Tak Kalah dengan Esemka di Solo, Dosen Unnes Ciptakan Mobil Pedesaan
Jun 30, 2016
NIMA: Penguji Makanan untuk Kamu yang Alergi Gluten
Jul 1, 2016

Geliat Gerakan Ketahanan Pangan (Bagian 1)

Kampanye Go Pangan Lokal MITI

Kampanye Go Pangan Lokal MITI

Kampanye Go Pangan Lokal MITI

Indeks Ketahanan Pangan Global yang dirilis pada April 2015 menunjukkan posisi Indonesia berada di peringkat 74 dari 109 negara di seluruh dunia, sedangkan di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat 6 dari 8 negara Asia Tenggara yang disurvei. Secara peringkat dibandingkan tahun 2014, Indonesia turun satu posisi dari sebelumnya berada pada peringkat 72.

Namun secara nilai naik tipis dari 46.6 menjadi 46.7. Dari segi performance status, Indonesia ada di kategori moderate (sedang). Bersama dengan tiga negara asia tenggara lainnya yaitu Vietnam, Filipina, dan Myanmar. Kategori moderate ini merupakan kategori dua terbawah setelah Best dan Good, namun masih di atas kategori negara yang tergolong dalam Needs Improvement.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga -Malaysia- yang menempati peringkat 34 dunia dengan kategori Good, Indonesia jelas masih tertinggal jauh. Malaysia unggul dalam 13 indikator sementara Indonesia hanya unggul dalam 4 indikator dengan skor yang tipis.[1]

Kondisi yang masih kurang baik ini direspon oleh pemerintah Indonesia melalui beberapa kebijakan. Dalam menangani masalah ketersediaan, pemerintah menyelenggarakan kegiatan penyediaan benih bersubsidi, pengangkatan jumlah produksi benih unggul yang bersertifikasi serta melakukan kegiatan sosialisasi perbenihan pertanian di Indonesia.[2]

Pemerintah Indonesia menggalang kerjasama secara terbuka dengan pola kemitraan dengan berbagai komponen, seperti akademisi, pebisnis, dan tentu saja organisasi-organisasi yang digerakkan oleh masyarakat. Dikatakan oleh Oktavio Ngrayasa selaku Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Deputi Bidang Perekonomian, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, semua itu bertujuan untuk memperkuat integrasi pencapaian ketahanan pangan nasional, sehingga bisa berjalan lebih efisien dan efektif disertai adanya jaminan atas ketersediaan pasokan komoditas pangan di pasar, dengan harganya yang  terjangkau serta mempunyai kualitas gizi yang baik untuk di konsumsi oleh masyarakat.

logo-gedeSeperti halnya di negara-negara lain, di Indonesia juga terdapat beberapa organisasi yang menggiatkan gerakan ketahanan pangan. Salah satunya adalah Dompet Dhuafa yang berfokus pada masalah keterjangkauan (affordability). Dompet Dhuafa, sebuah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang telah lama berkiprah dalam berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi hingga pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan tagline Indonesia Berdaya, Dompet Dhuafa berkeyakinan bahwa mereka bersama dengan seluruh jejaring yang ada dapat mempelopori kebangkitan kaum dhuafa/kaum ekonomi lemah di Indonesia. “Pihak Dompet Dhuafa meyakini bahwa Indonesia mewarisi kekayaan dan keragaman sumber daya alam hayati yang melimpah, juga kearifan peradaban nusantara yang merdeka. Dompet Dhuafa mengajak masyarakat untuk berusaha sepenuh daya upaya, memastikan tidak ada lagi kasus gizi buruk hanya karena Indonesia masih menyandarkan pangan dari bahan-bahan yang tidak dimiliki negeri ini”[3], demikian yang disampaikan oleh pihak Dompet Dhuafa.

unduhanAda pula Indonesia Bangun Desa yang berusaha mewujudkan ketahanan pangan dari sisi ketersediaan (availability). Gerakan Indonesia Bangun Desa  yang dikelola oleh Yayasan Bina Desa bertujuan untuk menghasilkan agropreneur-agropreneur muda agar mampu meningkatkan sektor pertanian di Indonesia. Gerakan ini menjawab permasalahan mengenai regenerasi petani yang memproduksi beras dan produk pangan lainnya, dengan menumbuhkan agropreneur-agropreneur muda.[4]

Qg4Ox9pR_400x400Sedangkan Edukasi Gizi merupakan salah satu organisasi di bidang literasi pangan dan gizi, menangani masalah kualitas dan keamanan pangan di Indonesia (quality and safety). Edukasi Gizi menekankan pengaruh pangan terhadap kesehatan. Dalam hal mengkampanyekan pangan lokal, Edukasi Gizi menekankan bahwa konsumsi pangan lokal jelas memberikan dampak positif, terutama dalam memberdayakan petani dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Namun, yang lebih penting lagi, pangan lokal juga dianggap memiliki keunggulan dari segi kesehatan dan gizi. Pangan lokal yang unggul adalah yang bebas dari paparan radiasi, juga pestisidan dan fungisida. Disamping itu, konsumsi pangan rumahan akan lebih baik daripada mengkonsumsi pangan dari waralaba asing, terutama yang menjual junk food. Konsumsi junk food yang berlebih, menurut Edukasi Gizi, merupakan faktor utama  terjadinya obesitas, diabetes dan penyakit jantung karena mengandung kalori, lemak, serta garam dalam jumlah besar.

Memperhatikan geliat gerakan ketahanan pangan yang dijalankan oleh sejumlah organisasi, ada beberapa poin yang patut menjadi perhatian, yang dapat disimak pada artikel Geliat Gerakan Ketahanan Pangan (2).

Footnote:

[1] Lihat: Nur Maulana Yusuf, “Global Food Security Index Indonesia Berada di Peringkat Rendah, Apa artinya?” (online), 13 Mei 2016, tersedia: http://berandainovasi.com/global-food-security-index-indonesia-berada-di-peringkat-rendah-apa-artinya/, diakses pada 30 Juni 2016.

[2] Oktavio Ngrayasa, “Tantangan Ketahanan Pangan Indonesia” (online), 17 September 2015, tersedia: http://setkab.go.id/tantangan-ketahanan-pangan-indonesia/, diakses pada 13 Juni 2016.

[3] Beranda Inovasi, “Upaya Pemberdayaan Masyarakat Demi Menggapai Kemandirian Pangan” (online), 30 Juni 2014, tersedia:  http://berandainovasi.com/upaya-pemberdayaan-masyarakat-demi-menggapai-kemandirian-pangan/, diakses pada 14 Juni 2016.

[4] S. Adi Firmansyah, “Indonesia Bangun Desa, Gerakan Melahirkan Agropreneur Muda Indonesia” (online), 24 Desember 2013, tersedia: http://www.kabardesa.com/2013/12/24/50/indonesia-bangun-desa-gerakan-melahirkan-agropreneur-muda-indonesia, diakses pada 14 Juni 2016.

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya
After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO's officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply