Nge-charge Handphone dengan Bersepeda
Dec 18, 2015
Permudah Proses Infus dengan Visiovein
Dec 28, 2015

Inilah Data dan Fakta Kanker di Indonesia

Cancer Cell via sciencemag.org

Cancer Cell via sciencemag.org

Kanker menjadi penyakit yang menakutkan bagi kalangan medis Indonesia bahkan dunia. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2012, terdapat 14 juta kasus baru dan 8.2 juta orang meninggal dunia karena kanker. Kanker paru-paru masih memimpin daftar kematian akibat kanker tertinggi dengan 1.59 juta kasus. Disusul kanker hati dengan 745 ribu orang meninggal, dan kanker saluran pencernaan/GIST (Gastro Intestrinal Stomal Tumor) sejumlah 723 ribu kematian (who.int).

Baca Juga: Yuk Mengenal Kanker!

Sedangkan di Indonesia, menurut data Balitbang Kementerian Kesehatan (2013) ada 347.792 orang atau sekitar 1.4‰ (permil) dari jumlah penduduk Indonesia yang menderita kanker. Provinsi Jawa Tengah menjadi provinsi dengan penderita kanker terbanyak yaitu sejumlah 68.638 orang (Data Riset Kesehatan Dasar 2013). Daftar provinsi dengan jumlah penderita terbanyak dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini.

Sumber: Riset Kesehatan Dasar 2013, Balitbang Kemenkes RI (Data Diolah, 2015)

Sumber: Riset Kesehatan Dasar 2013, Balitbang Kemenkes RI (Data Diolah, 2015)

Berdasarkan prevalensinya, Provinsi D.I. Yogyakarta memiliki prevalensi terbesar yaitu 4.1‰ (terlihat pada Tabel 1). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prevalensi adalah jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah (kbbi.web.id). Prevalensi dihasilkan dari total jumlah penderita dibagi dengan total penduduk di wilayah tersebut. Satuan prevalensi menggunakan satuan per seribu penduduk atau permil (‰).

NoProvinsiPrevalensi(‰)
1D.I. Yogyakarta4.1
2Jawa Tengah2.1
3Bali2.0
4DKI Jakarta1.9
5Bengkulu1.9

Sumber: Riset Kesehatan Dasar 2013, Balitbang Kemenkes RI (Data Diolah, 2015)

Baca Juga: Google Tunjuk Ilmuwan untuk Kembangkan Alat Pendeteksi Kanker

Penyakit kanker serviks dan payudara merupakan penyakit dengan prevalensi tertinggi di Indonesia yaitu dengan 0.8‰ dan 0.5‰. Setiap tahunnya ada sekitar 15 ribu kasus baru kanker serviks di Indonesia. WHO menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia. Kanker serviks juga menjadi peringkat pertama pembunuh wanita di Indonesia.

Provinsi D.I. Yogyakarta menempati peringkat teratas prevalensi kanker serviks tertinggi yaitu 2.4‰. Sementara itu dari segi jumlah penderita, Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur masih menjadi provinsi teratas dengan jumlah kasus kanker serviks, payudara, dan prostat terbanyak di Indonesia. Penyakit kanker tidak terbatas pada lanjut usia atau dewasa saja, namun menyerang semua umur. Prevalensi penyakit kanker tertinggi berada pada kelompok umur 75 tahun ke atas, yaitu sebesar 5.0‰ dan prevalensi terendah pada anak kelompok umur 1-4 tahun dan 5-14 tahun yaitu sebesar 0,1‰ (Data Riset Kesehatan Dasar 2013).

Menurut data GLOBOCAN tahun 2008, sebuah badan penelitian kanker internasional dibawah WHO, dikutip dari Global Cancer Statistics (2011), tingkat kejadian kanker di Asia Tenggara adalah yang tertinggi di antara negara-negara di seluruh dunia, dengan Indonesia masuk di peringkat teratas bersama Malaysia dan Singapura.

Sumber: Global Cancer Facts and Figures 3rd Edition (2015)

Sumber: Global Cancer Facts and Figures 3rd Edition (2015)

Pada Gambar 2 terdapat data yang dikutip dari Global Cancer Facts and Figures 3rd Edition (2015) mengenai perbandingan survival rates (%) beberapa jenis kanker di Indonesia (sampel Jakarta) dengan beberapa negara asia pada pada penderita di atas umur 15 tahun pada tahun 2005-2009. Banyaknya perusahaan dan pengonsumsi rokok di Indonesia membuat penderita baru kanker paru-paru berpotensi untuk meningkat setiap tahunnya. Tingkat kelangsungan hidup hanya 12% untuk penderita kanker paru-paru di Indonesia. Berada dibawah Korea Selatan dan China dengan 19% dan 18%.

Sementara itu survival rates untuk kanker payudara di Indonesia juga lebih rendah dibandingkan Turki, China, dan Korea Selatan. Tingkat kelangsungan hidup kanker serviks berada pada tingkat menengah yaitu 65%, dibawah Korea Selatan yaitu 77%. Indonesia juga berada pada tingkat rendah untuk survival rates kanker prostat yang hanya 44%. Jauh dibawah Korea Selatan, China, dan Turki yang berkisar antara 60-80%. Walaupun data tersebut hanya data dengan sampel Jakarta, namun dapat menjadi gambaran umum karena tingkat prevalensi Jakarta masuk 5 besar se-Indonesia (Global Cancer Facts and Figures 3rd Edition).

Pengobatan penyakit kanker selama ini menggunakan metode pembedahan, radioterapi dan kemoterapi. Alat radioterapi sendiri di Indonesia hanya ada sekitar 28 unit. Sangat jauh dari kondisi idealnya yaitu 1 alat untuk 1 juta penduduk, dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 250 juta jiwa, setidaknya kita membutuhkan 250 alat radioterapi. Harga 1 alat radioterapi sekitar Rp 15 Milyar, cukup mahal. Penyebarannya pun tidak merata ada di semua pulau di Indonesia. Terbanyak berada di Pulau Jawa dan Sumatera (health.detik.com).

Alat radioterapi (id.wikipedia.org)

Alat radioterapi (id.wikipedia.org)

Baca Juga: ECCT Sebuah Asa Bagi Penderita Kanker

Menurut Kepala Departemen Onkologi Radiologi Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, dr Soehartati Gondhowiardjo, MD, PhD dikutip dari detikHealth (2014) menyatakan waiting list pasien yang akan menggunakan alat radioterapi saat ini sangat panjang. Surabaya sekitar 6 bulan, di Yogyakarta 6 bulan, dan di Jakarta sekitar 1 bulan. Padahal, pasien tersebut butuh penanganan sesegera mungkin (health.detik.com).

Menurut daftar harga kemoterapi dari Rumah Sakit Dharmais, Jakarta tahun 2012, biaya kemoterapi termurah per sesinya sekitar Rp 3 juta tergantung kelas kamar, tingkat keparahan serta jenis kemoterapi kankernya (dharmais.co.id). Satu bulan biasanya lebih dari 2 sesi kemoterapi. Pembedahan lain cerita, hal ini juga dapat dilakukan untuk mengobati kanker. Namun biasanya pembedahan dilakukan paralel dengan radioterapi atau kemoterapi.

Saat ini ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan melalui Peraturan BPJS Kesehatan No. 1 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan yang menanggung biaya skrining (deteksi dini) untuk kanker serviks dan kanker payudara. Bahkan BPJS Kesehatan menanggung semua biaya kemoterapi. Namun saat ini pelayanan BPJS Kesehatan belum merata. Masih ada rumah sakit terutama tipe C yang belum mau menanggung biaya kemoterapi.

Pasien penderita kanker stadium lanjut saat ini lebih di arahkan pada perawatan paliatif (peningkatan kualitas hidup pasien). Selain itu deteksi dini juga sangat penting untuk menghindari penyakit kanker. Namun selama ini program deteksi dini dirasa kurang optimal. Teknik pengobatan yang ada seperti kemoterapi dan radioterapi juga belum memberikan hasil yang signifikan karena beberapa problematika yang telah disebutkan sebelumnya. Perlu ada inovasi penerapan teknologi lain yang dapat memberikan dampak lebih besar terhadap penanganan penyakit kanker di Indonesia. (NMY)

Daftar Referensi:
Ahmedin Jemal, Freddie Bray, Melissa M. Center, Jacques Ferlay, Elizabeth Ward, David Forman. 2011. Global Cancer Statistics Vol. 6 No. 12. A Cancer Journal for Clinicians 61:69-90

WHO.2015.Cancer. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs297/en/ [Diakses tanggal 10 Desember 2015]

Direksi Rumah Sakit Kanker “Dharmais”. 2012. Daftar Uang Muka Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Kanker “Dharmais”. http://www.dharmais.co.id/index.php/integrative-services.html [Diakses tanggal 11 Desember 2015]

Data Riset Kesehatan Dasar. 2013. Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dan Data Penduduk Sasaran, Pusdatin. Kementerian Kesehatan RI: Jakarta.

Global Facts and Figures 3rd Edition. 2015. American Cancer Society: Atlanta.

http://kbbi.web.id/prevalensi [Diakses tanggal 10 Desember 2015].

https://www.deherba.com/statistik-penderita-kanker-di-indonesia.html [Diakses tanggal 11 Desember 2015

Kinanti, Ajeng Annastasia. 2014. Batan: Yang Punya Fasilitas Radioterapi di Indonesia Hanya 28 RS. http://health.detik.com/read/2014/08/28/150112/2675138/763/batan-yang-punya-fasilitas-radioterapi-di-indonesia-hanya-28-rs 2014. [Diakses tanggal 11 Desember 2015]

Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan. 2014. Kementerian Hukum dan HAM RI: Jakarta.

Nur Maulana Yusuf
Nur Maulana Yusuf

Lulusan Institut Pertanian Bogor yang tertarik dengan dunia media, teknologi, serta sosial ekonomi di Indonesia. Saat ini menjadi bagian dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

3 Comments

  1. Hai Selamat sore, saya mau tanya pernyataan "WHO menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia. Kanker serviks juga menjadi peringkat pertama pembunuh wanita di Indonesia." bisakah anda meberikan referensi yang benar. soalnya saya suda baca di "http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs297/en/" tapi saya tidak menemukan pernyataan tentang hal tersebut. Terima Kasih.

  2. Sarwono says:

    Sekedar urun pengalaman:
    Anak saya laki-2 25 th terkena pineoblastoma, ketahuan Mei 2012. Setelah shunting di RSUP Kariadi Semarang (dengan "ASKES" saat itu +/- 30 jt rp) di teruskan dengan radio terapi di RS Ken Saras Ungaran (karena di RSUP Kariadi harus antri 6 bulan). Untuk tahap I Juni-Juli 2012 +/- 15 jt rp (belum pakai "ASKES", karena RS Ken Saras belum kerjasama dengan pt ASKES). Dari MRI, dokter menyatakan tidak terlihat lagi kankernya. Setahun kemudian, gejala pusingnya muncul lagi ditambah mulai plegia di kaki kanan, Dari MRI, dokter menyatakan di kelenjar pineal kankernya muncul lagi bahkan tambah besar, plus menjalar ke susunan syaraf tulang belakang. Di radio terapi lagi di RS Ken Saras Oktober-November 2013 dengan klaim "ASKES" hanya 500 rb rp (mulai Agustus 2013 RS Ken Saras sudah ikut program ASKES). Ternyata efek radio terapi hanya sedikit mengurangi. Dari tim onkolog syaraf di pindah ke tim onkolog internis. Februari 2014 (bersamaan migrasi dari ASKES ke BPJS), di RS dr Kariadi dilakukan operasi craniotomi ( berlangsung hampir 8 jam) untuk ambil sampel jaringan di batang otak. Dari lab.PA dinyatakan stadium 4. Diteruskan dengan kemo terapi 6 sesi (Maret-Agustus 2014). Biaya craniotomi dan kemo semua ditanggung BPJS. Efeknya kecil sekali (mungkin karena sudah stadium 4, yaaa…). Tim onkolog internis memutuskan kemoterapi lanjutan, dengan obat baru atas biaya sendiri, karena BPJS tidak mengkover obat baru ini. Direncanakan 6 sesi selama 6 bulan, dengan biaya per sesi 22 jt.rp. Baru satu sesi (September 2014), ternyata anak saya kalah bertanding dengan kanker pineoblastoma yang telah menyebar ke tulang belakang. Oktober-November 2014 adalah puncak penderitaan anak saya. Alhamdulillah, penderitaan berakhir 24 Noverber 2014. Inna lillahi wa innna ilaihi rajiun.

Leave a Reply