Reklamasi Teluk Jakarta, Perlukah?
May 13, 2016
Sanksi Kebiri Bagi Pelaku Kejahatan Seksual, Antara Penegakan Hukum dan Pelanggaran HAM
May 15, 2016

Global Food Security Index Indonesia Berada di Peringkat Rendah, Apa artinya?

Food Security via securityandsustainibiltyforum.org

Food Security via securityandsustainibiltyforum.org

Food Security via securityandsustainibiltyforum.org

Global Food Security Index (GFSI) merupakan sistem pemeringkatan yang mengukur tingkat ketahanan pangan dari 109 negara di seluruh dunia. Pemeringkatan ini dikembangkan oleh The Economist Intelligence Unit (EIU), sebuah lembaga riset dan analisis independen yang berisi ahli ekonomi global bersama dengan DuPont, salah satu perusahaan bahan kimia yang fokus kepada ketahanan pangan dan energi terbesar di dunia yang berlokasi di Amerika Serikat.

GFSI mengukur tingkat ketahanan pangan suatu negara berdasarkan tiga variabel kunci, yaitu Affordability (Keterjangkauan), Availability (Ketersediaan), serta Quality and Safety (Kualitas dan Keamanan). Variabel Affordability mengukur kemampuan daya beli konsumen, tingkat kerentanan mereka terhadap guncangan harga yang terjadi, dan ketersediaan program atau kebijakan yang pro konsumen saat terjadi guncangan tersebut. Indikator yang di analisis antara lain Produk Domestik Bruto per kapita, akses petani ke sumber keuangan, konsumsi pangan, tarif impor komoditi pertanian, dll.

Sementara itu variabel Availability mengukur tingkat kecukupan pangan nasional, kapasitas nasional untuk menyebarluaskan pangan, risiko ganggguan pasokan, dan penelitian untuk meningkatkan output pertanian. Indikator yang dianalisis yaitu kecukupan dan rata-rata pasokan pangan, infrastruktur pertanian, pengeluaran dana publik untuk penelitian dan pengembangan sektor pertanian, dsb.

Sedangkan Quality and Safety mengukur kualitas dan variasi gizi dari diet rata-rata serta keamanan pangan. Indikator yang dihitung yaitu standar gizi, mikronutrien, keamanan pangan, adanya badan atau lembaga yang menjamin keselamatan dan kesehatan pangan, strategi atau rencana gizi nasional, dll.

Perbedaan penelitian GFSI dengan penelitian mengenai ketahanan pangan lainnya adalah pada penelitian dan pemeringkatan ini akan tampak faktor-aktor yang mendasari dan mempengaruhi kerawanan pangan. Selain itu, dalam penelitian ini juga menggunakan faktor penyesuaian kepada fluktuasi harga pangan global untuk memeriksa negara mana saja yang berisiko yang berkaitan dengan keterjangkauan pangan sepanjang tahun berjalan.

Indonesia dalam GFSI

Pada GFSI terbaru yang diterbitkan April 2015 lalu, Indonesia masuk peringkat 6 dari 8 negara Asia Tenggara, atau 74 dari 109 negara di seluruh dunia. Termasuk dalam kategori moderate (sedang) namun salah satu yang terbawah bahkan untuk ditataran negara-negara Asia Tenggara saja. Peringkat GFSI negara-negara di Asia Tenggara dapat dilihat pada Tabel dibawah ini

Peringkat GFSI Negara-Negara Asia Tenggara

Secara peringkat dibandingkan tahun 2014, Indonesia turun satu posisi dari sebelumnya berada pada peringkat 72. Namun secara nilai naik tipis dari 46.6 menjadi 46.7. dari segi performance status, Indonesia ada di kategori moderate (sedang) bersama dengan tiga negara asia tenggara lainnya yaitu Vietnam, Filipina, dan Myanmar. Kategori moderate ini merupakan kategori dua terbawah setelah Best dan Good, namun masih di atas kategori negara yang tergolong dalam Needs Improvement.

GFSI World

Indikator Warna Performance Status GFSI

Secara peringkat dibandingkan tahun 2014, Indonesia turun satu posisi dari sebelumnya berada pada peringkat 72. Namun secara nilai naik tipis dari 46.6 menjadi 46.7. Dari segi performance status, Indonesia ada di kategori moderate (sedang). Bersama dengan tiga negara asia tenggara lainnya yaitu Vietnam, Filipina, dan Myanmar. Kategori moderate ini merupakan kategori dua terbawah setelah Best dan Good, namun masih di atas kategori negara yang tergolong dalam Needs Improvement.

Pada tahun 2015, skor Indonesia yang termasuk di atas rata-rata (>75) dan menjadi kekuatan dari pangan nasional yaitu standar gizi, volatilitas produksi pertanian, tarif impor produk pertanian, dan kelebihan bahan pangan. Sedangkan skor Indonesia yang dibawah rata-rata (<25) yang sekaligus menjadi tantangan besar yaitu riset dan pengembangan produk pertanian, korupsi, produk domestik bruto per kapita, kualitas protein, dan diversifikasi menu makanan.

Sementara itu, hasil riset lainnya menyimpulkan bahwa kecukupan pasokan pangan Indonesia yang merupakan bagian dari variabel Availability menurun 10,9 poin. Indikator ini termasuk dengan penurunan tertinggi dibanding indikator lainnya. Kualitas dan protein dan diversifikasi menu makanan yang berada di bawah skor rata-rata juga ada di kategori indikator yang mengalami penurunan, yaitu 3,8 poin untuk kualitas protein dan penurunan 5,3 poin untuk diversifikasi menu makanan.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga -Malaysia- yang menempati peringkat 34 dunia dengan kategori Good, Indonesia jelas masih tertinggal jauh. Malaysia unggul dalam 13 indikator sementara Indonesia hanya unggul dalam 4 indikator dengan skor yang tipis. Data perbandingan skor indikator Indonesia-Malaysia dapat dilihat pada Gambar dibawah ini

Perbandinga Skor Indikator

Perbandingan Skor Indikator GFSI Indonesia-Malaysia 2015

Prof. Achmad Suryana, mantan kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) dalam sesi seminar Dewan Ketahanan Pangan Nasional pada tahun 2014 lalu menyatakan GFSI sering dijadikan rujukan dalam pengukuran ketahanan pangan karena parameter dan indikator yang digunakan sangat luas. Namun dalam beberapa sisi masih harus dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan berkenaan dengan indikator-indikator yang ada.

Walaupun begitu, hasil pada GFSI ini dapat menjadi rekomendasi positif perihal penyusunan strategi untuk menopang ketahanan nasional Pada skor indikator hasil dari riset GFSI tersebut seharusnya dapat disusun dan diidentifikasi rencana ketahanan pangan nasional baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Melihat skor indonesia yang masih masuk dalam peringkat rendah, sudah sepatutnya rencana-rencana strategis dirumuskan baik dalam hal yang memiliki keterkaitan langusng ketahanan pangan maupun tidak.

Seperti contohnya biaya riset dan pengembangan produk pertanian dan pangan indonesia masih rendah dan tertinggal dibanding negara-negara asia tenggara lainnya yang membuat variabel ketersediaan pangan di Indonesia juga tidak terlalu baik. Bersamaan dengan itu, dukungan dana besar untuk riset dan pengembangan produk pertanian sudah sepatutnya menjadi prioritas utama disamping beberapa prioritas terdepan lainnya seperti pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan, dan pengelolaan harga pangan untuk meningkatkan ketahanan pangan Indonesia. (NMY)

 

Daftar Referensi:

The Economist Intelligence Unit. 2015. Global Food Security Index 2015

Dewan Ketahanan Pangan Nasional. Global Food Security Index 2014. http://dewanketahananpangan.pertanian.go.id/berita-156-global-food-security-index-2014.html

Nur Maulana Yusuf
Nur Maulana Yusuf
Lulusan Institut Pertanian Bogor yang tertarik dengan dunia media, teknologi, serta sosial ekonomi di Indonesia. Saat ini menjadi bagian dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply