ookingtackle.blogspot.com/2011/12/tempe-chips-kripik-tempe.html
Negeri Tempe yang Masih Mengimpor Kedelai: Mungkinkah Meningkatkan Produksi dan Produktivitas Kedelai Lokal?
Jul 15, 2014
Call for Contributors Beranda Inovasi edisi Agustus 2014 “PERUBAHAN ABAD INFORMASI”
Jul 16, 2014

Kafe “Pay As You Feel”: Berdagang Sampah Makanan di Inggris

Sampah sayuran yang dipilah untuk diolah kembali.

Apa jadinya jika Anda memakan makanan sisa yang sudah dibuang menjadi sampah oleh supermarket atau restoran? Tentu Anda merasa jijik dan menganggap mereka sebagai sumber penyakit. Namun di Inggris kini hadir kafe yang mengelola sampah makanan menjadi makanan lezat. Tentu saja makanan itu aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

The Real Junkfood Project di wilayah Armley, Leeds, West Yorkshire, Inggris hanya menyediakan makanan yang berasal dari sampah makanan yang sudah dibuang oleh supermarket atau restoran lain. Proyek tersebut membuat “Pay As You Feel” Cafe, yang memilah sampah makanan yang masih bisa dimakan dan mengubahnya menjadi makanan yang layak dikonsumsi.

Sampah sayuran yang dipilah untuk diolah kembali.

Sampah sayuran yang dipilah untuk diolah kembali.

Koki Adam Smith adalah penggagas proyek ini. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi sampah makanan di Inggris yang kebanyakan masih dapat dimakan. Dilansir dari situs Deutche Welle (http://www.dw.de/), terdapat sampah makanan seberat 15 juta ton di Inggris, dan sebagian besar masih dapat dimakan.

Sejak didirikan pada Desember tahun lalu hingga Januari 2014, kafe ini berhasil menyelamatkan sepuluh ton makanan yang tadinya ingin di buang. Menurut Colbert, salah satu direktur pelaksana kafe, sepertiga suplai makanan global berakhir di tempat sampah, termasuk dari peternakan, supermarket, dan rumah tangga.

 Misi Sosial

Kafe “Pay As You Feel” mengumpulkan makanan-makanan yang akan dibuang oleh supermarket dan restoran-restoran di kota untuk diolah kembali. Sebagian besar bahan makanan diambil dari gudang pengemasan dan supermarket. Petugas gudang dan supermarket akan memberitahukan kepada pengelola kafe jika ada makanan yang akan dibuang. Terkadang juga ada orang-orang yang mendonasikan makanan mereka yang akan terbuang kepada pengelola kafe.

Pengelola akan mengubah makanan sampah menjadi makanan yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Masalah pembayaran, konsumen dibebaskan untuk membayar sesuai denga kemampuan mereka. Terkadang ada juga yang tidak membayar dengan uang, namun mereka membantu pihak kafe untuk sekadar membersihkan jendela atau mencuci piring.

[ads1]

Suasana pengunjung kafe.

Suasana pengunjung kafe.

We like to think if somebody has a little more money they might pay a little more. But if a person did not have the means to pay we are not going to not serve them, if they are hungry we are going to give them food. Sometimes if customers don’t have money they will help out for a couple of hours, invest some of their time. We want to make use of all this food that is being needlessly wasted over society. We want to provide healthy meals for people who are food insecure. Using food collected that basically gets sent to landfill.

(Kami suka berpikir jika seseorang memiliki sedikit lebih banyak uang, mereka mungkin membayar sedikit lebih. Tapi jika seseorang tidak memiliki sarana untuk membayar, kami tidak akan tidak melayani mereka, jika mereka lapar kami akan memberi mereka makanan.  Kadang-kadang jika pelanggan tidak punya uang mereka akan membantu selama beberapa jam, menginvestasikan sebagian waktu mereka. Kami ingin memanfaatkan semua makanan ini yang terbuang sia-sia atas masyarakat. Kami ingin menyediakan makanan sehat bagi orang-orang yang rawan pangan. Menggunakan makanan yang dikumpulkan yang pada dasarnya akan dikirim ke tempat pembuangan akhir.),” ungkap Connor Walsh (23), salah satu pengelola kafe seperti dirilis oleh situs DailyMail.co.uk.

 Tanggal Kadaluarsa

Penyebab utama melimpahnya sampah makanan adalah tanggal kadaluarsa yang menjadi patokan masyarakat untuk membuang makanan mereka. Tanggal kadaluarsa tidak sepenuhnya dapat dijadikan rujukan bahwa makanan masih dapat dikonsumsi atau tidak. Tanggal kadaluarsa hanya memperlihatkan saat kualitas makanan menurun.

Penasaran dengan rupa makanan yang disajikan oleh kafe “Pay As You Feel”? Mari kita lihat gambar yang didapatkan dari Fanpage Facebook kafe tersebut.

Bagaimana pandangan Anda? Tertarik untuk mencoba? Atau tertarik untuk menerapkannya di Indonesia? (DWH)

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply