Robot Tank Tanpa Awak, Inilah Kendaraan Perang Temuan Mahasiswa ITS
Jun 1, 2016
Mengenal Aliran Turbulensi, Mencari Keteraturan di antara Kekacauan
Jun 3, 2016

Jumlah Petani Menurun, Seberapa Pentingkah Pekerjaan Ini di Indonesia?

Petani Indonesia via id.techinasia.com

Petani Indonesia via id.techinasia.com

Petani Indonesia via id.techinasia.com

Semasa kecil, jika kita ditanya mengenai masa depan dan cita-cita, maka kita akan menjawab dengan mantap profesi-profesi seperti pilot, dokter, guru, insinyur dan sebagainya. Terlepas dari hal itu, terkadang kita terlupa ada sesosok profesi mulia yang menjadi tulang punggung perekonomian negara kita. Berdasarkan data dari World Factbook tahun 2012, sektor pertanian menduduki peringkat kedua setelah sektor jasa.

Angkatan Kerja Berdasarkan Sektor

Angkatan Kerja Berdasarkan Sektor (World Factbook 2012)

Pertanian, khususnya pertanian skala kecil, masih merupakan sumber tunggal terbesar dari kerja bagi kaum muda di daerah pedesaan. Namun, baik halnya di negara maju dan berkembang, masyarakat sudah tidak lagi tertarik untuk menggeluti bidang pertanian. Petani sendiri sering mengatakan mereka berharap anak-anak mereka akan mencari pekerjaan yang lebih baik daripada pertanian. Apakah ini berarti tidak akan ada generasi berikutnya dari petani kecil untuk memproduksi beras dan makanan lainnya untuk penduduk Indonesia tumbuh?

Jumlah angkatan kerja sektor pertanian sempat mengalami masa kejayaan sampai dengan tahun 2003. sensus pertanian yang dirilis pada tahun 2013, menyatakan setelah tahun 2003 jumlah petani menurun dari 31.17 juta menjadi 26.13 juta pada 2013. Selain itu, pertanian juga masih didominasi oleh angkatan kerja yang memiliki produktivitas yang tidak lagi prima seperti pada usia 45 keatas.

Jumlah Petani di Indonesia dalam Juta (BPS 2013)

Jumlah Petani di Indonesia dalam Juta (BPS 2013)

Beberapa hal yang menjadi halangan untuk berkeimpung di bidang pertanian adalah ketersediaan dan kepemilikan lahan. Di sebagian besar desa, faktor kepemilikan tanah menjadi hambatan untuk kaum muda untuk memiliki prospek yang realistis untuk menjadi petani. Satu-satunya orang yang memiliki kesempatan untuk memiliki tanah saat mereka masih muda adalah mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas.

Tetapi alih-alih menggarap lahan yang ada, mereka biasanya pergi ke universitas agar bisa memilih pekerjaan yang bergaji aman. Mereka mungkin berharap untuk mewarisi dan memiliki tanah, tetapi sebagai sumber pendapatan melalui sewa; mereka tidak memiliki kepentingan dalam pertanian itu sendiri.

Sementara itu, orang-orang muda yang tumbuh di keluarga petani petani kecil berkemungkinan dapat dapat mewarisi sebidang tanah namun tentu tidak banyak dan mayoritas hanya akan diakses ketika mereka sudah berusia diatas 40 atau 50 tahun. Untuk mereka yang mereka orangtuanya tidak memiliki lahan, mereka hanya berprospek menjadi buruh tani. Untuk menjadi petani, tidak jarang mereka mencari pekerjaan tetap di luar sektor pertanian dan berharap untuk menyimpan cukup uang untuk membeli atau menyewa beberapa lahan.

Presentase Petani di Indonesia (BPS 2013)

Presentase Petani di Indonesia (BPS 2013)

Tidak dapat dipungkiri bahwa, membeli lahan hanya menjadi pilihan bagi mereka yang sudah kaya. Hal ini disebabkan investasi spekulatif tanah (oleh non-petani) dan kenaikan harga tanah. Di beberapa desa, harga satu hektar lahan sawah irigasi bervariasi antara sekitar Rp.100 juta dan Rp. 1 milyar. Sedangkan upah lokal atau penghasilan sektor informal umumnya tidak lebih dari Rp.1 juta per bulan. Oleh karena itu, jika seseorang bisa menghemat Rp500.000 per bulan dari penghasilan tersebut, maka setelah 100 tahun ia hanya bias membeli sebuah lahan paling mahal dengan luas 0.4 hektar.

Ketiadaan generasi penerus yang tertarik untuk menjadi petani merupakan permasalahan tersendiri. Jika kebutuhan beras dan pangan lainnya di Indonesia yang harus dipenuhi di masa depan terutama oleh petani kecil, bukan oleh perkebunan besar atau perusahaan industri. Untuk itu, kehidupan pedesaan dan pertanian harus dibuat lebih menarik bagi orang-orang muda. Solusi yang jelas tentang hambatan utama para pemuda untuk terlibat ke dalam pertanian, baik saat masih muda, atau sebagai pilihan hidup kemudian.

Pemuda Indonesia adalah sumber potensial yang paling penting karena memiliki inovasi, energi, produktivitas, dan kreativitas dalam mengembangkan praktek pertanian baru yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Banyak yang dapat dilakukan dalam pendidikan umum, media publik dan khususnya di media sosial untuk memperbaiki citra yang selama menggambarkan pertanian dan kehidupan pedesaan. Sehingga para pemuda tidak lagi memiliki stigma bahwa pertanian adalah pekerjaan kotor, menguras energi dan tidak menjanjikan.

Saat ini, pertanian bukan hanya permasalahan mencangkul dan mengolah lahan. Banyak inovasi yang sudah ditemukan untuk mendukung pertanian itu sendiri. Bidang teknologi pertanian, bidang ICT pertanian, dan agribisnis banyak mewarnai inovasi-inovasi di bidang petanian. Selain itu program pendampingan petani oleh para pemuda juga sangat membantu petani untuk mendapatkan nilai tambah bagi produksi pertanian.

Sebut saja kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Petani Muda, Igrow Indonesia, Indonesia Berkebun, dan Indonesia Bangun Desa merupakan beberapa usaha dan komunitas yang mendukung inovasi pertanian di Indonesia. Semoga semakin banyak pemuda Indonesia yang terinspirasi dan tertarik untuk berkecimpung di bidang pertanian selanjutnya. (RAP)

 

Daftar Referensi:

Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 Sensus Pertanian.

Ben White. 2015. Would I like to be a farmer? The Akatiga Foundation.

WTO Agreement on Agriculture: The Implementation Experience – Developing Country Case Studies, FAO, 2003.

Riska Ayu Purnamasari
Riska Ayu Purnamasari
Graduate Student at University of Tsukuba, Japan.

Leave a Reply