bbm jenis baru, RON BBM Indonesia, cara menentukan harga bbm
BBM Jenis Baru
Aug 6, 2015
DHL, Amazon dan Google: Mengembangkan DRONE menjadi Andalan dalam Mengantar Kiriman
Aug 11, 2015

Geliat Industri Obat Tradisional Indonesia

industri obat indonesia

industri obat indonesiaPenggunaan tumbuhan sebagai tanaman obat kini semakin diminati. Pemasaran tanaman obat di dunia pada tahun 2014 dapat mencapai nilai transaksi sebesar 60 miliar US Dolar (Marichamy dkk., 2014). Di Indonesia sendiri, permintaan tanaman obat pada tahun 2002 mencapai 10,5% dari permintaan obat nasional dan naik menjadi 12% pada tahun 2005 (Zulkarnain & Ahmad Zaki, 2007). Sementara itu, penggunaan tanaman obat di Indonesia mencapai sekitar 250 ton per minggu atau sama dengan 12.000 ton per tahun (Kadarwati & Istiqomah, 2011). USAID pada tahun 2006 menyatakan bahwa pasar internasional tanaman obat dan aromatik bertumbuh sebesar 10-15 % per tahunnya. Tingginya permintaan tersebut disebabkan oleh besarnya risiko efek samping yang mungkin ditimbulkan karena penggunaan obat sintesis.

Pasar tanaman obat di Indonesia, menurut Departemen Pertanian, terbagi atas industri obat tradisional (IOT), industri kecil obat tradisional (IKOT), dan industri farmasi. Kategori IOT dan IKOT didasarkan pada besarnya aset. IOT memiliki aset lebih dari 600 juta rupiah, sedangkan IKOT kurang dari 600 juta rupiah. Di Indonesia, ada sebanyak 118 IOT dengan besar pertumbuhan 6,4% per tahun dan 905 IKOT dengan pertumbuhan 1,8% per tahunnya. Pertumbuhan tersebut salah satunya disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Indonesia mengonsumsi jamu.

Tingginya permintaan pasokan tanaman obat sayangnya belum dapat dipenuhi oleh pasar domestik. Pusat Studi Biofarmaka IPB pada tahun 2010 melaporkan kebutuhan komoditas pegagan (Centella asiatica L. Urban), herba liar yang banyak tumbuh di pekarangan, mencapai 25 ton per tahun tetapi hanya bisa dipasok sebanyak 4 ton per tahun. Bukan hanya tanaman liar, bahkan tanaman obat yang telah berhasil dibudidayakan saja masih belum mampu memenuhi permintaan tanaman obat nasional. Hal tersebut terlihat dari data permintaan jahe merah dan jahe emprit sebesar 250 ton per minggu yang tidak dapat dipenuhi oleh pasar domestik sehingga perlu dipasok melalui impor dari Cina. Begitu pula komoditas adas dengan jumlah permintaan 2000 ton per tahun, kencur dengan jumlah permintaan 150 ton per minggu, dan mahkota dewa dengan total permintaan 1 ton per bulan. Kebutuhan ketiga komoditas tersebut belum mampu dipenuhi melalui pasar lokal kita.

Penyebab rendahnya pasokan tersebut antara lain kurangnya sarana budidaya tanaman obat secara komersial. Departemen Pertanian menyatakan bahwa kurang lebih 85% kebutuhan bahan baku untuk IOT dan IKOT masih diperoleh melalui upaya penambangan hutan dan pekarangan. Selain itu, petani juga menghadapi permasalahan terkait rendahnya mutu produk tanaman obat yang dihasilkan, rendahnya produktivitas dan harga, ketidakpastian pasar, dan lemahnya modal serta daya tawar. Rendahnya produktivitas antara lain disebabkan oleh belum diterapkannya budidaya sesuai anjuran SOP yang baku serta belum digunakannya bibit unggul.

Rantai nilai (value chain) disinyalir menjadi salah satu penyebab rendahnya harga yang diterima petani. Rantai nilai merupakan rantai kegiatan pada proses transformasi produk dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Rantai nilai tanaman obat seringkali sangat panjang, terdiri dari 6-7 tahap pemasaran mulai dari penambang dan petani, tengkulak lokal, pasar grosir regional, pasar grosir besar, dan pemasok khusus. Kebanyakan industri lebih suka membeli dari pemasok dan pedagang grosir sehingga menyebabkan gross margin (keuntungan kotor) diantara pelaku bisnis menjadi tidak merata. Penambang yang merupakan pelaku kunci justru mendapatkan margin yang rendah.

Permasalahan yang telah dipaparkan membuka mata kita, bahwa masih banyak kekurangan dalam industri tanaman obat di Indonesia. Indonesia dengan potensi sumber daya alam yang melimpah pasti mampu memenuhi permintaan pasokan bahan herbal jika ada upaya perbaikan manajemen mulai dari pemerintah sampai ke petani atau penambang. Jika sudah ada upaya seperti itu, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadikan tanaman obat sebagai komoditi utama untuk meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya masyarakat pedesaan.

Sumber : Kadarwati, N & Istiqomah. 2011. Intensif budidaya pala di kecamatan somagede kabupaten banyumas. Jurnal eko-regional, 6(2): 117 – 121

Kartika Salam Juarna
Kartika Salam Juarna

Mahasiswa tingkat akhir program studi Biologi FMIPA Universitas Indonesia.

Leave a Reply