Hakko Purice Kombucha, Kombucha dari Beras Inovasi Terkini Mahasiswa IPB
Jul 4, 2016
Belajar dari Dinamika Pemilu Filipina dengan Penggunaan Mesin PCOS
Jul 9, 2016

Geliat Gerakan Ketahanan Pangan (Bagian 2)

Memperhatikan geliat gerakan ketahanan pangan yang dijalankan oleh sejumlah organisasi, seperti yang telah dipaparkan dalam artikel Geliat Gerakan Ketahanan Pangan Lokal (1), ada beberapa poin yang patut menjadi perhatian:

Sinergisasi

petani-tidak-boleh-kayaDiperlukan sinergisasi baik antar gerakan yang dilakukan masyarakat dengan pemerintah maupun antar gerakan masyarakat itu sendiri. Gerakan yang dilakukan sejumlah organisasi tentunya dilakukan untuk mendukung kinerja pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan. Kedua elemen ini harus saling mendukung sehingga apa yang dilakukan tidak saling tumpang tindih apalagi bertentangan.

Selain itu, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tiap-tiap organisasi juga sebaiknya dilakukan secara sinergi, meski memang dalam prakteknya terdapat perbedaan namun sebenarnya memiliki tujuan yang padu. Misalnya, Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) yang mencetuskan Gerakan Pangan Lokal dengan salah satu perwujudannya ialah mendukung produksi pangan lokal dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (salah satunya dengan peamnfaatan radiasi nuklir untuk optimalisasi pertanian yang dikembangkan oleh ilmuwan MITI di Badan Tenaga Nuklir Nasional), bisa jadi bertentangan dengan program Pertanian Sehat Indonesia yang dicetuskan oleh Dompet Dhuafa.

Pertanian Sehat Indonesia adalah gerakan yang memiliki prinsip bahwa pengelolaan pertanian akan lebih baik jika dilakukan dengan cara yang alami. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti dalam hal rekayasa genetika pada benih padi maupun penggunaan pupuk-pupuk kimiawi justru dianggap bertentangan dengan gerakan ketahanan pangan yang ingin digiatkan melalui program ini.

Penyamaan persepsi

menteri-perdagangan-mau-tidak-mau-kita-harus-impor-bahan-panganPenyamaan persepsi mengenai definisi, tujuan hingga langkah yang ditempuh dalam mewujudkan ketahanan pangan sudah seharusnya dilakukan, bahkan antar pemerintah sendiri. Di Indonesia, misalnya, seringkali terdapat perbedaan persepsi dalam mewujudkan ketahanan pangan antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Perdagangan.

Kementerian Pertanian akan senantiasa mendorong upaya petani lokal dalam mencukupi kebutuhan nasional, sedangkan Kementerian Perdagangan acapkali menganggap bahwa impor pangan merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, apalagi di masa-masa sulit.

Selain itu, selama ini terdapat perbedaan persepsi mengenai tujuan akhir dari gerakan yang dilakukan, yakni antara mencapai ketahanan pangan atau kedaulatan pangan. FAO mendefinisikan ketahanan pangan sebagai ketersediaan pangan dan kemampuan untuk mengaksesnya.[1] Karena itu, ‘cara’ menyediakan pangan agar dapat diakses oleh masyarakat, apakah melalui impor sehingga harganya bisa lebih murah, misalnya, tidak terlalu dipermasalahkan.

Namun, pada umumnya, organisasi-organisasi menggunakan istilah kedaulatan pangan sebagai tujuan dari gerakan yang dijalankannya. Konsep ini sirumuskan dalam World Food Summit yang dilaksanakan pada bulan November 1996 di Roma, Italia. Kedaulatan pangan lebih mengetengahkan pemenuhan kebutuhan pangan melalui produksi lokal.[2] Dalam memperjuangkan kedaulatan pangan, pada umumnya organisasi-organisasi ini kontra terhadap subordinasi dari kekuatan pasar internasional untuk menetapkan sistem pertanian, peternakan maupun perikanan nasional.

Penekanan pada edukasi, bukan sekadar persuasi

panganlokal-jabarprov-go-idDi masa kini, ajakan untuk mewujudkan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui sejumlah media, baik media cetak maupun online. Banyak gerakan ketahanan pangan yang hanya berjalan sebagai ‘kampanye’, baik itu dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi masyarakat. Pemerintah kota Depok, misalnya, memiliki program One Day No Rice yang mengajak masyarakat untuk tidak mengkonsumsi nasi pada satu hari dalam seminggu.

Tanpa adanya edukasi kepada masyarakat mengenai urgensi mengubah pola makan yang selalu menyertakan nasi dengan alternatif lainnya, tujuan dari program ini tidak akan mampu dipahami masyarakat dan malah akan dianggap sebagai tindakan/kampanye yang janggal. Bentuk tindakan konkret yang dapat dicontoh secara luas juga merupakan hal penting lain dari gerakan ketahanan pangan melalui persuasi dan edukasi.

Isu ketahanan pangan merupakan isu global yang tidak hanya direspon oleh pemerintah, tetapi juga oleh segenap organisasi masyarakat. Memperhatikan geliat gerakan ketahanan pangan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh organisasi masyarakat, sinergisasi, penyamaan persepsi, dan penekanan pada edukasi -bukan sekadar persuasi-, merupakan tiga hal penting yang patut diperhatikan.

Footnote:

[1] Food and Agricultural Organization, “Food Security: Policy Brief” (tersedia), Juni 2006, tersedia: ftp://ftp.fao.org/es/ESA/policybriefs/pb_02.pdf, diakses pada 14 Juni 2016.

[2] Serikat Petani Indonesia, “Kedaulatan Pangan” (online), tersedia: http://www.spi.or.id/isu-utama/kedaulatan-pangan/, diakses pada 14 Juni 2016.

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya
After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO's officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply