Gelombang Gravitasi Terdeteksi, Ruang Waktu Benar-Benar Elastis
Feb 29, 2016
Zaphanza: Jaket Gunung Multifungsi Anti Repot
Mar 1, 2016

Hitam Putih Fenomena LGBT di Indonesia

anti lgbt

 

Setelah dihebohkan dengan peresmian pernikahan sesama jenis beberapa bulan lalu di beberapa negara di dunia, fenomena LGBT di Indonesia kini semakin ramai diperbincangkan. Berbagai media massa, diskusi, seminar, banyak yang membahas mengenai LGBT. Kontroversi ini pun semakin memanas setelah kasus-kasus pelecehan seksual dan pembunuhan dalam hubungan sesama jenis mencuat ke publik. Sebut saja kasus Ryan dari Jombang beberapa tahun silam yang menggegerkan publik karena membunuh serta memutilasi seorang gay dengan motif cemburu. Kemudian pembunuhan mahasiswa PTS di Bandung oleh seorang gay akibat korban menolak diajak berhubungan intim, pembunuhan dan mutilasi seorang waria bernama Mayang Prasetyo oleh pasangannya di Australia, dan masih banyak kasus-kasus lainnya.

LGBT (Lesbian, Gay, Transgender, and Transexual) sejatinya memang isu yang sudah lama, namun ibarat fenomena gunung es; dulu baru permukaan masalahnya saja yang terlihat dan sekarang sudah banyak masyarakat yang menyadari urgensi masalah ini. Menurut Undang-undang No.18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa dan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)-III, LGBT merupakan istilah yang berkembang di masyarakat yang tidak dikenal dalam ilmu psikiatri. Sedangkan orientasi seksual antara lain meliputi heteroseksual, homoseksual dan biseksual. Homoseksual merupakan kecenderungan ketertarikan secara seksual kepada jenis kelamin sama yang meliputi lesbian dan gay. Sedangkan biseksual adalah kecenderungan ketertarikan secara seksual kepada kedua jenis kelamin.

Orientasi seksual telah hadir sebagai aspek yang penting dalam kepribadian. Masalah orientasi seksual ini juga terkait dengan permasalahan bias gender. Menurut Giddens, konsep gender menyangkut “the psychological, social, and cultural differences between males and females” (perbedaan psikologis, sosial, dan budaya antara laki-laki dan perempuan). Oleh karena itu, masalah LGBT ini sebagai pencerminan dari terjadinya bias gender dalam masyarakat.

Saat ini, aktivis Pro LGBT sudah mengepakkan sayapnya untuk mempromosikan atau menyebarluaskan pemahaman mengenai LGBT dengan mendirikan yayasan sosial, kampanye sosial (seperti yang terjadi di Bundaran HI beberapa waktu silam), dan terutama kampanye lewat media sosial. Kaum LGBT pun yang dulunya “malu-malu kucing” untuk menunjukkan jati dirinya, dengan adanya dukungan media dan aktivis pro LGBT, sekarang sudah berani menunjukkan dirinya (coming out).

Salah satu kasus coming out yang kemarin sempat menghebohkan masyarakat yaitu munculnya sekelompok mahasiswa UI yang mengaku sebagai LGBT dan para pendukung LGBT yang mendirikan SGRC UI (Support Group and Research Center) dan menyebarkan informasi ini ke publik. Namun tidak lama setelah informasi ini beredar, pihak UI mengklarifikasi bahwa SGRC bukan komunitas resmi yang dinaungi UI.

Media memberikan pengaruh yang sangat besar dalam penyebaran informasi terkait LGBT atau bahkan sebagai implicit campaign LGBT. Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa artis papan atas Indonesia mendapatkan cap sebagai LGBT. Figur publik seringkali menjadi model peran (role model) bagi peniruan perilaku di kalangan penggemarnya.

Pelaku dan perilaku LGBT di kalangan figur publik secara langsung atau tidak langsung disebarluaskan secara masif oleh lembaga penyiaran, khususnya televisi. Selain pengaruh media, kaum LGBT juga mendapatkan dukungan dari dunia internasional dan kelompok-kelompok pembela HAM dengan cara membangun kesadaran kelompok dan melakukan upaya-upaya bersama untuk memperjuangkan pembenaran, eksistensi sampai pengakuan hak-hak hukum atas kondisi orientasi seksualnya.

Kaum LGBT juga memanfaatkan kampanye melalui media sosial untuk menyebarluaskan paham, menggalang dukungan, dan juga menjaring pengikut baru. Meskipun di Indonesia sendiri belum ada peraturan hukum yang melarang LGBT, namun masyarakat Indonesia yang memiliki budaya timur dan kental akan relijiusitasnya menentang keras hadirnya kaum LGBT ini meskipun tidak sedikit juga yang mendukung kalangan LGBT.

Masyarakat sendiri kebingungan dengan klasifikasi LGBT yang di satu sisi diklaim sebagai penyimpang sosial dan masalah kejiwaan, namun di sisi lain diklaim sebagai perbedaan yang lumrah dalam masalah orientasi seksual. Masalahnya, meskipun kalangan kedokteran, psikolog dan psikiater sudah secara jelas menyatakan bahwa LGBT adalah bentuk penyimpangan orientasi dan perilaku seksual yang berifat menular, kaum LGBT dan segenap pendukungnya bersikeras menganggap LGBT sebagai HAM dan bukan gangguan jiwa yang menular.

Pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia sedang menghadapi kebingungan dalam menyikapi persoalan LGBT ini. Dengan dalih pembelaan HAM, ada yang mendukung LGBT dan mengupayakan agar diskriminasi terhadap kaum LGBT menurun dalam kehidupan bermasyarakat. Namun di satu sisi, ada pihak yang menolak keras LGBT dengan berbagai alasan dan mendukung upaya untuk “penormalan” kembali kaum LGBT. Dengan kondisi yang “sudah terlanjur” ini, mau tidak mau, pemerintah dan masyarakat juga harus memikirkan bagaimana cara mencegah dampak dari LGBT ini, seperti misalnya mencegah penyebaran HIV/AIDS akibat perilaku seks sesama jenis.

Informasi dan sumber daya tentang kesehatan dan kesejahteraan kelompok LGBT di Indonesia terutama dikaitkan dengan HIV dan penyakit menular seksual (PMS) masih sangat minim. Layanan kesehatan seksual dan reproduksi ditujukan kepada orang-orang heteroseksual. Padahal ada kebutuhan akan layanan konseling dan perhatian terhadap permasalahan psikoseksual dan kesejahteraan seksual juga bagi kaum LGBT.

Sepertinya kontroversi tentang LGBT ini memang akan berlangsung terus entah sampai kapan karena masing-masing pihak memiliki standing point tersendiri. Disini yang perlu ditegaskan bahwa menjadi LGBT memang urusan personal setiap orang, namun yang sangat penting adalah mencegah kampanye dan penyebarannya semakin meluas terutama kepada anak-anak dan remaja. Jadi, sayangilah generasi masa depan Indonesia!

 

Referensi :

Laporan Nasional Indonesia : Hidup sebagai LGBT di Indonesia. Diambil dari https://www.usaid.gov/sites/default/files/documents/2496/Being_LGBT_in_Asia_Indonesia_Country_Report_Bahasa_language.pdf

Boelstorff, Tom. Gay dan Lesbian di Indonesia serta Gagasan Nasionalisme. University of California. Diambil dari http://www.socsci.uci.edu/~tboellst/bio/Boellstorff-AI.pdf
http://www.kompasiana.com/bebyfitriahnitani/pro-dan-kontra-keberadaan-lgbt-lesbian-gay-biseksual-transgender-dan-permasalahan-bias-gender_54f796bfa33311747a8b47c1

http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2016/02/22/361915/indonesia-dalam-darurat-bahaya-lgbt

http://health.liputan6.com/read/2442117/dokter-kesehatan-jiwa-lgbt-bukan-gangguan-jiwa

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply