Osmart, Alat Pengasin Telur Inovatif dari Brawijaya
Jul 28, 2016
ITS Ciptakan Aplikasi Al Qur’an untuk Tunanetra
Jul 29, 2016

Hidung Mancung atau Pesek? Begini Kata Ilmuwan

Ilustrasi Hidung Mancung via menshair.about.com

Ilustrasi Hidung Mancung via menshair.about.com

Ilustrasi Hidung Mancung via menshair.about.com

Sebagian orang lebih menyukai punya hidung mancung. Namun, apakah memiliki hidung pesek merugikan dan hina?

Setiap manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Marilah kita perhatikan bagaimana Allah SWT meletakkan mata dan alis, hidung, mulut, dan telinga. Semua ditempatkan pada posisi yang tepat dan sesuai kegunaannya. Bayangkan bila letak alis di bawah mata, tentu saja keringat akan menetes langsung, masuk, dan menyakitkan indera penglihat kita. Telinga juga terpasang lengkung menghadap ke depan. Bila ke belakang, tentu saja menyulitkan diri menerima pesan suara saat berdiskusi dengan teman. Posisi lubang hidung pun tidak dirancang ke atas, bila demikian, apa jadinya saat hujan tiba?

Itulah sekelumit cara Sang Pencipta merancang fisik manusia. Bila fisik saja begitu sempurna ditata, bagaimana dengan mekanisme yang ada di dalamnya? Sungguh, amat sangat kecil pengetahuan kita dibandingkan dengan apa yang masih tersimpan dari fakta penciptaan.

Namun, sebagaimana dipaparkan di awal, setiap apa yang dicipta, Allah SWT pasti memiliki tujuan. Bila Dia yang merancang, tentu sudah penuh dengan maksud dan penghitungan. Sudah sepatutnya kita bersyukur atas penciptaan Allah pada bentuk raga kita.

Salah satu yang mesti disyukuri adalah penciptaan bentuk hidung. Meski kita yakin bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia lengkap dengan ‘ornamen’-nya, nyatanya masih ada sebagian kita yang minder dengan hidung yang diberikan-Nya. Sebagian kita tak percaya diri manakala punya bentuk hidung mungil. Sebaliknya, ada pula yang merasa bangga beroleh hidung mancung dan menganggap si pesek lebih hina.

Mereka lupa, tak satu pun di muka bumi ini tercipta tanpa campur tangan Allah SWT, tak terkecuali bentuk hidung mancung dan pesek. Tak sepatutnya kita mencemooh bentuk hidung manusia, karena tak seorang pun dapat memilih bentuk hidungnya sebelum dilahirkan. Semuanya Dia yang mengatur, Allah SWT yang menentukan; karenanya manusia tidak perlu memperselisihkan perbedan bentuk hidung.

Sebaliknya, ada baiknya manusia berpikir bagaimana Allah SWT menciptakan hidung dengan segala reka bentuknya. Apakah Dia yang Maha Berilmu membuat aneka jenis hidung tanpa pertimbangan? Apakah mungkin ada rahasia yang Allah simpan di balik misteri yang sudah lama tidak diketahui ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan membawa kita pada kesimpulan, bahwa sejatinya Pencipta kita tidak asal menciptakan manusia. Pun, hidung yang kita anggap berbentuk ‘ala kadarnya’ ternyata dibuat dengan cara yang mengagumkan.

Sedikit dari ilmuwan yang meneliti tentang hidung adalah Profesor Andrés Ruiz-Linares dari University College London, Inggris. Bersama dengan tim, Ruiz-Linares mempelajari perbedaan bentuk wajah dan mencari gen yang berperan mengendalikan bentuk hidung dan dagu. Tak tanggung-tanggung, obyek yang diteliti adalah 6.000 orang lebih dari keturunan berbeda di Amerika Latin.

Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa perbedaan bentuk wajah ditentukan oleh warisan genetik dan kondisi lingkungan. Sebagai contoh adalah hidung. Fungsi indera penciuman ini sangat penting untuk mengatur suhu dan kelembaban udara yang dihirup. Oleh sebab itu, bentuk hidung yang berlainan antara manusia yang hidup di daerah beriklim hangat dan dingin adalah keniscayaan.

“Telah lama diduga bahwa bentuk hidung mencerminkan lingkungan tempat manusia berevolusi. Misalnya, hidung orang Eropa yang relatif sempit diusulkan mewakili adaptasi terhadap kondisi dingin, iklim kering. Identifikasi gen yang mempengaruhi bentuk hidung memberikan alat baru untuk menguji pertanyaan ini, sekaligus menelaah evolusi wajah pada spesies lain. Hal ini juga dapat membantu kita memahami apa yang salah pada gangguan genetik yang melibatkan kelainan wajah”, jelas Ruiz-Linares.

Kajian terhadap faktor genetik menunjukkan bahwa GLI3, DCHS2, dan PAX1 adalah gen-gen yang mampu mendorong pertumbuhan tulang rawan. GLI3 diduga kuat mengendalikan luas lubang hidung, DCHS2 terbukti mengatur ‘mancung’ hidung, dan PAX1 mempengaruhi luas hidung. Adapun RUNX2, gen pertumbuhan tulang, ditemukan berpengaruh pada lebar hidung.

Penelitian yang hasilnya telah dilaporkan di jurnal ilmiah Nature Communications ini menguatkan fakta bahwa Allah SWT telah sangat apik mengatur bentuk tubuh manusia. Ini juga menjadi salah satu bukti keluasan Ilmu-Nya yang tidak terbatas, yang tidak akan habis disingkap manusia. Dalam sebuah ayat, Allah SWT memberikan perumpaman tentang ilmu (kalimat)-Nya yang Mahaluas:

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman: 27)

 

Oleh: Syaefudin

Dosen Biokimia – FMIPA IPB
Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia Klaster Profesi (MITI-Pro)

 

Daftar Referensi:
1. University College London. 2016. Genes for nose shape found. Ucl.ac.uk, May 16, 2016. (https://www.ucl.ac.uk/news/news-articles/0516/190516-nose-shape, terkunjungi pada 29 Juli 2016)
2. Adhikari, K. et al. 2016. A genome-wide association scan implicates DCHS2, RUNX2, GLI3, PAX1 and EDAR in human facial variation. Nat. Commun. 7:11616 doi: 10.1038/ncomms11616.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply