Jika Kamu Hanya Memainkannya, Di Amerika Serikat Justru Pokemon GO Digunakan untuk Terapi Anak
Jul 22, 2016
Sejuta Manfaat Semangka untuk Kesehatan Tubuhmu
Jul 25, 2016

Insinerasi: Mengubah Sampah Menjadi Energi

incinerationDengan jumlah 187,2 juta ton, Indonesia menempati peringkat ke-2 dunia sebagai negara penghasil sampah plastik. Posisi ini berada satu peringkat di bawah Cina yang produksi sampah plastiknya mencapai 262,9 juta ton. Hal ini berdasarkan data dari Jambeck pada tahun 2015.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai persoalan sampah sudah meresahkan. KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik lebih dari 1,9 juta ton hingga tahun 2019.

Jumlah produksi sampah yang sangat besar tersebut sesungguhnya merupakan potensi yang apabila dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi sumber energi alternatif. Namun, masih banyak kendala yang dihadapi dalam mengelola potensi tersebut. Kendala-kendala ini harus dipecahkan melalui penelitian lebih lanjut.

Edy Wiyono, Dosen dari Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), merupakan salah satu akademisi yang meneliti tentang “Proses Pembakaran Sampah Kota Sebagai Alternatif Sumber Energi”. Penelitian yang dilakukan untuk mencapai gelar doktor di  Fakultas Teknik UGM ini berfokus pada penggunaan insinerator dalam pengelolaan sampah baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Hasil penelitiannya telah dipresentasikan dalam ujian terbuka pada Kamis (21/7) kemarin.

Penggunaan Insinerator dalam Pengelolaan Sampah

7171-pembakaran-sampah-kota-berpotensi-sebagai-sumber-energi-alternatif

Pembakaran Sampah Kota Berpotensi Sebagai Sumber Energi Alternatif via ugm.ac.id

Kata insinerator merujuk pada alat yang dipergunakan untuk membakar sampah. Kata ini merupakan pengembangan dari istilah insinerasi (dalam Bahasa Inggris: incineration), yakni teknologi pengolahan sampah yang melibatkan pembakaran bahan organik. Insinerasi material sampah akan mengubah sampah menjadi abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. Energi yang dapat dihasilkan dari pengelolaan sampah melalui insinerasi didapat dari panas hasil pembakaran.

Tidak seperti di Indonesia yang hanya digunakan sebagai pembakar sampah, di negara-negara maju insinerator sudah dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit energi. Beberapa catatan dari disertasi yang ditulis oleh Edy Wiyono di bawah ini dapat menambah wawasan mengenai proses pengelolaan sampah kota di Indonesia agar dapat teroptimalkan sebagai sumber energi alternatif:

1. Penggunaan insinerator di Indonesia dinilai tidak efisien.

Sepanjang proses pembakaran sampah dengan menggunakan insinerator, alat pembakar (burner) harus menyala secara terus-menerus. Alat pembakar pada umumnya menggunakan bahan bakar berupa mintak atau gas sehingga membutuhkan biaya operasional yang tinggi.

2. Proses pembakaran dengan menggunkan insinerator dianggap belum efektif.

Di Indonesia, sampah yang dihasilkan kondisinya saling tercampur dengan kadar air yang tinggi, sehingga proses pembakaran dengan insinerator menjadi tidak efektif. Karena itu, perlu dilakukan pemilahan sampah segar berdasarkan komponennya. Selain itu, proses pencacahan sampah segar yang dijadikan sebagai umpan pembakaran dan pembatasan kadar air pada sampah yang akan dibakar (tidak lebih dari 25%) perlu dilakukan agar pembakaran menggunakan insinerator menjadi lebih efektif.

3. Gas hasil proses pembakaran bersifat tidak ramah lingkungan.

Karena itu, harus diperhatikan agar gas yang dihasilkan bersih dari polutan sebelum dilepas ke atmosfer.

4. Energi panas hasil pembakaran sampah belum termanfaatkan.

Perlu dilakukan perbaikan kinerja incinerator agar energi yang dihasilkan dapat termanfaatkan.

Proses Insinerasi di Negara-Negara Maju

Sweden-waste-energy-plant

Sweden Turns Trash to Energy, Only 4% Reaches Landfill via youtube.com

Karena lahan untuk dijadikan Tempat Pembuangan Akhir merupakan sumber daya yang sangat terbatas di Jepang, maka pemerintah negara tersebut memaksimalkan proses insinerasi dalam mengelola sampah perkotaan. Penggunaan panas dari hasil insinerasi sebagai sumber energi juga sudah lama diterapkan dan terus-menerus dikembangkan di Denmark dan Swedia.

Singapura telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Limbah (PLTL) di Ulu Pandan yang sudah mulai beroperasi sejak 1979. Kapasitas pembakaran sampah di PLTL tersebut rata-rata ialah sebesar 1600 ton per hari. Di Amerika Serikat, uap super panas yang dihasilkan dari pembakaran sampah disalurkan ke turbin yang mengalirkan 60 megawatt listrik. Sejak tahun 1980, sekitar 8% dari tenaga listrik yang dipakai di kota Den Haag, Belanda, berasal dari sampah kota.

Besarnya produksi sampah di Indonesia merupakan potensi yang sudah sepatutnya dapat termaksimalkan menjadi kebermanfaatan, terutama sebagai sumber energi alternatif. Penelitian-penelitian harus terus dilakukan agar proses pengolahan sampah di Indonesia kian membaik, mencontoh sistem-sistem yang telah diterapkan di sejumlah negara maju.

Daftar Referensi:

Ika, 2016, “Pembakaran Sampah Kota Berpotensi sebaga Sumber Energi Alternatif”, tersedia: http://ugm.ac.id/id/berita/12099-pembakaran.sampah.kota.berpotensi.sebagai.sumber.energi.alternatif.

Kurniawan, Andi, 2014, “Pemanfaatan Sampah Kota sebagai Sumber Energi Alternatif”, tersedia: https://plus.google.com/113003506106603054570/posts/2fTKbPUiMmz.

Wahyuni, Tri, 2016, “Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Ke-dua Dunia”, http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160222182308-277-112685/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-ke-dua-dunia/

 

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya
After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO's officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply