Mobe Bisa Jadi Pengawet Alami
Jul 10, 2014
Huntara “Bongkar Pasang”, Inovasi Mahasiswa UGM
Jul 14, 2014

Insectpoint dan Serangga Kaya Protein

Serangga goreng di jual di Kota Pattaya, Thailand

Serangga goreng di jual di Kota Pattaya, Thailand

Serangga goreng kaya protein

BerandaInovasi.COM — Anda pernah mengonsumsi serangga? Bagaimana rasanya? Orang Indonesia memang tidak terbiasa mengonsumsi serangga karena dirasa tidak lazim. Padahal serangga memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Potensi ini bisa digunakan untuk mengatasi masalah kekurangan protein masyarakat yang menjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia.

Protein yang ada dalam serangga bahkan bisa lebih besar daripada protein pada udang atau daging sapi. Tergantung pada jenis serangganya, misal serangga kayu memiliki kadar protein 17,9 persen, lebih  besar dibandingkan dengan udang windu yang mempunyai kadar protein 9,8 persen. Kekayaan ragam serangga di Indonesia sebagai negara tropis tentu lebih besar daripada di negara lain.

Menyadari bahwa serangga memiliki kadar protein yang sangat tinggi, Universitas Wageningen di Belanda pada awal bulan Juli ini membuka secara resmi Insectpoint, Pusat Pengetahuan Pemeliharaan Serangga. Pembukaan ditandai dengan aksi memakan serangga yang dicelup dengan cokelat oleh Jan Nico Appelman dari Pemerintah Provinsi Flevoland dan Tijs Breukink dari Universitas Wageningen.

[ads1]

Pada kesempatan itu, Prof. Arnold van Huis, ahli serangga yang dapat dimakan dari Universitas Wageningen, menyampaikan kemungkinan tentang serangga yang dapat dikonsumsi. “Worldwide, some 1900 insect species are eaten. Where the eating of insects is quite common in other parts of the world, the amount of insects consumed in Europe is still low. This is a missed opportunity because insects present a sustainable form of proteins in comparison with the proteins currently often originating from meat. Another advantage is that they can be fed with the residual flow of plant material (Di dunia, terdapat 1900 spesies serangga yang dapat dimakan. Saat makan serangga sangat umum di belahan dunia lain, jumlah konsumsi serangga di Eropa masih sangat rendah. Ini adalah kesempatan yang hilang karena serangga menyajikan bentuk berkelanjutan dari protein dibandingkan dengan protein saat ini sering berasal dari daging. Keuntungan lain adalah mereka dapat diberi makan dengan aliran sisa bahan tanaman),” ujarnya seperti yang dirilis oleh situs resmi Universitas Wageningen.

Mencari jajanan serangga goreng halal di Kota Pattaya, Thailand

Mencari jajanan serangga goreng halal di Kota Pattaya, Thailand

 Dari Insectpoint ini pihak universitas dan sponsor berharap akan lahir berbagai penelitian tentang serangga. Selain itu, mereka berharap laju konsumsi serangga sebagai sumber protein di Eropa akan meningkat. Mereka akan menggeliatkan industri yang memproduksi makanan dari bahan baku serangga.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia belum memiliki pusa penelitian tentang serangga. Beberapa kampus memang sudah mengembangkan laboratorium khusus serangga hingga useum serangga langka seperti Departemen Hama dan Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor. Industri makanan dari serangga memang belum banyak terdapat di Indonesia.

Namun Anda juga harus hati-hati, tidak semua serangga halal untuk dimakan. Beberapa serangga yang boleh dimakan misalnya adalah belalang dan jangkrik. Kecoa, semut, kalajengking, dan beberapa serangga lain haram dimakan menurut fatwa ulama. (DWH)

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply