Pro Kontra Tax Amnesty di Indonesia: Produktif atau Kontraproduktif?
Aug 4, 2016
Seringkali Dibuang, Limbah Kopi Ternyata Bermanfaat Menurunkan Pencemaran Logam Berat pada Air
Aug 4, 2016

Inovasi dari UGM, Pendeteksi Merkuri Portable pada Kosmetik

Ilustrasi Make-up via sobatcantik.com

Ilustrasi Make-up via sobatcantik.com

Ilustrasi Make-up via sobatcantik.com

Kamu pasti sering melihat atau mendengar berita mengenai produk-produk kosmetik yang mengandung merkuri. Bagaimana perasaan kamu setelah mengetahui berita tersebut? Pasti langsung, takut, dan sempat berpikir bagaimana jika kosmetik yang kamu gunakan sehari-hari ternyata adalah kosmetik bermekuri. Namun, Lima mahasiswa asal Universitas Gajah Mada (UGM) ini mempunyai jawaban untuk membuang kekhawatiran kamu.

Mahasiswa UGM yaitu Andy Aulia Prahardika, Al Birru Kausal Poso, I Made Wiryawan, Luthfia Adila, dan Tirta Inovan berhasil menciptakan Mercury Auto Detection System (MADS). Yang melatarbelakangi Andy dan kawan-kawan menciptakan inovasi ini ialah karena mereka prihatin dengan kondisi yang ada sekarang ini, yakni semakin merebaknya produk-produk kosmetik ataupun makanan yang mengandung merkuri di pasaran.

Inovasi yang diciptakan oleh Andy dan kawan-kawan ini merupakan alat untuk mendeteksi merkuri dalam kosmetik dan makanan. MADS ini bisa dibawa kemana-mana dan praktis. Selain itu MADS juga memiliki kelebihan lain yaitu memakai baterai rechargable sehingga bisa dibawa untuk digunakan dimana saja.

Untuk biaya produksinya yang hanya sebesar Rp 1 juta. Bisa dibilang jauh lebih murah bila dibandingkan dengan alat pendeteksi merkuri serupa lainnya yang ada di pasaran.

Sebenarnya telah ada alat pendeteksi merkuri lainnya yang serupa dengan MADS ini, yaitu Spektrofotometer. Alat ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi merkuri di dalam obat-obatan serta makanan.

Hanya saja spektrofotometer memiliki banyak kekurangan bila dibandingkan dengan MADS seperti ukurannya lebih besar yang menyebabkan spektrofotometer sulit untuk dibawa kemana-mana. Selain itu harganya pun sangat mahal yakni mencapai Rp 200 juta.

Untuk cara kerja MADS sendiri tidak jauh berbeda dengan cara kerja spektrofotometer. Objek pengujian yang berupa larutan ditembakan oleh sinar monokromatik yang nantinya akan diserap oleh detektor warna. Kemudian warna yang diperoleh tersebut akan dideteksi dengan kriteria zat-zat yang ada. (AS)

—————

Sahabat Beranda punya inovasi? PKM, usaha kreatif, penelitian, atau hal inovatif dan unik lainnya disekeliling Sahabat? Mau inovasi Sahabat dikenal ke seluruh penjuru dunia sekaligus belajar menjadi jurnalis? Ayo kirimkan segera cerita tentang inovasi yang Sahabat Beranda miliki ke kolom Lintas Inovasi di website Beranda Inovasi. Kirim ke [email protected] dengan subjek “Lintas Inovasi_Judul Berita_Nama”. Dengan jaringan luas yang kami miliki, mari kita bersama jembatani inovasi teknologi. Salam kontribusi!

Anis Sa'adah
Anis Sa'adah
Mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia. Bergabung dalam Nano Research Society FTUI

Leave a Reply