Bagaimanakah Seharusnya Peran Orangtua untuk Anaknya dalam Keluarga?
Apr 4, 2016
Google Luncurkan Sepeda yang Dapat Berjalan Sendiri di Belanda, Benarkah?
Apr 5, 2016

Jangan Lagi Ada Selfie (Maut) Diantara Kita!

Sumber Ilustrasi: Zopini.com

Sumber Ilustrasi: Zopini.com

Sumber Ilustrasi: Zopini.com

Siapa yang tidak pernah befoto selfie saat ini? Meskipun mungkin tidak semua orang menyukai selfie, tapi penggemar selfie sudah pasti tidak dapat dihitung jari karena selfie telah menjadi budaya di berbagai kalangan, dari mulai anak muda hingga orang tua. Dalam berbagai momen atau kesempatan, para penggemar selfie asyik mematut diri agar dapat menghasilkan foto terbaik, meskipun menghabiskan waktu cukup lama demi mendapatkan foto terbaik. Hal yang menarik dari selfie yaitu adanya rasa bahagia, bangga, dan percaya diri ketika postingan foto itu disukai atau diberi komentar yang baik oleh orang lain.

Namun ironisnya selfie bisa menjadi suatu tindakan nekat yang malah bisa berujung maut. Saking ini menghasilkan foto yang bagus, beberapa orang memilih tempat yang berbahaya untuk selfie. Kasus yang masih hangat terjadi yaitu kematian Nur Afifah, seorang siswa kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah akibat tersambar Kereta Api Fajar Utama jurusan Senen-Yogyakarta. Sebelum meninggal, Nur Afifah nekat selfie di atas jembatan bersama teman satu sekolahnya, Eliatun Nofikah. Namun sayangnya, saat asyik berfoto tersebut, dia tidak menyadari adanya kereta sehingga terjatuh dan mengalami luka di bagian kepala dan tangan kiri. Tidak lama setelah dibawa ke Rumah Sakit, Nur menghembuskan nafas terakhir.

Kasus kedua yang sempat hangat di berbagai media beberapa waktu silam yaitu kematian Eri Yunanto, mahasiswa Universitas Atma Jaya, karena terpeleset hingga jatuh ke kawah Gunung Merapi pada Sabtu siang setelah berfoto selfie di atas batu yang terletak di bibir kawah. Sebelum terjatuh, Eri sempat mengunggah foto selfie di media sosialnya yang mengundang berbagai like dan komentar. Sehari setelah musibah akibat selfie yang terjadi pada Eri Yunanto di Gunung Merapi, insiden yang dipicu hal serupa terjadi di pantai selatan Kabupaten Malang. Susiana, warga RT 1/RW 1 Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, meninggal setelah terseret ombak saat asyik selfie dengan latar belakang Pantai Bajulmati di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan. Susiana tidak dapat menyelamatkan diri ketika ombak besar dan kencang datang saat dirinya berfoto selfie.

Kejadian demi kejadian terkait selfie ini merupakan bentuk dari gejala narsisme yang meningkat di masyarakat. Selama beberapa dekade psikolog telah menempatkan cermin di laboratorium untuk memahami apa yang terjadi secara psikologis ketika kita melihat diri sendiri. Hal pertama adalah tentang kesadaran mengenai kondisi diri sendiri, kedua adalah perbandingan yang terjadi di dalam diri. Keith Campbell, penulis “The Narcissism Epidemic” dan profesor psikologi di University of Georgia, menduga hasilnya akan sama sekarang setelah eranya selfie. Sebab, keduanya terkait dengan ketidakpercayaan diri serta potensi yang menimbulkan efek kerusakan meski itu dilakukan untuk membuat seseorang tampil lebih baik secara fisik. Ini mengindikasikan bahwa selfie sebenarnya hanya memberikan efek percaya diri yang semu.

Secara psikologis, setidaknya ada 4 bahaya psikologi dari hobi selfie yang perlu diwaspadai : pertama, gangguan penyakit mental, dimana penderita tidak bisa berhenti memikirkan penampilannya dari cacat sedikit pun, meskipun cacat tersebut hanya minor atau hanya bayangannya saja; kedua, krisis kepercayaan diri karena selalu adanya keinginan ingin diperhatikan oleh orang lain melalui foto selfie yang diposting ke sosial media. Apalagi jika kebiasaan posting selfie ini diteruskan, akan menjadi penyakit yang lebih kronis dan berbahaya secara psikologis; ketiga, kepribadian narsis, yang meliputi sikap-sikap seperti percaya bahwa dirinya lebih baik dari yang lain, terus-menerus mengharapkan pujian dan kekaguman dari orang lain, gagal untuk mengenali emosi dan perasaan orang lain, dan tidak bisa menerima kritikan; serta yang terakhir yaitu kecanduan.

Intinya, selfie memang memberikan dampak kesenangan namun sifatnya hanya sementara atau semu. Jika seseorang sudah mencapai taraf kecanduan, artinya selfie akan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dan dilakukan. Tentunya hal ini akan membuang waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan biaya. Bahkan ironisnya hingga tidak mengenali tempat berbahaya atau bukan seperti pada kasus-kasus diatas. Selfie? no problem! Asal dilakukan di waktu dan momen yang tepat serta tidak menjadi kecanduan setiap saat.

 

Daftar Referensi :
http://doktersehat.com/hobi-selfie-waspadai-bahaya-psikologi-ini/#ixzz44B8R5daa

http://regional.liputan6.com/read/2457281/asyik-selfie-di-jembatan-ka-gadis-ini-tewas-disambar-fajar-utama?ref=yfp

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/15/06/15/npy0e5-psikolog-ungkap-bahaya-terlalu-banyak-selfie

http://www2.jawapos.com/baca/artikel/17485/selfie-masuk-kawah-merapi

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply