“Joy of Manufacturing” Kisah Honda Memulai Usahanya Bag. 2
Nov 1, 2012
Karya Mandiri, Kembangkan Rambak di Gunungkidul
Nov 5, 2012

“Joy of Manufacturing” Kisah Honda Memulai Usahanya Bag. 3

Pada usia dua puluh, Honda dipanggil untuk wajib militer. Namun pemeriksaan medis menyatakan bahwa ia mengidap buta warna sehingga ia berhasil menghindari untuk menghabiskan waktu di kamp militer. Pada April 1928, ia menyelesaikan magang dan membuka cabang Art Shokai di Hamamatsu. Honda yang telah menginjak usia 21 tahun mulai mengabdikan dirinya untuk menghabiskan masa mudanya untuk terus mengasah kerterampilan. Ia tidak hanya dikagumi karena kemampuannya untuk memperbaiki mesin, tetapi juga keran ia mempunya kemampuan untuk menemukan hal baru dan berinovasi. Karena itu, ia mendapatkan gelar “Edison Hamamatsu” dan mulai melakukan segala macam pekerjaan yang jauh melampaui batas rata-rata pekerja lainnya.

Honda menyukai balapan otomotif dan menciptakan rekor kecepatan pada 1936. Dia kemudian mengalami cedera dalam sebuah kecelakaan yang parah – tulangnya patah termasuk di kedua pergelangan tangannya – dan berhasil dibujuk istrinya untuk berhenti membalap. Pada tahun 1936, tahun yang sama terjadi kecelakaan, Mr Honda menjadi tidak puas dengan pekerjaannya dan mulai merencanakan pindah ke manufaktur. Dia mengambil langkah-langkah untuk mengubah cabang Hamamatsu menjadi perusahaan terpisah tetapi investornya menentang keinginannya untuk mulai membuat ring piston (cincin piston). Honda tidak menyerah, ia meminta bantuan dari seorang kenalan yakni Shichiro Kato, dan mendirikan Industri Berat Tokai Seiki, (IBTS,Tokai Seiki Heavy Industry), dengan Kato sebagai Presiden.

Setelah serangkaian kegagalan yang dialami, akhirnya ia menjadi mahasiswa part time di Hamamatsu Industrial Institute (sekarang Fakultas Teknik di Universitas Shizuoka) sehingga dapat meningkatkan pengetahuan tentang metalurgi. Akhirnya percobaan manufakturnya berhasil dan pada tahun 1939 sehingga ia menyerahkan Art Shokai cabang Hamamatsu kepada bawahannya dan bergabung dengan Tokai Seiki sebagai presiden.

Produksi cincin piston yang akan dimulai Honda mengalami kesulitan. Kali ini masalahnya berhubungan dengan teknologi manufaktur. Honda mencoba untuk menjalin kontrak dengan Toyota Motor Co, Ltd, namun dari lima puluh cincin piston yang ia kirimkan, hanya tiga yang memenuhi standar kebutuhan. Setelah hampir dua tahun ia mengunjungi universitas dan perusahaan pembuatan baja di seluruh Jepang untuk mempelajari teknik manufaktur, akhirnya memproduksi massal cicin piston untuk perusahaan seperti Toyota dan Nakajima Aircraft. Puncak kesuksesan dicapai saat perusahaan mampu mempekerjakan lebih dari 2.000 orang.

Namun, pada 7 Desember 1941, Jepang mengalami Perang Pasifik. Tokai Seiki ditempatkan untuk mengendalikan persediaan mesiu. Pada tahun 1942, Toyota mengambil alih 40% dari ekuitas perusahaan Tokai Seiki dan Honda “diturunkan” dari presiden ke managing director senior. Para karyawan laki-laki secara bertahap menghilang karena mereka dipanggil untuk dinas militer, hal ini membuat wanita dewasa dan siswa perempuan mulai bekerja di pabrik sebagai pekerja. Honda sendiri yang akan memastikan bahwa proses manufaktur dilakukan seaman dan sesederhana mungkin bagi para pekerja perempuan berpengalaman.

Serangan udara saat perang dunia yang terjadi di Jepang menjadi semakin jelas bahwa negara itu sedang menuju kekalahan. Akibat serangan itu Hamamatsu pecah menjadi puing-puing dan Tokai Seiki Yamashita juga hancur. Perusahaan mengalami bencana lebih lanjut pada tanggal 13 Januari 1945, ketika gempa melanda Nankai distrik Mikawa dan pembangkit listrik di Iwata yang runtuh. Hal ini diikuti oleh kekalahan Jepang pada 15 Agustus yang menjadikan negara mengalami perubahan yang sangat besar, juga kehidupan Honda menjadi benar-benar berubah. (FAR)

Sumber:

http://world.honda.com/history/limitlessdreams/joyofmanufacturing/text/01.html

 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply