Jelajah Empat Kota Besar Dengan Street View Google Maps
Sep 30, 2014
Satu Jam Bersama: Puzzle Kehidupan Dr. Edi Sukur
Oct 6, 2014

Generasi Y Indonesia: Menduniakan Batik dengan ABCDE

Momen Hari Batik Nasional berpengaruh besar terhadap minat dan ketertarikan masyarakat dunia kepada batik. Pada tahun 2008, satu tahun sebelum ditetapkannya 02 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, ekspor batik Indonesia hanya mencapai 32 juta USD. Pada 2013 lalu, angka tersebut meningkat hingga 300 juta USD! Ekspor batik RI naik 937% dalam lima tahun terakhir.

Perubahan era informasi dan geliat kaum muda, baik secara langsung maupun tidak langsung, memiliki peran terhadap meningkatnya popularitas batik. Pola pemasaran batik yang dilakukan tidaklah berorientasi pada perspektif penjual dengan menggunakan prinsip 4P: product, price, place dan promotion. Menurut Don Tapscott dalam Grown Up Digital (Gramedia, 2013), Generasi Y tidak sekadar melakukan penawaran dalam pemasaran. Mereka memberikan ‘pengaruh’ melalui 5 kata kunci: Anyplace (A), Brand (B), Communication (C), Discovery (D)  dan Experience (E). Tapscott menyebutnya prinsip ABCDE sebagai (Prinsip) Pemasaran 2.0.

Bagaimana ABCDE bekerja dalam pemasaran batik oleh kaum muda? 

 A: ANYPLACE (Tak lagi di toko, tetapi dimanapun)

10-3-2014 4-15-19 PM

Internet telah merubah pola pemasaran. Apabila dahulu masyarakat merasa harus datang ke toko untuk membeli suatu barang dan kurang yakin apabila harus membeli sesuatu tanpa melihatnya secara langsung. Kini, banyak media yang mampu memperkenalkan produk kepada pasarannya, karena suatu produk tidak hanya bersaing di dunia fisik (marketplace) tetapi juga di duni informasi digital (marketspace).

Saat berbondong-bondong anak muda Indonesia berpose dengan batiknya dan mengunggahnya di media sosial, atau saat #IndonesiaBatikDay atau “Selamat Hari Batik Nasional” menjadi trending topic di sejumlah media sosial, maka para Generasi Y ini secara tidak sadar sedang memasarkan batik ke dunia internasional!

 

B: BRAND (Merk yang ter-redefinisi)

10-3-2014 4-32-07 PM

Merk adalah citra. Beberapa tahun yang lalu, batik merupakan kain tradisional yang tercitrakan formal dan dewasa. Penggunaan batik sangatlah segmental dan eventual. Batik biasanya dipergunakan di acara resmi, dan pemakainya adalah orang-orang tua.

Namun, anak-anak muda yang berbangga dan bersemangat untuk mempromosikan batik sebagai kekayaan budaya nasional telah merubah gambaran tersebut. Generasi internet yang dominan berusia muda telah mengambil peran aktif dalam menentukan, membentuk dan mendefinisikan kembali citra pakaian batik. Di avatar atau profil picture mereka, batik terkesan segar, muda, santai dan ceria.

 

C: COMMUNICATION (Membangun Opini Publik)

10-3-2014 4-37-29 PM

Iklan, promosi, publisitas, humas dan aspek lain yang banyak digunakan dalam memasarkan suatu produk, secara tidak langsung telah dilakukan oleh Generasi Y dalam memasarkan batik melalui internet. Opini publik yang positif mengenai batik terbangun dengan sendirinya. Bukan dengan janji-janji manis a la sales, mereka melakukannya dengan tulus, juga cerdas, dan kreatif.

Silakan tengok beberapa kreasi ucapan Selamat Hari Batik Nasional yang beredar di ranah maya. Generasi muda melakukan metode komunikasi visual dengan beragam kreasi dan melalui beragam media. Tidak hanya lewat permainan kata-kata, juga melalui permainan gambar dan warna. Cara generasi Y mempromosikan batik tentu saja tidak sama dengan bagaimana tukang obat meneriakkan dagangannya 🙂

 

D: DISCOVERY (Menemukan ‘harga’)

10-2-2014 8-25-44 PM

Menurut prinsip marketing konvensional, penjual lah yang menentukan harga. Tapi, bagi Generasi Y yang memiliki kemudahan akses dalam mengetahui seluk-beluk produk, pembeli memiliki posisi tawar tinggi untuk dapat menyepakati harga dengan penjual. Selain itu, mereka juga memiliki jaringan pertemanan yang luas sehingga dapat mengkonsultasikan kebenaran informasi (pertimbangan baik-buruk suatu produk). Hal ini disebut Discovery of Price.

Pengetahuan generasi muda terhadap seluk-beluk batik dan jaringan pertemanan luas yang mereka miliki juga bermanfaat dalam ‘menentukan harga batik’ secara implisit. Sejarah dan kekhasan Batik Indonesia di tiap daerah, perbedaan Batik Indonesia dengan batik di negara lainnya, serta pengetahuan-pengetahuan lain yang dimiliki oleh anak muda masa kini mengenai batik, ditunjang dengan pemanfaatan jaringan yang mereka miliki untuk menyebarkan pengetahuan tersebut secara luas, merupakan ‘harta karun’ yang dapat membuat batik terlihat begitu berharga di mata dunia.

E: EXPERIENCE (Pengalaman Konsumen)

10-2-2014 5-29-10 PM

Generasi Y dinobatkan sebagai Generasi dengan jejaring pertemanan paling luas. Ditunjang dengan kemajuan teknologi informasi, pertemanan mereka dapat melintasi batas negara dan benua. Dalam hubungan pertemanan, anak-anak muda ini saling memperkenalkan kekayaan budaya masing-masing.

Konsep pemasaran masa kini tidak lagi mengandalkan iklan-iklan, tetapi menawarkan pengalaman konsumen. Bahwa batik sungguhlah unik, menarik, indah, dan ‘sangat Indonesia’, bukan lagi sebuah gambaran yang dipromosikan lewat promosi semata. Jejaring yang luas mengantarkan pengalaman masyarakat di belahan dunia lain untuk turut dapat melihat, mengamati, hingga mengenakan langsung pakaian batik.

Meski tanpa disadari, perkembangan internet dan norma-norma Generasi Y turut andil dalam memasarkan batik ke dunia internasional. Walau tidak melakukan penawaran produk secara langsung, anak-anak muda Indonesia masa kini telah menerapkan prinsip pemasaran dengan memanfaatkan ‘pengaruh’ yang bisa mereka sebarkan melalui pemanfaatan teknologi.

 

 

Referensi:

Don Tapscott, Grown Up Digital, Gramedia Pustaka Utama, 2009.

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/14/09/30/ncpjpr-ekspor-batik-indonesia-naik-jadi-300-juta-dolar-as

http://www.tempo.co/read/news/2011/09/28/090358860/Ekspor-Batik-Ditargetkan-Tumbuh-20-Persen

http://www.kabarbisnis.com/read/2851068?utm_source=kabarbisnis.com&utm_medium=twitter

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya

After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO’s officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

1 Comment

  1. […] Generasi Y Indonesia: Menduniakan Batik dengan ABCDE […]

Leave a Reply