Eco Splash Tank: Belajar Berinovasi untuk Bantu Petani
Oct 29, 2014
Edukasi Pemanasan Global dan Perubahan Iklim melalui Permainan Kreatif Kartu Interaktif “Serial Komet”
Nov 19, 2014

Google Tunjuk Ilmuwan untuk Kembangkan Alat Pendeteksi Kanker. Bagaimana dengan Indonesia?

Google: Dari IT hingga Kesehatan

Kamis, 29 Oktober 2014 kemarin, Google merilis kabar bahwa perusahaan IT yang terkenal dengan inovasi mesin pencari digital itu tengah memperluas bidang usahanya ke ranah teknologi medis. Google melebarkan sayap ke bidang kesehatan dengan mengembangkan metode pendeteksi kanker dan potensi serangan jantung. Teknologi yang akan digunakan ialah pemanfaatan nanopartikel dan peranti sensor melalui ‘jam tangan pintar’ (smartwatch).

Bila teknologi ini dapat terwujud dan dipasarkan, maka masyarakat yang ingin mengetahui apakah di dalam dirinya terdapat sel kanker terlebih dahulu harus menelan sebuah pil. Setelah pil tertelan, maka nanopartikel yang terdapat di dalam pil akan beredar dalam darah dan menempel ke sel-sel tertentu, termasuk ke sel kanker. Nanopartikel yang terdapat dalam pil terdiri atas partikel magnetic yang ukurannya sekitar sepuluh ribu kali lebih tipis dari rambut manusia. Partikel nano tersebut memiliki antibodi atau protein di dalamnya, sehingga dapat mendeteksi keberadaan molekul-molekul biomarker di dalam tubuh manusia yang mengindikasikan penyakit kanker. Akhirnya, nanopartikel ini akan ditangkap oleh alat sensor yang terdapat pada jam tangan. Melalui jam tangan yang dipakai, pengguna dapat melihat hasil deteksi: apakah terdapat sel kanker dalam tubuhnya?

_78587819_google_nanoparticles_rounded_624_v2Pihak Google menunjuk Dr. Andrew Conrad, seorang ahli biologi molekular, untuk mengetuai proyek pengembangan alat deteksi kanker ini. Conrad menyatakan bahwa pengembangan smartwatch menggunakan prinsip pengubahan obat dari reaktif dan transaksional menjadi proaktif dan preventif. Bukan lagi berupaya mengobati penderita sakit kanker tetapi melakukan deteksi secara dini sebelum sel-sel kanker tersebut menjelma jadi masalah yang serius.

Karena dikembangkan oleh perusahaan ternama asal Amerika Serikat yang memiliki dukungan modal kuat, penemuan ini terkesan begitu menjual dan inovatif. Padahal, seorang ilmuwan Indonesia telah mengembangkan alat pendeteksi kanker beberapa tahun lebih dahulu sebelum Google mengembangkan produk smartwatch-nya.

 

ECVT: Pendeteksi Kanker Temuan Anak Negeri

Adalah Dr. Warsito P. Taruno, penemu ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography), teknologi tomografi medan listrik tiga dimensi yang dapat memindai tubuh manusia dan mendeteksi keberadaan sel-sel kanker di dalamnya. ECVT mirip dengan USG / CT Scan dan MRI yang banyak digunakan di dunia medis. Sistem ECVT terdiri dari sistem sensor, sistem data akuisisi dan perangkat komputer untuk kontrol, rekonstruksi data dan display.

BXUZCCBCEAAY6lcTak seperti CT Scan dan MRI yang hanya digunakan untuk melihat apa yang terjadi di dalam tubuh manusia, menuntut objeknya harus masuk ke dalam tabung saat hendak dipindai, dan hanya menampilkan gambar dua dimensi, pemindaian melalui teknologi ECVT bisa memindai objek skala nano dan objek yang bergerak, pemindaian juga dapat dilakukan dari luar tanpa menyentuh objek, dan menghasilkan gambar tiga dimensi.

Setelah berhasil menemukan alat pemindai yang mampu mendeteksi keberadaan kanker dalam tubuh, Dr. Warsito juga mengembangkan ECCT (Electrical Capacitive Cancer Treatment) yang mampu membasmi sel-sel kanker ganas. ECCT dikembangkan dalam bentuk unik: bentuk helm yang dikenakan pada kepala difungsikan untuk membasmi sel kanker otak, sedangkan penggunaan alat berbentuk bra ditujukan untuk penderita kanker payudara dan bentuk celana untuk kanker prostat.

Di Luar Ironi: Kesamaan Motivasi

Di luar ironi bahwa sesungguhnya ilmuwan Indonesia juga dapat mengungguli penemuan yang dikembangkan perusahaan raksasa berskala internasiona, riset teknologi di bidang kesehatan ini ternyata didorong oleh latar belakang yang hampir serupa.

Pendiri Google, Sergey Bin dan Larry Page memperluas cakupan perusahaannya dari IT hingga ke bidang kesehatan karena motivasi yang sifatnya personal. Ibu dari Sergey Bin adalah seorang penderita parkinson, dan faktor genetik membuat Bin memiliki kemungkinan menderita penyakit yang sama. Maka pada awal September 2014 ini Google mulai berupaya mengembangkan teknologi kesehatan lewat sebuah sendok yang dirancang untuk pasien penyandang parkinson. Begitu pula Larry Page yang menderita masalah pada pita suara sehingga tertarik membuat penemuan-penemuan yang mampu memecahkan segenap masalah kesehatan di dunia.

Sedangkan awal Dr. Warsito menciptakan alat pendeteksi dan pembasmi kanker ialah karena terdorong oleh kondisi kakak perempuannya yang menderita kanker payudara stadium IV. Temuan tersebut digunakan oleh kakaknya selama 24 jam. Dalam waktu sebulan setelah pemakaian, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa kakaknya negatif kanker, dan sebulan setelahnya dinyatakan bersih dari sel kanker yang hampir merenggut nyawa sang kakak. (UA)

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya
After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO's officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply