Taman Pengolah Limbah Cair Skala Rumah Tangga
Feb 7, 2014
Beranda Inovasi Official Call for Contributor
Feb 21, 2014

Investasi Pohon Jati sebagai Langkah Pengurangan Emisi CO2

Pemanasan global merupakan isu hangat yang sering diperbincangkan oleh masyarakat global. Dalam laporan tahun 1995, selama beberapa abad terkahir telah terjadi peningkatan suhu sekitar 0,50C secara global dan memperkirakan suhu di bumi akan meningkat sekitar 200C lagi pada tahun 2100 (Edward dan Anderso  n 1994). Salah satu faktor penyebab pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, terutama CO2. Pada tahun 1995, sebanyak 6,5 miliar ton karbon terlepas ke atmosfer sebagai CO2. Konsentrasi CO2 di atmosfer tahun 2012 adalah sekitar 360 ppm (atau 0,36%) padahal ambang batas konsentrasi CO2 yang diperbolehkan di atmosfer hanya 350 ppm dan diperkirakan akan terus meningkat (Yunus et al. 2006). 

Jati Tree

Sumber ilustrasi: k-andson.com

Dalam rangka mitigasi perubahan iklim, diperlukan langkah-langkah dalam mengurangi faktor penyebab perubahan iklim tersebut. Salah satunya adalah dengan menjaga kelestarian hutan sebagai penyerap emisi CO2 di atmosfer. Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada tahun 2007, emisi CO2 yangberasal dari deforestasi dan degradasi hutan kurang lebih 17% emisi gas rumah kaca. Untuk itu diperlukan berbagai cara untuk mengurangi dampak deforestasi dan degradasi hutan tersebut. Salah satunya adalah program REDD+, yaitu pemberian insentif bagi negara-negara yang berhasil mengurangi emisi karbon dengan menekan tingkat kegiatan deforestasi dan degradasi hutan.

Selain program yang bersifat global, diperlukan juga aksi dari pemerintah Indonesia. dalam upaya mengurangi emisi CO2 dari sektor kehutanan. Salah satunya adalah dengan bantuan pemerintah dalam membentuk sebuah koperasi simpan pinjam pohon kayu jati. Koperasi ini dapat menyediakan sarana simpan pinjam kepada para masyarakat maupun perusahaan perkebunan pohon jati untuk menginvesasikan pohon jati mereka ke koperasi tersebut.

Pemilihan pohon jati disebabkan oleh kemampuan mereduksi emisi CO2 pohon ini tergolong tinggi, semakin lama umur pohon tersebut maka semakin besar kemampuan mereduksi CO2 (Basuki et al. 2008). Selain itu kayu jati merupakan salah satu investasi yang umum dilakukan masyarakat yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan luasan area tanam yang tinggi, terutama di Pulau Jawa. Namun terdapat kelemahan investasi kayu jati yang dirasakan masyarakat, yaitu proses menunggu masa panen. Menurut UU No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya rendahnya kualitas kayu jati yang dihasilkan dari pengelolaan hutan rakyat yang dicirikan oleh adanya penebangan pohon pada umur muda, yakni kurang lebih 20 tahun. Namun, masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi cenderung menjual kayu jati mereka saat umur pohon masih muda. Padahal jika menjual kayu jati yang umurnya masih muda tentu harganya berbeda dengan umur yang lebih tua karena berdasarkan harga jual dasar yang ditetapkan oleh Perhutani harga kayu jati ditentukan atas umur, diameter batang dan juga kualitasnya. 

Tabel 1 Pengurangan emisi karbon

Koperasi simpan-pinjam selain dapat mengatasi beban ekonomi masyarakat, juga dapat mempertahankan keberadaan pohon jati sampai umur optimal pohon tersebut untuk ditebang. Koperasi dapat memberikan pinjaman dengan bunga rendah pada masyarakat dengan jaminan adanya surat keterangan kepemilikan pohon jati. Sebagai bukti pinjaman kepada masyarakat maka diberikan surat keterangan peminjaman, sehingga pohon tersebut masih dapat tumbuh dan berada dalam pengawasan koperasi. Apabila pohon tersebut telah mencapai umur yang optimal, maka sang pemilik boleh menjual pohon tersebut kepada sehingga pemilik dapat mengembalikan uang pinjaman sebelumnya. Selain itu koperasi juga memperoleh keuntungan dari bunga dari proses peminjaman.

Dengan adanya koperasi simpan-pinjam dengan jaminan pohon jati ini diharapkan terjadi peningkatan investasi pohon jati dalam masyarakat dan penebangan pohon jati di bawah umur optimalnya dapat berkurang. Penundaan pemanenan pohon jati juga ikut berperan dalam pengurangan emisi CO2. Semakin banyak pohon jati dan semakin lama umurnya, maka pengurangan emisi CO2 di udara juga semakin tinggi.  Pohon jati yang ditebang pada umur optimalnya juga dapat meningkatkan ukuran dan kualitas kayu sehingga harga kayunya juga terus meningkat setiap tahunnya dan dapat membantu permasalahan ekonomi masyarakat. Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk meningkatkan investasi pohon jati, sebaiknya beberapa tokoh masyarakat setempat dijadikan pengurus koperasi tersebut.

Resti Salmayenti

Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor

Referensi:

Basuki T M, et al. 2008. Kajian kuantifikasi kandungan karbon pada hutan tanaman jati (Tectona grandis LINN). J Penelitian Hutan dan Konsevasi Alam Vol 5 (1):101-106.

Edward E dan Anderson. 1994.Thermodynamics. Boston: PWS Publishing Company.

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2007. Climate change 2007. Synthesis report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change.

Presiden Republik Indonesia. 2010. Undang-undang Republik Indonesia No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budara. Lembaran Negara Republik Indonesia.

Susandi, t al. 2008. Dampak perubahan iklim terhadap  ketinggian muka laut di wilayah Banjarmasin. Jurnal Ekonomi Lingkungan Vol 12 (2). Institut Teknologi Bandung.

Yunus A, et al. 2006. Thermodynamics An Engineering Approach Fifth Edition in SI Units. McGraw Hill Companies, Inc. Boston.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply