Tradisi Berburu Paus Masyarakat Lamalera NTT
Mar 29, 2016
Bukan (Sekedar) Diet Kantong Plastik
Mar 31, 2016

Ilmuwan BPPT Kembangkan Sensor dengan Metode Terbaru

Laboratorium Sensor BPPT (Dok. Redaksi)

Laboratorium Sensor BPPT (Dok. Redaksi)

Laboratorium Sensor BPPT (Dok. Redaksi)

Kita telah lama mengenal bentuk sensor. Terutama alat sensor untuk mendeteksi suhu, kelembapan, dan gas. Alat sensor juga dapat kita temui dengan mudah di gedung bertingkat, pabrik, rumah-rumah warga. Alat tersebut dipasang untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan kerja, kebakaran, dan kebocoran gas beracun.

Selama ini alat sensor dibuat dengan basis konduktivitas. Dimana sensitivitas terhadap suatu material biokimia masih dianggap kurang. Oleh karena itu, kita masih melihat adanya kebocoran-kebocoran yang tidak dapat terdeteksi dini oleh sensor. Selain harus sensitif, alat sensor juga harus selektif dalam mendeteksi objeknya.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti senior di pusat teknologi material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr. Ratno Nuryadi, M.Eng sedang mengembangkan riset sensor biokimia dengan pendekatan MEMs (Microelectromechanical Systems). Basis pendekatan yang tergolong baru dalam dunia sensor. Ratno Nuryadi telah mengembangkan alat dan material sensor tersebut sejak tahun 2010.

DSC_0013

Dr. Ratno Menjelaskan Alatnya (Dok. Redaksi)

“Riset sudah masuk dalam tahap menumbuhkan dan mengembangkan. Data yang diukur dan ditapatkan pun sudah diterbitkan dalam paper internasional” Kata Dr. Ratno.

Dr. Ratno Nuryadi dan tim sedang mengembangkan peningkatan sensitivitas dan selektivitas sensor terhadap suatu objek tertentu. Saat ini objek sensor masih berfokus ke gas. Pengembangan sensor juga menggunakan pendekatan nanoteknologi. Karena material penangkap sensor juga berukuran nanometer.

“Pada sensor ini kita juga menggunakan kantilever dengan panjang 100 mikro meter, lebar 30-40 mikro meter, dan ketebalan 1 mikro meter” Imbuhnya.

Sebagian komponen penunjang sensor buatan Dr. Ratno Nuryadi

Sebagian komponen penunjang sensor buatan Dr. Ratno Nuryadi

Ada beberapa tantangan dan keterbatasan dalam penelitian ini yang akan terus dicari solusinya. Seperti ukuran penangkap material nano yang belum ada parameter khusus, pengukuran yang masih dikerjakan manual, serta pengembangan sistem elektronik micro controller sebagai penunjang sensor yang masih handmade.

Dr. Ratno mengatakan pada proses riset dan pengembangan sensor ini, kedepannya akan di arahkan ke biosensor yang dapat digunakan untuk alat kesehatan. “Jadi nanti dapat digunakan untuk mendeteksi gula darah, asam urat, dan kolestrol” Katanya.

Satu lagi keunggulan dari pengembangan riset ini adalah riset sudah dikembangkan dengan sistem wireless untuk alat sensor. “ini untuk memudahkan penerapan sensor pada industri” Tutup Dr. Ratno. (NMY)

Nur Maulana Yusuf
Nur Maulana Yusuf
Lulusan Institut Pertanian Bogor yang tertarik dengan dunia media, teknologi, serta sosial ekonomi di Indonesia. Saat ini menjadi bagian dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply