Sanksi Kebiri Bagi Pelaku Kejahatan Seksual, Antara Penegakan Hukum dan Pelanggaran HAM
May 15, 2016
Majalah Beranda Edisi Terbaru Sudah Terbit!
May 17, 2016

Ini yang Terjadi pada Otak Kita Ketika Terlalu Sering Memainkan Ponsel

Holding Cell Phone via blog.

Saat ini, sudah menjadi hal yang lumrah ketika kemanapun kita pergi kita akan melihat orang-orang yang sibuk memainkan ponselnya. Seakan mempunyai perekat di kedua sisinya, ponsel selalu melekat pada tangan dengan pandangan mata penggunanya yang menatap lurus kepada monitor ponsel tersebut.

Lalu, bagaimana sains memandang fenomena ini? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada otak kita saat kita berlama-lama memegang ponsel? Seorang professor dari MIT dan seorang dokter mencoba mengungkapkan fenomena ini beserta dampak yang ditimbulkannya dari sisi sains.

Delaney Ruston, seorang Dokter Penyakit Dalam mengatakan kepada Business Insider bahwa saat kita membuka dan memainkan ponsel, otak kita mengeluarkan sebuah hormon yang disebut Dopamin. Hormon yang biasa disebut juga sebagai hormon kesenangan yang biasanya dilepaskan oleh otak saat kita mendapatkan informasi-informasi positif atau mengalami suatu kejadian yang menyenangkan.

Namun pada Screenagers, sebuah film dokumenter yang membahas tentang pemakaian smartphone yang berlebihan pada anak-anak dan remaja yang dibuat oleh Ruston, menyebutkan bahwa pemakaian smartphone yang berlebihan pada anak dan remaja bukanlah sesuatu yang timbul dari psikologis, namun lebih tepatnya ini masalah yang bersumber pada fisiologis anak dan remaja itu sendiri.

Pada dasarnya, otak anak dan remaja lebih banyak melepaskan dopamin dibandingkan dengan otak orang dewasa. Selain itu, anak dan remaja juga lebih cepat merespon pelepasan dopamin di otak. “Itu terjadi juga saat mereka melakukan multi tasking di layar ponsel” Katanya. Oleh karena itu, secara sains fenomena ini sulit dihentikan.

Profesor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang juga psikolog sosial, Sherry Turkle yang dikutip dari Techinsider juga menambahkan bahwa pada kondisi kita yang selalu memainkan ponsel, membuat otak kita selalu membutuhkan stimulasi lebih secara terus menerus. Hal ini akan menjadi sesuatu yang berbahaya dalam jangka panjang. “Sejenak kita akan menjadi seseorang yang intoleran” Katanya.

Saat kita memainkan ponsel, otak kita akan merespon sekecil apapun kejadian yang berubah di sekitar kita, membuat kita menjadi terlalu waspada, terkesan terburu-buru dan seakan membuat diri kita selalu berada dalam ancaman. Hal ini tentunya akan sangat membantu jika kita berada di alam liar yang membutuhkan tingkat kewaspadaan lebih untuk bertahan hidup. “Namun saat ini kita hidup di dunia nyata yang butuh ketenangan dalam membuat setiap keputusan penting” Imbuhnya.

Kondisi otak seperti ini juga membuat kita lebih cepat lesu, hiperaktif dan tidak mampu berpikir jernih. Dalam kondisi yang berlebihan hal ini tentu tidak baik terutama dampaknya saat kita bertemu langsung dengan orang lain dan berada pada situasi yang mengharuskan kita membuat keputusan penting dengan pertimbangan yang matang.

Adakah cara untuk mengatasinya? Walaupun secara teori sulit dihentikan, namun Delaney Ruston -yang juga seorang filmmaker- menyebutkan beberapa solusi untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah konsep “Tech Breaks”. Yaitu menyediakan alokasi waktu khusus hanya untuk melihat ponsel, bisa 5-10 menit di sela-sela rutinitas. Lalu “menyingkirkan” kembali ponselnya dan kembali ke rutinitas seperti biasa. begitu seterusnya agar ketergantungan kita terhadap ponsel sedikit demi sedikit bisa dikurangi.

Tertarik Mencoba? (NMY)

Nur Maulana Yusuf
Nur Maulana Yusuf

Lulusan Institut Pertanian Bogor yang tertarik dengan dunia media, teknologi, serta sosial ekonomi di Indonesia. Saat ini menjadi bagian dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply