Belajar Membangun Kesadaran Hemat Energi
Nov 11, 2013
Revitalisasi Pedestrian sebagai Salah Satu Non Motorized Transport (NMT)
Nov 18, 2013

Hemat Energi dan Budaya Masyarakat

Energy saving

Sumber ilustrasi: gettyimages.com

We can reduce our energy use only through a radically different vision of what it means to be modern by Harold Langford Wilhite-energy anthropologist

Budaya secara sederhana diterjemahkan sebagai bagaimana sekelompok orang memiliki kesamaan berpikir dan bertindak dalam kehidupan yang dilakukan terus menerus. Budaya memiliki banyak macam, salah satu budaya yang harus dikembangkan dalam menjalankan keseharian adalah budaya hemat energi.

Budaya hemat energi dapat diartikan sebagai kebiasaan yang dilakukan secara rutin dalam memanfaatkan energi. Dengan menjalankan budaya hemat energi dapat memberikan dampak yang besar pada lingkungan dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi. Namun, menciptakan budaya hemat energi juga merupakan tantangan tersendiri.

Budaya hemat energi ini sangat berkaitan erat bagaiamana cara masyarakat menggunakan energi. Misalnya pada masyarakat Norwegia, masyarakat terbiasa tidak menggunakan lampu untuk penerangan rumah disiang hari namun menggunakan cahaya matahari yang masuk kedalam rumah melalui atap dan jendela. Meskipun demikian, penggunaan listrik per kapita Norwegia menjadi yang paling tinggi didunia sebab masyarakat Norwegia terbiasa menggunakan banyak lampu-lampu kecil disekitar ruangan untuk menciptakan ruangan yang terkesan estetik dengan sapuan cahaya lampu yang unik (Wilhite dalam Khazaleh 2013).

Bagaimana dengan di Indonesia? Salah satu tantangan Indonesia dalam penghematan energi adalah pada penggunaan air conditioner (AC). Indonesia yang memiliki iklim tropis seharusnya tidak begitu perlu memiliki AC. Guna mendapatkan suhu ruangan yang nyaman sebenarnya hanya memerlukan pengaturan/sirkulasi udara yang baik. Namun bagunan-bangunan yang ada saat ini dirancang kedap udara sehingga perlu memasang AC pada tiap ruangan. Menurut Wilhite, bahkan jika kita adalah orang yang konsen dengan penghematan energi, mau tidak mau akan menggunakan AC dalam ruangan semacam itu, meski hal ini dapat dimaklumi dengan alasan kesehatan dan kenyamanan. Wilhite menambahkan penggunaan AC menjadi salah satu penyumbang tingginya penggunaan listrik di dunia. Dengan demikian, ternyata rancang bangun juga berpengaruh pada kebiasaan masyarakat dalam menggunakan energi, meskipun sebelumnya menggunakan AC bukan budaya bangunan-bangunan di Indonesia.

Langkah praktis saat ini untuk menciptakan budaya hemat energi adalah dengan memberikan teladan yang baik. Tidak dapat dipungkiri secara psikologis manusia hidup dengan memperhatikan dan meniru orang-orang disekelilingnya. Misalnya dengan membiasakan untuk menyetel AC pada suhu normal (25-270C) dan menggunakan alat-alat listrik seperlunya. Selanjutnya adalah komunikasi dan motivasi. Setelah memberi contoh, penting untuk mengomunikasikan mengapa penting menghemat energi kepada orang lain. Penjelasan yang baik akan melahirkan kesadaran bagi orang lain. Selanjutnya saling memotivasi untuk selalu menerapkan kesadarannya dalam tindakan. 

Referensi:

Khazelah L. 2013. Saving Energy: It’s Also about Culture. Diunduh dari http://www.sv.uio.no/sai/english/research/projects/overheating/news/winther-wilhite.html. Diunduh pada 14 Novemebr 2013

Ai Group’s Energy and Sustainable Business. 2013. Creating an Energy Saving Cuture. Diunduh dari http://pdf.aigroup.asn.au/environment/01_Energy_Savings_Culture_Factsheet.pdf. Diunduh pada 14 Novemebr 2013

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply