Phi-Spray : Semprotan Anti Air Berbahan Dasar Kitosan yang Ramah Lingkungan
Apr 10, 2015
Beranda MITI Lintas Inovasi GAMA-SEISTEK, Aplikasi Standar Aman Bangunan
Software ini dapat deteksi zona tidak aman gempa
Apr 14, 2015

Jatuh Cinta : Sebuah Penjelasan Ilmiah

Jatuh CInta Penjelasan Ilmiah Beranda MITI

Jatuh CInta Penjelasan Ilmiah Beranda MITIJatuh cinta merupakan sebuah istilah yang kerapkali disangkutpautkan dengan perasaan ketertarikan dengan lawan jenis. Biasanya, seseorang akan merasakan sensasi jatuh cinta ketika telah memasuki masa kematangan seksual atau sering disebut dengan pubertas. Banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu di seluruh penjuru dunia yang telah mandefinisikan cinta. Salah satu yang paling terkenal yaitu teori roda warna yang dicetuskan oleh John Lee pada tahun 1973.

Dalam bukunya yang berjudul The Colors of Love, John Lee, seorang psikolog asal Kanada, menganalogikan cinta seperti lingkaran warna yang membagi cinta atas tiga tipe utama yaitu Eros, Ludos, dan Storge. Eros adalah cinta kepada orang yang dianggap ideal, Ludos adalah cinta yang dianggap sebagai permainan, dan Storge adalah cinta persahabatan. Terdapat pula kombinasi dari ketiga tipe cinta tersebut yaitu Pragma , Mania dan Agape. Pragma yang merupakan perpaduan antara Ludos dan Storge merupakan cinta yang realistis dan praktis. Mania adalah perpaduan dari Eros dan Ludos yang berarti cinta obsesif sedangkan Agape, perpaduan antara Eros dan Storge, merupakan cinta tanpa pamrih.

Lalu bagaimana sebenarnya para peneliti menjelaskan tentang fenomena jatuh cinta?

Esch dan Stefano pada tulisannya yang berjudul Neurobiology of Love mengemukakan bahwa cinta merupakan hal yang sangat kompleks karena masih berupa hipotesis dan memiliki konstruksi yang multidimensi. Namun, terdapat ciri-ciri umum yang biasa nampak pada orang yang sedang jatuh cinta seperti kasih sayang (attachment), komitmen (commitment), keintiman (intimacy), hasrat (passion), rasa sedih ketika berpisah (grief upon separation), dan cemburu (jealousy), merupakan definisi yang umum untuk menggambarkan emosi orang yang sedang jatuh cinta. Selain itu, mereka memaparkan bahwa proses-proses tersebut tak lepas dari peran hormon seperti oksitosin, vassopresin, dopamin, dan serotonin.

Oksitosin dan vasopresin merupakan hormon yang disekresikan oleh kelenjar hipotalamus. Kedua hormon tersebut berkaitan dengan tingkah laku, fungsi seksual dan reproduksi. Selain itu, salah satu fungsi vasopresin adalah meningkatkan sifat agresif dan protektif pada otak sehingga berpengaruh terhadap perlindungan kepada pasangan. Dopamin berfungsi membantu otak mengatasi depresi, memperkuat ingatan dan meningkatkan kewaspadaan mental. Sedangkan serotonin berfungsi sebagai pengatur tidur, selera makan, dan libido.

Pada tahun 2000, Semir Zeki dan Andreas Bartels mengadakan sebuah penelitian tentang rasa cinta dan aktivitas otak. Mereka melakukan uji terhadap 70 orang koresponden yang terkategori sedang merasakan sensasi jatuh cinta. Setelah dilakukan uji pendahuluan, kemudian dipilih 17 orang koresponden yang representatif untuk dilakukan uji pindaian fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) yang dapat melacak bagian-bagian otak yang teraktivasi, ditandai dengan daerah otak dengan piksel-piksel warna berbeda yang terpampang di monitor. Selain dapat mengetahui bagian yang teraktivasi, uji pindaian fMRI juga dapat melacak bagian-bagian yang mengalami penurunan kinerja pada otak.

Uji aktivitas otak dimulai dengan memasang alat fMRI kepada koresponden, kemudian mereka diarahkan untuk memandang foto pasangan yang mereka cintai. Kemudian foto tersebut diganti dengan foto teman yang sama sekali tidak memiliki hubungan romantis dengan koresponden. Metode ini memungkinkan Bartels dan Zeki untuk menentukan antara daerah hubungan cinta dan daerah hubungan pertemanan.

Gambar 1. Daerah yang Teraktivasi Ketika Jatuh Cinta

Gambar 1. Daerah Otak yang Teraktivasi Ketika Jatuh Cinta

Daerah yang teraktivasi ketika koresponden memandang foto orang yang dicintainya adalah anterior cingulate, cerebelum, insula dan hipocampus. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah yang juga teraktivasi pada orang yang berada dalam euforia akibat zat adiktif seperti heroin atau kokain. Hal tersebut menjelaskan mengapa orang yang sedang jatuh cinta sering kali didera perasaan yang membuat jiwa terasa melayang ketika berada di dekat orang yang dicintai.

Gambar 2. Daerah Otak yang Inaktif Ketika Jatuh Cinta

Gambar 2. Daerah Otak yang Inaktif Ketika Jatuh Cinta

Sebaliknya, hasil pindaian fMRI menunjukkan adanya penurunan kinerja pada bagian otak yang bertanggung jawab terhadap cara berpikir kritis. Padahal kemampuan berpikir kritis merupakan ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Dengan demikian, tak heran jika orang yang tengah kasmaran seringkali mengalami penurunan –atau bahkan kehilangan- kemampuan berpikir kritis terhadap karakter, kepribadian, bahkan penampilan orang yang dicintai. Ungkapan yang mengatakan bahwa cinta itu buta ternyata dapat dijelaskan secara ilmiah.

Hasil-hasil penelitaan tentang hubungan antara cinta dan hormon serta aktivitas otak kembali mempertegas bahwa ada penjelasan yang sangat ilmiah dibalik fenomena jatuh cinta. Sehingga kita tak perlu lagi merasa kebingungan atas berubahnya tingkah laku manusia ketika sedang jatuh cinta karena semua itu sangat berkaitan erat dengan proses fisiologi di dalam tubuh manusia.

 

 

 

 

 

Referensi

Christine, Novitasari, Ambarsari, & Mayasara. 2011. Hormon Oksitosin. Poltekkes Kemenkes Surabaya : Surabaya, 12 hlm.

Esch, T. & Stefano, G.B. (2005). “The Neurobiology of Love. Neuro endocrinology letters, 26 (3), 175-92 PMID: 15990719.

Zeki, S. & Bartels, A. (2000). ”Neural Basis of Love”. Neuro Report, Vol.11 No.17 :3829-34

http://mediaindonesiasehat.com/2014/08/09/peranan-neurotransmiter-otak-pada-gangguan-perilaku-dan-gangguan-psikiatrik/ diakses pada tanggal 09 April 2015 pk. 22.27 WIB

Kartika Salam Juarna
Kartika Salam Juarna

Mahasiswa tingkat akhir program studi Biologi FMIPA Universitas Indonesia.

Leave a Reply