sendiri? Maka ketika terjadi bencana dan kerusakan di muka bumi ini, saya rasa sangat tidak etis menyalahkan Tuhan atau planet bumi yang sudah semakin menua ini, karena jangan-jangan itu semua toh terjadi karena perbuatan kita sendiri?

Castle Bravo sendiri merupakan salah satu senjata nuklir terbesar yang pernah diujicobakan, kekuatannya setara dengan 15 Megaton TNT (Trinitrotoluene) dan karena kesalahan perhitungan, ledakan yang terjadi lebih besar dari yang diperkirakan begitu pula dengan radiasi yang dihasilkan  *1. Selain itu, ledakan juga menghasilkan debu. Awak kapal yang terkena debu ini kemudian mulai menampakan gejala kulit seperti terbakar. Belum lagi dampak kesehatan lainnya, setelah mereka berlabuh di Pelabuhan Yaizu setelah ledakan mereka mulai merasakan nyeri di perut, mual, gangguan penglihatan, dan indikasi-indikasi terkontaminasi nuklir lainnya.

Tidak hanya sampai situ, seluruh tuna hasil tangkapan para nelayan Daigo Fukuryu Maru tidak dapat dijual dan sebagian besar kemudian dibuang dan dikuburkan di dalam tanah. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga nasib para awak kapal saat itu, sudah terkena radiasi hasil tangkapan mereka tidak bisa dijualbelikan.

“I pray I am The Last Victim of an Atomic or Hydrogen Bomb”

Image and video hosting by TinyPic

Aikichi Kuboyama, Operator radio telegraph kapal Daigo Fukuryu Maru, salah satu korban dampak radiasi uji coba senjata nuklir “Castle Bravo”

Tersebutlah Aikichi Kuboyama, Operator radio telegraph kapal Daigo Fukuryu Maru, awak kapal yang kemudian meninggal dunia pada September 1954, 6 bulan setelah uji coba Castle Bravo. Kata terakhir yang diucapkan Kuboyama sebelum menghembuskan nafas terakhirnya adalah “I pray I am the last victim of an atomic or hydrogen bomb.” Kata-kata terakhir yang jauh dari egoisme ini kemudian menyentuh perasaan beberapa orang, namun sayangnya tidak pernah berhasil menghentikan ujicoba senjata nuklir di dunia.

Hubungan diplomatis Jepang dan Amerika sempat memanas saat itu, pada Januari 1955 Amerika menyerahkan kompensasi sebesar 2 juta USD kepada pemerintah Jepang namun tanpa tanggung jawab secara hukum karena mereka berdalih bahwa uji coba dilakukan di Kepulauan Marshall *2.

2 Juta USD tentu bukan nilai yang sedikit pada jaman itu. Akan tetapi apakah kerusakan lingkungan, kesehatan, dan nyawa manusia bisa dihargai hanya dengan ukuran moneter?

Jika saja Aikichi Kuboyama bisa melihat dunia setelah dia wafat, mungkin dia akan kecewa karena doanya pada dunia belum terkabul. Tercatat ribuan cadangan senjata nuklir tersimpan di Amerika, Rusia, dan negara-negara lainnya.

Image and video hosting by TinyPic

Dunia Tanpa Senjata Nuklir, Mungkinkah?
Jika kita menengok sejarah, pada tanggal 1 Juli 1968 di Finlandia, negara-negara di dunia menandatangani Nuclear Non-Proliferation Treaty (NATO). Salah satu poin dari perjanjian ini adalah penggunaan teknologi nuklir untuk kepentingan perdamaian. Namun tak ada gading yang tak retak, 5 negara diizinkan untuk memiliki senjata nuklir: Amerika, Rusia, Inggris, Perancis, dan Cina. Walau negara dengan hak tersebut tidak boleh menggunakan senjata mereka untuk hal yang berlawanan dengan perdamaian, dan teknologi itu hanya boleh digunakan di negara bersangkutan.

Pada kenyataannya?
Bukankah kita masih melihat perang-perang kecil di planet ini yang masih menggunakan senjata nuklir. Apa yang terjadi di jalur Gaza, perang di Afganistan, konflik di Korea Utara, dan sebagainya yang rasanya terlalu menyakitkan bahkan untuk diingat. Ketika senjata-senjata itu merusak kota-kota yang indah, melukai dan membunuh rakyat sipil yang bahkan tidak paham apa-apa. Jadi… jangan-jangan bencana-bencana itu murni karena ulah manusia sendiri.

Perlukah kita menjadi Anti-Nuklir?
Tidak! Dengan segala kerendahan hati dan dengan pemahaman saya yang masih cetek ini. Saya tetap merasa penelitian nuklir sangat diperlukan. Saya ingat dalam suatu kunjungan lapang, kedelai “nuklir” hasil eksperimen BATAN rupanya bisa menghasilkan kedelai berkualitas sangat baik. Bayangkan jika kita bisa mengembangkan itu, kita bisa berhenti bergantung pada kedelai impor!

Nuklir yang baik dan benar pengelolaannya juga bisa menjadi sumber energi yang sangat rendah emisi, hal ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi krisis listrik di Indonesia. Namun tentu perlu ahli-ahli nuklir yang cerdas dan berdedikasi untuk mengelola dan mengawasi proses yang ada.

Tuhan menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini pastinya tidak ada yang sia-sia, termasuk nuklir.
Dalam Islam, jika kita menilik sedikit Al-Quran, dalam Quran surat Ar-Rahman tertulis:

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Q.S. Ar-Rahmaan: 7-9)

Planet ini pasti sudah dirancang sedemikian rupa agar seimbang, dan kita manusia tugas kita hanya berusaha untuk memanfaatkan apa yang ada di muka bumi ini tanpa merusak keseimbangan yang ada. Bukankah itu berarti kita hanya perlu menjadi manusia yang tidak tamak?

Ketika kita merusak keseimbangan itu, maka rusaklah bumi ini. Dan benar kan… musibah itu rupanya kebanyakan karena ulah manusia itu sendiri.

Mungkin jika manusia bisa menahan diri untuk tidak terlalu over

Image and video hosting by TinyPic

Mawar ini diambil dari Kediaman Aikichi Kuboyama sebagai lambang harapannya agar tidak ada lagi korban senjata nuklir di dunia

Ah… mungkinkah dunia bisa menjadi tempat yang ramah terhadap perkembangan teknologi dan pengetahuan sekaligus menjadi tempat yang damai?
Jawabannya ada di nurani kita masing-masing yang kebetulan Tuhan percaya menjadi makhluk terhormat bernama: MANUSIA.

*1 http://nuclearweaponarchive.org/Usa/Tests/Castle.html
*2 http://www1.american.edu/ted/lucky.htm

Marissa Malahayati
Marissa Malahayati
Master di Social Engineering, Environmental Economics Lab., Tokyo Institute of Technology. Sedang mengkaji lebih dalam mengenai dampak perubahan iklim terhadap perekonomian. Blogger, pecinta kucing, penyuka buku dan bunga, senang menggambar.

Leave a Reply